Pertengahan Juni 2020

Seharian itu, saya kewalahan menghadapi anak-anak. Putera pertama saya tak henti merajuk, sedang putera bungsu saya terus saja menangis. Ia tidak mau minum ASI, digendong pun berontak. Keadaan ini terus berlangsung hingga malam hari, sampai pada akhirnya ponsel saya terus berdering. Ada apa ini?

Saya hiraukan panggilan itu selama beberapa menit, sebab khawatir adik bayi yang sedang digendong terbangun. Namun saat ada pesan dari ibu, saya tahu ada sesuatu yang tidak beres.

“Teh, rumah kebakaran…”

Seketika itu, lutut saya lemas. Saya kemudian jatuh dan tak kuat lagi menggendong adik bayi yang tangisannya semakin nyaring. Oh Allah, apakah karena kebakaran ini yang membuat anak-anak gelisah seharian?

“Baba, tolooong…”

Suami terbangun dan langsung menggendong adik bayi. Dengan matanya yang setengah terbuka, ia bertanya ada apa. Saya menjawabnya dengan suara pilu sembari membuat panggilan video call kepada ibu dengan tangan bergetar.

“Maafin ibu teh, semuanya habis…”

Saya terpejam dan tak mampu berkata apa-apa. Masih dengan terisak-isak, ibu terus meminta maaf. Ibu tidak salah, jawab saya. Andai saya ada di sisi ibu, saya ingin memeluk dan menenangkannya. Namun apa daya, jarak Yokohama-Bandung ini terasa amat mengiris hati.

Adik saya lantas mengarahkan kamera ke arah luapan api. Seketika itu tangisan saya pecah. Rumah masa kecil, tempat dimana saya dibesarkan, telah musnah dilalap api. Rumah yang dibangun tahun 1938 dengan susunan kayu, tembok dan bilik itu, kini hanya menyisakan debu dan puing-puing. Teriris hati saya mengingat semua kenangan yg saya semai di dalamnya. Canda, tawa, sedih, kecewa. Rumah itu menyaksikan segalanya. Delapan puluh dua tahun, ia tetap kokoh adanya.⁣ ⁣

Rumah penuh sejarah, penuh kenangan.

Meski segalanya telah rata dengan tanah, saya sangat bersyukur bahwa ibu dan adik-adik saya selamat. Tak hanya itu, musibah kebakaran ini jadi bukti kuasa Allah yang nyata. Mushaf Al-Qur’an yang biasa ibu baca, juga mushaf lainnya, tetap utuh meski dikelilingi api. Pun begitu dengan kaligrafi yang tergantung di dinding bilik, serta album foto yang agaknya api enggan melahapnya.

“Kita di sini mulai dari nol lagi, teh.”

Adik saya, yang kini menjadi penanggung jawab keluarga, bekerja keras untuk membuat kondisi keluarga menjadi normal kembali. Dari mulai mengurus berkas, perlengkapan sekolah, pakaian, hingga tempat tinggal.

Hidup pasca kebakaran

Meski terasa menyedihkan, musibah kebakaran ini menyadarkan saya pada jaring kebaikan dari teman, saudara dan juga kerabat. Dukungan berupa materi dan psikis begitu terasa bahkan hingga hari ini. Tak hanya di Indonesia, sumbangan berupa materi pun digalang oleh teman-teman di Jepang. Masyaallah.

Selama sebulan pasca kebakaran, ibu dan adik-adik tinggal di rumah saudara. Selama itu pula, ibu mengurus berkas-berkas, juga mencari rumah untuk tempat tinggal. Sebab tidak mungkin bagi ibu dan adik-adik untuk terus menumpang di rumah saudara.

Sejatinya, saya dulu pernah berinvestasi rumah di kota Bandung. Jika saja rumah itu tidak dijual, ibu dan adik-adik bisa tinggal di sana. Namun karena berhenti bekerja, saya harus menjual aset tersebut sebab biaya angsurannya yang menguras kantong.

Membangun kembali rumah pasca kebakaran adalah opsi yang tidak mungkin saat ini. Biaya pembangunan pasti mahal sekali, belum dengan jangka waktu pembuatannya yang lama. Efek trauma jangan ketinggalan, itu pasti tetap ada. Untuk itulah adik saya terus mencari rumah murah untuk keluarga.

Ternyata, mencari rumah dengan budget minimal bukanlah perkara mudah. Ada yang murah, namun letaknya di dalam gang, jauh dari kerumunan, area langganan banjir, atau lembab karena tidak terkena sinar matahari. Demi kesehatan ibu, adik saya terus mencari rumah yang murah dan sehat, yakni rumah yang bagus sirkulasi udara, sinar matahari dan airnya. Setelah pencarian kurang lebih 2 minggu, pencarian itu membuahkan hasil.

“Teh, ada rumah teman ade yang dijual. Rumahnya rumah subsidi, jadi pas dengan budget kita sekarang.”

Fabi ayyi aalaaa i rabbikumaa tukadzibaan! Allah telah mempermudah urusan kami. Seperti janji-Nya yang termaktub dalam surah Al-Insyirah bahwa setelah kesulitan pasti ada kemudahan. Dengan nominal uang yang ibu miliki saat ini, ibu bisa membeli rumah subsidi di kawasan yang strategis.

Beruntungnya ibu dan adik-adik, di masa-masa sulit ini bisa menemukan rumah yang nyaman dan ramah di kantong. Alhamdulillah.

Sejuta Rumah Bagi Rakyat Indonesia

Program rumah subsidi belum saya ketahui saat pertama kali membeli rumah pada tahun 2014. Dengan gaji dan bonus yang didapat, saya nekat mengambil KPR syariah di salah satu perumahan di Bandung. Nominal DP dan angsuran bulanan sungguh mencekik. Jika saja dalam sebulan saya tidak mendapat bonus, siap-siap saja kebutuhan pangan harian harus diperkecil karena sebagian besar gaji diarahkan untuk membayar angsuran.

Untung saja keadaan seperti itu tidak terjadi lagi sejak Presiden Joko Widodo mencanangkan program rumah subsidi bagi Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR). Kaum milenial yang baru bekerja, bisa langsung mengajukan KPR Subsidi dengan syarat batasan penghasilan senilai Rp. 4.000.000 dan bahkan peraturan terbaru merelaksasi batasan penghasilan hingga Rp. 8.000.000.

Program rumah subsidi merupakan bagian dari program strategis nasional Kabinet Kerja yakni Program Satu Juta Rumah yang disahkan sejak 29 April 2015. Program yang dilakukan oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) ini, diharapkan mampu mewujudkan rumah yang layak huni bagi seluruh rakyat, membuka lapangan pekerjaan, serta membawa investasi bagi daerah.

Dalam penatalaksanaan program ini, pemerintah menggandeng para pemangku kepentingan di sektor perumahan, baik itu pengembang perumahan yang tergabung dalam berbagai asosiasi pengembang, perbankan, sektor swasta melalui corporate social responsibility, serta masyarakat dan pemerintah daerah.

Program Satu Juta Rumah ini dibagi menjadi dua bagian, yakni pembangunan rumah subsidi bagi MBR yang ditargetkan sekitar 70 persen dari 1 juta uni per tahun, dan rumah non subsidi atau rumah komersial bagi non MBR yang ditargetkan sekitar 30 persen dari target. Dari tahun ke tahun, pencapaian program ini terus mengalami kenaikan bahkan mampu melampaui target di tahun 2018 dan 2019.

Di tahun 2020 ini, pemerintah merelaksasi sejumlah kebijakan rumah subsidi yang tertuang dalam Keputusan Menteri PUPR No. 242/KPTS/M/2020 tentang Batasan Penghasilan Kelompok Sasaran, Besaran Suku Bunga, Lama Masa Subsidi, dan Jangka Waktu Kredit Pemilikan KPR Bersubsidi. Aturan ini diterbitkan pada 24 Maret 2020 dan mulai berlaku sejak 1 April 2020.

Sebelumnya, pemerintah menghapus aturan SSB pada skema KPR subsidi di awal 2020. Namun dengan adanya pandemi COVID-19, salah satu upaya penanggulangan pemerintah adalah dengan menerbitkan kembali SSB skema baru. Dengan peraturan baru ini, MBR dapat tetap memilih tenor KPR hingga 20 tahun, namun hanya mendapat subsidi bunga selama 10 tahun saja.

Selain pemberian stimulus berupa subsidi, pemerintah pun mencanangkan program Tabungan Perumahan Rakyat (Tapera) pada 20 Mei 2020. Program yang tercantum dalam PP Nomor 25 Tahun 2020 ini, memberikan kemudahan bagi masyarakat yang ingin menabung untuk membeli rumah. Tidak hanya pegawai pemerintahan, pihak swasta juga bisa menjadi anggota Tapera dengan syarat pengasilan sudah di atas UMR. Besar tarikan per bulannya pun hanya sekitar 3 persen dari penghasilan per bulan.

Ragam jenis bantuan pemerintah di bidang perumahan ini, merupakan komitmen pemerintah demi terwujudnya hunian yang layak bagi masyarakat. Ibu dan adik-adik saya sudah merasakannya. Mengambil rumah subsidi tipe 30/60 dengan uang muka rendah dan cicilan hanya Rp. 800.000 per bulan. Tapi jangan salah, kualitas bangunannya berkualitas pula sebab pemerintah pun fokus pada penyediaan material yang baik untuk pembangunan rumah,

Akhirnya, Inilah Rumah Impian Itu

Meski mungil, rumah baru ibu memiliki banyak kelebihan dibanding rumah lama. Cahaya matahari, sirkulasi udara, juga lingkungan yang jauh dari polusi, menjadi kebaikan yang ibu rasakan setiap hari. Tak hanya itu, lingkungan perumahan yang hangat membuat ibu sering disapa oleh tetangga. Saya jadi tidak khawatir bila ibu sendirian di rumah, sebab banyak tetangga yang insyaallah memperhatikan ibu.

Kesehatan fisik dan mental ibu, itulah yang utama. Di rumah ini, insyaallah ibu lebih sehat. Maka jelas sudah, inilah rumah impian ibu, tempat ibu berkegiatan, beristirahat dan bermain dengan cucu. Tak sabar rasanya ingin segera pulang ke Indonesia dan merawat rumah ibu 🙂

Melalui tulisan ini, saya mewakili keluarga berterima kasih pada seluruh keluarga dan sahabat yang telah membantu ibu bangkit dari musibah. Pun begitu kepada pemerintah, dalam hal ini Kementrian PUPR, yang telah mencanangkan program stimulus bagi MBR, kaum milenial, juga masyarakat yang tertimpa musibah seperti kami. Adalah kuasa Allah yang memudahkan ibu mendapatkan rumah murah di masa-masa sulit seperti ini. Semoga program positif ini terus berjalan dan menyentuh warga yang betul-betul membutuhkan hunian yang layak.

Terima kasih PUPR, teruslah siaga dalam membangun negeri. Selamat hari perumahan nasional!

You might also enjoy:

49 Comments

  1. Walau nggak mengalami langsung, tapi aku tahu rasanya saat terkena musibah kebakaran karena rumah alm kakekku dulu beserta puluhan rumah lain (sebagian juga ada rumah om dan tanteku) pernah kena musibah kebakaran massal belasan tahun lalu.

    Perlahan semua bangkit dan walau banyak kenangan ikut “dilalap” api namun memang ada hikmah dari semua kejadian.

    Alhamdulillah ibu udah mendapatkan tempat tinggal baru. Semoga senantiasa sehat di sana. Amin.

  2. Ijaaaah, kebayang banget itu rumah kebakaran, alhamdulillah Ibu dan adik2 selamat yaa, alhamdulilllah juga udah dapet rumah impian buat Ibu. Huhuu jadi inget kerjadian rumah mertua yang kebakaran abis semua, bikin trauma sendiri buatku kalo ada percikap api. Semoga semuanya dilindungi dari marabahaya yaaa.
    Sehat2 buat Ijah di sana yaa.

  3. Innanilahi wainsilsihi rojiuun. Bisa dibsyangankan betapa paniknya ibu dan keluaega yv lain dan bwtapa juga Zahra nun jauh di sana kdtika mendwngar ini. Musibah dan apaounyang diambil oleh Allah SWT melalui caranya pasti ada hikmah di balik itu semua. Ibu dan adik2 hijrah ke rmh yv mungil dan azri dengan atmosfere yg membuat ibu pastinya bersyukur. Bunda sukak sekali liat rumah barunya ibu dengan gate terbuat dafi kau menambah cantiknya rumah itu dan membuat Zahra semakin ingin cepat pulang ke INA.

  4. ya allah mba saya bacanya juga sedih gitu, pas mba dikasih tahu rumah kebaran sama ibu mba, dan alhamdulillah keluarga mba selamat semua ya, alhamdulillah ya sekarang sudah diganti sama allah, semoga rezeki teteh dan keluarga rezekinya selalu dicukupkan, aamiin

  5. Masya Allah .. kisah yang luar biasa … pastinya hal ini menjadi pelajaran yang amat berharga. Luar biasa akhirnya bisa bangkit kembali, Mbak … alhamdulillah Ibu tinggal di lingkungan yang nyaman ya.

  6. Duuh..ikut lemas membaca cerita mba, apalagi bagi ibu dan kelg yg mengalami langsung ya.. Alhamdulillah sdh ada ganti rumah baru.. Semoga ibu dan segenap kelg sehat selalu di rumah baru ya..

  7. Ya Allah mbak, aku bacain ceritanya jadi ikut ngerasain. Alhamdulillah aku selalu pegang teguh bahwa setiap musibah selalu ada hikmah dibaliknya, insha Allah jadi ringan. Semoga selalu bahagia di rumah yang baru ya mbak. *Big hug dari sini

  8. Zahraaaaa, di balik paras kamu yg imut ayu itu, ternyata tersimpan jiwa yg setrong dan tangguh!
    Warbiyasaaakk. Ortu kamu mendidik putra/i-nya dgn baik
    MasyaAllah TabarokAllah.

  9. MasyaAllah.. selalu ada kebaikan disetiap kerjadian pahit, semoga Allah mengangkat derajat keluarga mbak Zahra karena kesabaran. Program Perumahan subsidi dari pemerintah memang bagus, tapi kadang yang gak bagus adalah pemborongnya. Itu kesannya mereka ngasih asal-asalan, dari lantai, dinding, pintu dan lainnya. Pengalaman pindah kontrakan di rumah subsidi kayak gitu semua, duh,, Tapi balik lagi, itu hanya oknum hehee

  10. Selalu ada hikmah di balik musibah ya Teh. Ikut senang sekarang kondisi ibu sudah mulai pulih, semoga traumanya juga lekas hilang ya… trus dikasih sehat, hepi, bahagia sama anak cucu hingga kelak. Amin…

  11. Selalu ada berkah dibalik musibah ya mba. Syukurnya sekarang ibu dan adik2 mbak sudah bisa dapat rumah yang layak dan nyaman berkat adanya program ini ya. Biasanya rumah subsidi pemerintah agak gimana gitu, tapi sekarang benar2 diperhatikan kelayakan huni dan pastinya bisa dijangkau masyarakay menengah.

  12. MashaAllah~
    Ala kulli hal yaa, teh..
    Selalu ada jalan yang ditunjukkan Allah untuk membantu hambaNya melalui tangan-tangan tak terduga.
    Semoga Ibu dan keluarga di Bandung pada sararehat sadayana.
    Aamiin~

  13. Ceritanya menginspirasi banget kakak , semoga aku juga bisa menabung untuk membeli rumah segera. Karena pingin banget punya rumah sendiri. Tidak lupa jg berdoa untuk minta d bimbing.

  14. MashaaAllah.
    Tak perlu diragukan lagi, selalu ada kebaikan disetiap kejadian.
    Sungguh adek dan orangtua Zahra sangat tawaqal menghadapi musibah kebakaran yg dialami hingga cepat bangkit tanpa membahas seandai, seandainya,,,,.

  15. Saya agak merinding membacanya. Jadi ingat waktu kecil pernah tinggal di perkampungan padat penduduk dan mengalami beberapa kali kejadian kebakaran. Alhamdulillah, rumah selalu selamat. Tetapi, ngerasain juga panik dan mengungsi.

    Alhamdulillah keluarga selamat ya, Mbak. Bahkan sekarang bisa kembali tinggal di rumah yang layak.

  16. Syukurlah ibu dan adik selamat dalam kebakaran tsb.
    Syukurlah, sekarang ibu juga sudah menempati rumah baru yang nyaman untuk tinggal ya. Selalu ada hikmah dibalik musibah. Semoga semuanya dilancarkan dan sehat-sehat ibu dan keluarga.

  17. Saya merinding bacanya
    Kebayang itu rasanya karena pernah lihat langsung juga toko nenek kebakaran
    Beruntung karena produk jualan tidak semua ditaruh di toko
    Alhamdulillah bisa dapat rumah yang lebih layak ya Mbak

  18. Subhanallah Zahra, sedih dan terharu membacanya. Walopun kebakaran rumah pasti sangat menyedihkan, tapi ada hikmah ya sesudah itu. Terwujudnya rumah impian. Sehat-sehat selalu ya Ibu dan keluarganya. Sehat-sehat juga Zahra, suami, dan anak-anak. 🙂

  19. Ya Allah, turut berduka ya mbak. Alhamdulillah sudah menemukan rumah yang lebih baik.
    Trus aku kagum, mikir kenapa ya Quran dan kaligrafi utuh? Masya Allah.
    Semoga ibu dan adik-adik sehat-sehat dan betah di rumah baru.

  20. DI balik musibah ada hikmah ya, Alhamdulilah sekarang dapetin rumah dengan loingkungan yang baik juga, walaupun banyak kenangan yang tertinggal di rumah lama. Aku ikut sedih bacanya.

  21. Selalu ada hikmah dibalik musibah Mbak. Alhamdulillah ibu dan sodara baik-baik saja, dan Allah memberikan kuasanya dengan mengganti rumah baru yang nyaman ditempati. Karena kata orang bijak, sejelek apapun tempat tinggal kalau penghuninya nyaman Insya Allah jadi rumah yang indah

  22. Rumah mungilnya cantik dan sepertinya lingkungannya menyenangkan, turut bahagia untuk Zahra dan keluarga yang sudah memiliki rumah impian, semoga saat pulang ke Indonesia bisa segera kumpul bersama keluarga tercinta ya

  23. Gak kebayang gimana paniknya saat dihadapkan dengan kejadian kebakaran tersebut. Alhamdulillah yaa mbak, sekarang sudah ada rumah pertama. Sudah lebih tenang menempati rumah pengganti.

  24. Dibalik semua ini Insha Allah ada maksud baik Allah ya Mba. Turut berduka atas kebakaran rumahnya.
    Aku terkagum Al Quran dan kaligrafi tdk kebakar. Masya Allah kuasa Allah ya Mba. Alhamdulillah juga sekarang Ibunda nya Mba bisa dapat rumah lagi… Semangat ya Mba

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *