Sayur kelor. Sumber : @lombokkita

Apa saja kuliner di Lombok yang pernah saya coba?

Dengan mantap saya akan menjawab ayam taliwang, sate bulayak, sate tanjung, sate rembige, ares, ebatan, nasi balap puyung dan bebalung. Untuk semua makanan itu, saya acungkan jempol setinggi-tingginnya. Saya suka semua makanan khas Lombok, sangat suka.

Malam ini kita makan di Warung Kelor di daerah Pancor. Makanan rumahan khas Sasak.

Kelor?

Kelor yang seperti disebutkan dalam peribahasa itu? Kelor yang biasa digunakan untuk pengusiran makhluk halus?

Bagi masyarakat Jawa Barat, daun kelor identik dengan dunia mistik. Daun ini seringkali digunakan pada saat pengusiran jin dan penolak bala. Oleh sebab itu saya agak kaget bahwa kelor biasa dijadikan panganan utama di Lombok, juga di Makassar.

Bersumber dari Wikipedia, kelor atau merunggai (Moringa oleifera) adalah sejenis tumbuhan dari suku Moringaceae. Daun kelor berukuran kecil, bentuknya bulat menyerupai telur dan bersusun majemuk dalam satu tangkai. Bunganya berwarna putih kekuning-kuningan dan tuduh pelepah bunganya berwarna hijau. Bunga ini keluar sepanjang tahun dengan aroma bau semerbak. Sedang buah kelor berbentuk segitiga memanjang yang disebut kelentang, juga dapat dibuat sayur.

Berdasarkan referensi dari @lombokkita, yang membuat penulis merasa ketagihan makan sayur kelor adalah wangi alami yang keluar dari daun kelor (setelah direbus). Sangat menggungah selera, padahal sayur bening ini hanya diberi garam. Jadi semakin penasaran bagaimana rasa sayur kelor ini 🙂

Selain dibuat sayur, daun kelor sering dijadikan obat dan perawatan untuk kulit. Hal ini dikarenakan daun kelor memiliki kandungan vitamin, kalsium, protein dan potassium yang tinggi. Kelor disebut-sebut sebagai pohon ajaib, sebab kandungan dan manfaat yang dihasilkan pohon ini sangat banyak.

Di Lombok Timur, kita dapat menjumpai warung yang menyediakan menu sayur kelor sebagai hidangan utama. Nama warung tersebut adalah Warung Kelor yang terletak di Pancor, Lombok Timur.

Rupanya sayur kelor merupakan salah satu masakan rumahan khas suku sasak. Disajikan dengan kuah bening, cara memasak sayur kelor mirip seperti memasak sayur bayam bening. Namun sayang seribu sayang, pada saat kunjungan kami ke Warung Kelor, sayur kelor yang merupakan menu utama warung ini sudah habis. Ya, kami datang pada saat warung tersebut akan segera tutup.

Meski belum beruntung, kami tetap lahap menyantap makanan yang tersedia. Malam itu menu yang dihidangkan adalah kelak kuning, ayam goreng, tahu, ikan, udang dan sambal.

Kelak kuning terdiri dari ayam dan labu yang diberi kuah bumbu kuning. Dimasak dengan tambahan cabe hijau sehingga rasa kelak kuning ini pedas-pedas nikmat.

Kelak Kuning

Sebelum makan, jangan berani-berani langsung menyantap makanan. Sebab ada ritual wajib bagi para blogger selain berdoa, yakni foto makanannya. Hal ini menjadi penting, demi menulis di blog tercinta 🙂

Sumber : adventurose [dot] com

Perlu waktu beberapa menit untuk memotret makanan. Lepas itu, kami harus sabar sedikit sebab kami pun harus berfoto di saat makanan belum ludes dimakan.

Sumber : adventurose [dot] com

Selepas pemotretan, waktu yang dinantikan pun tiba. Makan-makan! Rasanya nikmat sekali setelah menyusuri kawasan gili di Lombok Timur, kami menikmati makanan yang rasanya pedas-pedas nikmat. Memang ya, Lombok selalu juara dalam urusan makanan.

Perut sudah kenyang dan saatnya bagi kami untuk beristirahat. Meski begitu, saya masih saja penasaran. Seperti apakah rasa sayur kelor yang terkenal itu? Demi menjawab pertanyaan tersebut, agaknya saya harus kembali lagi ke Lombok Timur.

Siapa tahu ada kesempatan lagi.

Tak ada yang tahu, bukan? 🙂

Warung Kelor 
Jl. K.H. Ahmad Dahlan, Pancor, Lombok Timur

***
Tulisan ini merupakan catatan perjalanan Travel Writers Gathering 2015 bersama Badan Promosi Pariwisata Daerah Nusa Tenggara Barat. Tulisan lain terdapat di tags ‘TW Gathering 2015’.

You might also enjoy:

0 Comments

  1. Aaahh.. rasanya pengen balik ke Lombok. Kulinernya enak-enak ya.. Apalagi yang kita makan kemaren itu bener-bener kuliner rumahan. Bumbu sederhana tapi rasanya juara! Sambelnya enak, sampe bikin aku nambah looh…

  2. Wah, pada asyik foto-foto dulu nih sebelum makan 😀
    Hihihih, ternyata naluri blogger emang gitu yak! Saya juga kalau lihat apa-apa kok bayangannya bisa jadi postingan di blog gitu. Hihihi

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *