Dua garis biru menjadi kejutan indah di awal kedatangan saya di negeri matahari. Saya merasa sangat dihargai dan dirawat dengan baik selama hamil dan melahirkan di sini. Ada banyak cerita baik yang ingin saya bagi. Tentang bagaimana perhatian khusus pemerintah Jepang terhadap ibu hamil, hingga perawatan pra dan pasca melahirkan gratis. Untuk itulah saya menuliskan ini sebagai berita baik pada kawan di sini. Semoga suatu saat nanti, kualitas kesehatan dan perhatian pemerintah Indonesia pada ibu hamil dan melahirkan bisa lebih baik dibanding saat ini.


Musim panas 2019 menjadi awal petualangan saya di negeri sakura. Ini adalah kali kedua saya merasakan musim panas di Jepang. Kedatangan kali ini terasa berbeda, sebab saya akan stay lama di Jepang dan berstatus sebagai resident.

Dua tahun lalu, saat berstatus visitor, saya mengandung anak pertama. Pemeriksaan kehamilan pertama itu saya lakukan di Jepang. Hanya saja semua biaya pemeriksaan tersebut ditanggung secara swadaya, sebab saya belum memiliki zairyu kado (KTP Jepang) yang merupakan prasyarat bagi suami mengajukan asuransi bagi saya.

Saya ingat, biaya sekali USG saat itu senilai 9.800 yen atau hampir 1.3 juta rupiah. Luar biasa mahalnya! Meski saya tahu hidup di Jepang memang begitu adanya, tetap saja saya terkejut saat mengetahui jumlah nominal yang harus kami keluarkan. Maka daripada itu, memiliki asuransi di Jepang adalah sebuah keharusan.

Hamil di Jepang Itu, Bagaimana?

Merasakan lagi musim panas di Jepang ternyata tidak membuat saya cukup mampu beradaptasi. Cuaca yang panas serta kelembaban yang tinggi sungguh buat tak nyaman, terlebih ada rasa mual yang saya rasa. Saat itu saya langsung ngeh, mungkin saya hamil karena haid pun tak kunjung tiba. Segera, saya mengecek kehamilan dengan menggunakan test pack atau bahasa Jepangnya ninshin kensa-yaku (妊娠検査薬). Benar saja, dua garis biru muncul di alat pendeteksi kehamilan itu.

Sejatinya, saya harus segera mendatangi klinik obgyn atau sanfujinka (産婦人科) dan meregistrasikan status kehamilan ke kuyakusho (kantor kecamatan) sesaat setelah tes kehamilan. Hanya saja saya masih menunggu zairyu kado untuk registrasi asuransi selama di Jepang. Maka itu saya baru bisa mendatangi dokter saat usia kehamilan menginjak 26 minggu atau 4 bulan.

Sempat diingatkan oleh teman bahwa periksa kehamilan itu harus segera dan jangan tunggu asuransi. Katanya lebih baik bayar sendiri dulu daripada tidak dapat RS untuk melahirkan karena bisa jadi sulit untuk yoyaku (resevasi) RS saat usia kehamilan tua. Alasannya, dokter obgyn di sini tidak mau mengambil resiko mengingat tidak ada rekam medis saat usia kandungan masih muda. Toh pemeriksaan pertama memang memakai uang sendiri sebab belum ada voucher dari pemerintah.

Meski dirasa telat, syukurlah ada klinik obgyn yang bersedia menerima saya. Kunjungan pertama kali ke dokter ini (初診/shoshin) untuk memastikan saya memang positif hamil. Setelah itu, saya baru bisa ke kuyakusho dan mendapat subsidi dari pemerintah Jepang.

Sebelum diperiksa, ada formulir (dalam bahasa Inggris) yang harus saya isi terkait status kesehatan dan kehamilan. Di poin terakhir, ada pertanyaan terkait kesediaan saya membawa interpreter saat pemeriksaan selanjutnya. Itu artinya tidak semua informasi bisa disampaikan dengan Eigo (bahasa Inggris). Maka menjadi keharusan untuk suami menemani saya saat kontrol kehamilan karena beliau fasih Nihongo (bahasa Jepang).

“Akachan wa genki desu”, ujar sensei.

Syukurlah bayi saya sehat. Sensei (dokter) juga mengatakan bahwa bayinya mungkin laki-laki. Uniknya, meski saya mengajaknya berbicara dalam Eigo, beliau tetap saja menjawabnya dengan Nihongo. Barangkali karena ada suami saya. Dari situ saya tau bahwa Nihonjin (orang Jepang) really loves Nihongo.

Sensei kemudian menyerahkan selembar kertas berisi data kehamilan saya atau ninshin shomei-sho (妊娠証明書) untuk diserahkan ke kuyakusho (kecamatan) / shiyakusho (kantor kabupaten/kota). Setelah nanti dari kuyakusho, barulah saya bisa yoyaku rumah sakit tempat melahirkan dan menerima ragam privilege selama hamil di Jepang.

Di tahap inilah saya merasa takjub pada kepedulian pemerintah Jepang pada ibu hamil, dari mulai dukungan psikis hingga materi. Maka untuk beberapa alinea ke depan, siapkan diri kalian untuk membaca serunya hamil di Jepang ya 🙂

10 Keistimewaan Hamil di Jepang

Setelah melaporkan status kehamilan di kuyakusho, saya diberi penyuluhan mengenai prosedur hamil dan melahirkan di Jepang. Lengkap! Saya sampai geleng-geleng betapa seriusnya pemerintah Jepang membentuk support system untuk ibu hamil. Barangkali ini adalah cara pemerintah Jepang mendorong rakyatnya untuk mau memiliki keturunan. Kalau sekeren ini perlakuannya, saya mau lagi punya anak selama di Jepang 😁

Lalu, apa sajakah 7 keistimewaan hamil di Jepang itu?

1. Dukungan mental

Setibanya di kuyakusho, saya menuju loket khusus maternity. Di sana, saya menyerahkan surat keterangan hamil dan mendengarkan penyuluhan dari pihak kuyakusho. Semua penjelasan dengan Nihongo, jadi suami yang menerjemahkan. Namun untuk formulir yang perlu diisi, ada formulir dalam bahasa Inggris sehingga lebih memudahkan saya.

“Apakah ada yang menemani kamu setelah melahirkan?”

Pertanyaan dalam formulir di kuyakusho itu membuat saya takjub. Tak hanya menyoal fisik dan aktivitas saat dan setelah melahirkan, rupanya persoalan mental ibu hamil pun jadi main concern di sini. Rupa-rupa pertanyaan seperti kondisi anak pertama, rumah, keuangan dan pekerjaan pasca melahirkan dituliskan dengan lengkap supaya pihak kuyakusho bisa memberi solusi terkait kecemasan saya. Saya sendiri memikirkan kondisi saya dan anak pertama saat nanti adik bayi lahir, terlebih saat suami kerja.⁣⁣

“Lalu, rumah Anda ada di lantai berapa?”

Setelah membaca formulir yang saya isi, petugas mulai mewawancarai saya secara lisan. Rumah saya ada di lantai 4 dan tidak ada erebeta (lift). Saya heran, untuk apa petugas sampai bertanya tentang rumah. Rupanya pertanyaan ini membawa saya pada pertanyaan lain terkait kondisi mental saya.

“Apakah kamu bisa mendatangkan orang tua ke Jepang? Kamu pasti akan kesulitan mengurus dua anak selama tidak ada suami. Anak pertamamu pasti ingin selalu bermain, bukan? Kamu akan kewalahan harus naik turun tangga sedemikian rupa.”

Masyaallah, sedetail itu. Saya belum tahu apakah orang tua bisa datang ke Jepang untuk menemani saya atau tidak. Maka saya menawar, kalau anak pertama saya dititipkan ke teman selama saya dirawat bagaimana?

“Tomodachi? No! Lebih nyaman anakmu dirawat oleh keluarga sendiri.”

Saya mengangguk. Agaknya urusan ini sangat vital bagi kesehatan mental saya. Suami lalu menjawab akan berusaha mendatangkan orang tua ke Jepang. Jika memang betul-betul tidak bisa, pihak kuyakusho memberikan informasi jasa ART yang bisa disewa harian untuk membantu membersihkan rumah dan menanak nasi (masak dan merawat anak tidak termasuk). Ini anjuran dengan sedikit paksaan, namun tentu baik untuk kesehatan mental saya.

2. Hak keamanan

⁣⁣Masih di kuyakusho, saya diberikan gantungan kunci (pregnancy badge) yang bisa digantung di tas selama saya naik transportasi umum. Dengan begitu, saya dapat dengan mudah mendapat kursi prioritas.⁣⁣

Meski tidak selalu mendapatkan priority seat saat naik densha (kereta) terlebih di jam kerja, menggantungkan pin hamil di tas membuat rasa gembira di hati. Setiap kali bertemu orang yang baru dikenal atau baru bertemu lagi, mereka pasti langsung ngeh saya hamil karena ada gantungan kunci tersebut di tas saya.

3. Dukungan finansial

Pemeriksaan kehamilan di Jepang tidak gratis, namun pemerintah menyediakan kupon pemeriksaan kehamilan (妊婦一般健康審査受診票/ninpu ippan kenko shinsa jushin hyo) berupa potongan harga dari 4.700 yen hingga 12.000 yen. Setiap kupon hanya berlaku untuk satu kali pemeriksaan. Sebagai gambaran : kontrol kehamilan paling mahal yang pernah saya alami sejumlah 20.000 yen lebih, maka yang digunakan adalah kupon 12.000 dan sisanya bayar sendiri. Sedang kontrol kehamilan paling murah adalah 5000 yen, jadi yang digunakan adalah kupon 4700 yen dan sisanya dibayar sendiri.

Buku kupon pemeriksaan
Satu dari banyaknya kupon pemeriksaan

Selain itu, pemerintah juga memberikan subsidi melahirkan one time lumpsum for delivery (shussan ikuji ichijikin/出産育児一時金) sebesar 420.000 yen atau sekitar 55 juta rupiah. Nampak besar ya? Tunggu dulu, biaya persalinan di Jepang memang aduhai. Untuk persalinan normal saja bisa mencapai 500.000-550.000 yen, bahkan ada yg sampai 700.000 yen.

Seluruh kupon tersebut disatukan dalam satu buku dan harus dibawa setiap kali kontrol kehamilan. Tak hanya berisi kupon pemeriksaan kehamilan, ada pula kupon untuk bayi (乳幼児健康審査受診券/nyuyoji kenko shinsa jushin ken) dan ibu pasca melahirkan.

Sebagai tambahan, saya mendapat pula kupon diskon belanja di Belle Maison sebesar 2000 yen. Lumayan untuk membeli baju adik bayi nanti 😁

4. Kontrol gratis selama dan pasca melahirkan

Meski kontrol kehamilan tidak seratus persen gratis, ada beberapa pemeriksaan yang tidak membebankan biaya sama sekali alias gratis. Pemeriksaan itu adalah pemeriksaan gigi pada ibu selama hamil, pemeriksaan pendengaran bayi, pemeriksaan transvaginal sebulan setelah melahirkan, dan pemeriksaan bayi pada usia 1 bulan.

5. Mendapat buku kesehatan ibu dan anak

Selain kupon dan pin hamil, pihak kuyakusho pun memberikan Mother and Child Health Handbook (母子健康手帳/boshi kenko techo) atau buku catatan kesehatan ibu dan anak. Buku ini berisi record kehamilan ibu sejak trimester pertama, setelah melahirkan, hingga kondisi kesehatan anak sampai 6 tahun. Untuk lebih jelasnya, saya tulis mengenai Boshitecho ini di postingan selanjutnya ya.

Menurut saya, pembukuan catatan kesehatan ibu dan anak ini penting sekali dan memudahkan untuk pemeriksaan lanjutan. Di Indonesia, catatan kesehatan anak sudah ada yakni KMS. Namun untuk rekam medis ibu rasanya belum banyak yang menyediakan.

Beserta dengan buku kupon tadi, Boshitecho harus selalu dibawa ketika kontrol kehamilan, anak vaksin dan berobat.

6. Perawatan pasca melahirkan

Setiap ibu yang melahirkan di Jepang harus dirawat di RS selama 4-5 hari pasca persalinan normal dan 9-10 hari pasca persalinan sectio caesar. Ini sudah ketentuan dan berlaku di setiap rumah sakit di Jepang. Beda dengan di Indonesia, yang mana ibu melahirkan bisa langsung pulang ke rumah atau dirawat sebentar saja. Privilege ini sangat bagus karena ibu bisa istirahat dan dirawat dengan baik, begitupun dengan adik bayi.

Ada banyak tes dan penyuluhan yang dilakukan selama rawat inap, seperti cek rahim dengan USG transvaginal, pemeriksaan kuning dan pendengaran pada bayi, pendampingan menyusui, pengukuran suhu dan denyut jantung ibu dan bayi, serta monitoring pemberian ASI, kencing dan berak bayi secara berkala.

Selama 5 hari itu, RS menghendaki bayi selalu bersama ibu atau disebut kangaroo care. Sejak 2 jam setelah melahirkan, bayi selalu bersama dengan ibunya hingga rawat inap berakhir. Saya cukup terkejut karena sepengetahuan saya, bayi di Indonesia ditempatkan di inkubator dalam ruang bayi sementara waktu, setelah itu baru diberikan pada ibunya. Jika di RS Rosai ini, default-nya ibu dan bayi selalu bersatu dengan tujuan agar bayi mudah mendapat ASI dan dirawat ibunya sejak dini. Jika ingin berpisah dulu sementara agar ibu bisa istirahat dengan baik, ibu bisa meminta hal tersebut pada suster.

7. Kemudahan alih bahasa

Bagi saya yg tidak bisa Nihongo, pihak RS Rosai (tempat saya melahirkan) menyediakan formulir dalam ragam bahasa (salah satunya bahasa Indonesia) saat kedatangan pertama ke RS. Namun untuk sesi konsutasi dan pemeriksaan, bahasa yang digunakan tetap Nihongo. Jadi jika hanya mau mengandalkan bahasa Inggris atu Indonesia, tetap harus bawa penerjemah bahasa Jepang yang bisa mendampingi.

Untuk memudahkan orang asing yang akan melahirkan di Jepang, RS menyediakan jasa sewa interpreter yang bisa direservasi di bagian social worker. Saya pernah sekali menyewa jasa interpreter Nihongo ke Eigo (bahasa Inggris) saat suami tidak bisa menemani saya di sesi persiapan bersalin dengan bidan. Harga sewanya cukup terjangkau.

Selain itu, saya juga dibekali kertas berisi percakapan dalam bahasa Jepang yang bisa saya gunakan saat memesan Jintsu Taxi, menelepon RS dan saat di ruang bersalin nanti.⁣⁣ Intinya saya sangat terbantu sekali dengan jasa sewa penerjemah ini.

Percakapan dalam nihongo <br>untuk menelpon RS dan jintsu taxi
Percakapan dalam nihongo <br>saat di ruang bersalin

8. Penyuluhan (pre mama orientation)

RS Rosai menyediakan pre-mama orientation (プレママオリエンテーション) sebanyak 2 kali. Orientasi pertama lebih menjelaskan terkait prosedur reservasi kamar, denah ruangan bersalin, nomor darurat, dan preferensi makanan selama dirawat selama 5 hari. Sedang orientasi kedua menerangkan hal teknis seperti tanda-tanda melahirkan, ASI (bonyuu 母乳). aturan ketika melahirkan, barang-barang pribadi yang dibawa ke RS, barang-barang yang disediakan RS, jadwal, dan aturan membesuk (menkai 面会).

Pada orientasi pertama ini saya ditemani suami, jadi beliau yang menerjemahkan. Barulah di orientasi kedua saya menyewa jasa interpreter Nihongo-Eigo.

9. Ada taxi khusus melahirkan

Jepang memiliki Jintsu Taxi yakni taxi khusus untuk membawa ibu yang akan melahirkan ke rumah sakit. Bedanya dgn taxi biasa, kapasitas mobil Jintsu Taxi ini lebih luas, kursinya diberi alas, dan supirnya dilatih khusus jika ada masalah saat perjalanan ke rumah sakit. Saya memakai taxi ini, keren!

Sebagai catatan, memesan jintsu taxi ini sebaiknya dari jauh-jauh hari karena mereka harus menyimpan data ibu berupa nama, tanggal prediksi lahir, alamat rumah, rumah sakit, dan nomer telepon yang bisa dihubungi. Jadi saat nanti ibu menelpon jintsu taxi, nomer ibu bisa langsung dilacak oleh mereka, dan driver di lokasi terdekat bisa langsung menuju ke rumah untuk menjemput ibu pergi ke rumah sakit yang dituju.

Terkait harga, menurut saya tidak begitu mahal dan hanya selisih sedikit dengan taxi biasa. Perjalanan dengan jintsu taxi di malam hari lebih mahal dibanding di siang hari. Sebagai gambaran, saya harus membayar 2800 yen karena menggunakan jntsu taxi di malam hari. Sedang bila menggunakan taxi biasa, harganya sekitar 1800 yen.

10. Pelayanan khusus untuk muslim

Poin terakhir ini adalah pamungkas dari 10 keistimewaan hamil di Jepang. Pada sesi penyuluhan dengan bidan di RS Rosai, saya ditanya beberapa hal mengenai hal apa saja yang saya dibutuhkan selama dirawat 5 hari dalam perspektif agama. Pertanyaan tersebut adalah :

  1. Makanan apa yang haram untukmu⁣⁣?
  2. Apakah kamu membutuhkan karpet untuk ibadah⁣⁣?
  3. Apakah kamu akan tetap mengenakan penutup kepala saat melahirkan⁣⁣?
  4. Apakah kamu ingin ditangani oleh dokter perempuan⁣⁣?

⁣⁣Saya kaget sekaligus merasa sangat dihargai sebagai seorang muslim. Sebetulnya saya sudah menyiapkan pertanyaan-pertanyaan itu, tapi ternyata pihak RS bertanya terlebih dahulu pada saya. Masyaallah.

Insyaallah makanan yang saya makan halal karena tidak mengandung daging ayam atau daging sapi yang tidak disembelih dengan cara islami, daging babi, sake, gelatin dan emulsifier non halal. Saya meminta menu yang disajikan adalah ikan, telur, sayur yang dibumbui dengan garam, susu dan buah-buahan,

Itulah 10 keistimewaan hamil di Jepang yang saya rasakan. Dukungan psikis dan materi bagi ibu hamil di sini luar biasa mengesesankan. Saya merasa perlakuan pemerintah dan pihak RS begitu islami, padahal saya hidup di negara minoritas muslim. Semoga suatu saat nanti Indonesia bisa mengikuti hal baik yang dimiliki olah Jepang ini.

Menurut teman-teman, keren tidak hamil di Jepang? 🙂

You might also enjoy:

35 Comments

  1. Masya Allah, sampai terhru saya membacanya, Mbak. Sebegitu luar biasa ya perhatian Jepang kepada ibu hamil. Poin terakhir itu sampai berkaca-kaca saya membacanya lha di Indonesia sendiri kadang diributkan lho mau dokter laki atau perempuan, ibu yang melahirkan sulit menentukan sendiri malah ada yang diledek begitu pun tetap memakai jilbab kadang harus keukeuh banget.

    Kalo room ini, saya lahiran anak pertama 2001 di Riau, anak ke-2 dan ke-3 di Makassar, sudah room ini, kok, bayi sama ibunya terus.

    Terima kasih sudah berbagi, Mbak. Senang dengan kisah ini. Sehat selalu ya sama debay dan keluarga.

  2. Semua temen2 yang pernah ke Jepang selalu menceritakan hal-hal yg baik da luar biasa dari Jepang. Semuanya menarik. Cuma satu aja kurangnya, biaya hidup yg lumayan besar, bagi turis kali ya hehe

  3. Maaf kak, kebetulan saat ini saya sedang ikut suami study di jepang. Apakah saat mengajukan zairyuu cado posisi kakak juga di jepang? Atau harus kembali ke indonesia terlebih dahulu? Mohon bimbingannya

  4. Masya Allah, setiap kenalan yang balik dari Jepang, selalu bercerita tentang kebaikan warga dan pemerintah sana. Ponakan ku yang tahun kemarin baru lulus juga cerita mendapatkan orang tua baru selama di Fukuoka. Kayak orang tua sendiri hubungan nya, sampai mau pulang aja masih ditemenin di bandara nya

  5. waa selamat yaa atas kelahiran anaknyaa hihihi, jepang salah satu negara yang pengen banget aku kunjungiii, selalu dibuat kagum dengan merekaa

  6. Wah menyenangkan sekali perhatian pemerintah terhadap bumil ya Teh Zahra… Salfok sama foto dirimu, kok wajahnya semakin Jepang begitu hahaha….. Sehat terus ya Teh…semoga bahagia selalu mengurusi keluarga dengan dua buah hatinya…

  7. MasyaaaAllah
    Senengny ketemu tetangga beda prefektur
    Selamat y mbaaa
    Istimewa sekali pasti y mbaa bisa hamil n lahiran d sini
    Sedang yg gak hamil aja dpt keistimewaan, apalagi yg hamil
    MasyaaAllah
    Mengingat d sini jumlah anak2ny dikit jd ibu hamil bener2 dimanjain y

    1. Alhamdulillah, salam kenal ya mba. Mba di perfektur apa?
      Iya betul karena orang Jepang lebih senang pelihara anjing, dan untuk mendongkrak jumlah penduduknya, jadi pemerintah manjain banget para wanita supaya mau punya anak hehe.

  8. MasyaAllah, hamil di Jepang sangat diperhatikan banget. Point terakhir itu yang paling luar biasa.
    Semoga negara kita suatu hari kelak bisa meniru sistem ini.

    1. Aamiin, itu tujuan utama saya menulis ini. Semoga banyak yang baca dan sampai ke pemangku kebijakan. Meski pasti pemerintah juga sudah study banding tapi setidaknya kalau ada aspirasi langsung dari WNI yang di sini, mudah-mudahan memantapkan hati pihak terkait supaya pelayanan kepada ibu hamil di Indonesia semakin baik lagi.

  9. MashaAllah..
    Salut banget, kak Zahra.
    Semoga lekas sehat-sehat yaa…ibu dan adik beibinya.
    Senang sekali membaca btapa Jepang sangat menghargai Ibu hamil. Semoga Indonesia bisa meniru, minimal prioritas di tempat umum yaa..

  10. Masya Allah Neng Zahra Alhamdulillah ya kehamilannya sangat diperhatikan pemerintah Jepang. Terlebih mental ibu setelah melahirkan ya. Seandainya di kita juga seperti ini mungkin gejala baby blues dan PDP akan berkurang.

  11. Sy jg diceritain kakak sy yg melahirkan DI Jepang juga gitu. Semuanya sudah well prepared oleh RS. Info2 penting seputar ngurus bayi jg disampaikan pas masih hamil jadi pas udah lahiran udah tau harus ngapain… Harus gimana… Beda banget sama disini 🙁 kalo kita gak nyari tau sendiri, kayaknya kecil kemungkinan bakal diberi penyuluhan sama provider

  12. Dari ustadz Hanan oula aku dapat cerita bagaimana luar biasanya Jepang. Tapi, dari sisi yang lain. Eh, ini dapat cerita lagi tapi dari sisi ibu hamil, melahirkan, dan menyusui. Memng kelewat sempurna.

    Ngomong-ngomong soal di Indonesia, sebenarnya, di Indonesia tuh ya ada penyuluhan bagi ibu hamil kayak gitu ya, Mbak, kalau di desa, cuman ya itu tadi, serba nanggung penyuluhannya. Dilakukan kurang maksimal.

  13. Wah maa syaa Allaah dimudahkan banget ya proses hamil dan melahirkan di Jepang. Duh kalau kayak gitu saya juga berasa pengen bisa menjalani kehamilan dan melahirkan di sana haha pasti nyaman sekali ya Mbak. Yah semoga ke depannya pemerintah Indonesia juga bisa memberikan perlakuan serupa untuk ibu hamil di sini

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *