Mimpi Ibu Sekolah Tinggi

Berpilin. Berputar.

Pikiran saya melayang jauh ke masa lalu. Kala itu, saya baru lulus sekolah kejuruan farmasi dan berkeinginan tinggi untuk kuliah di kampus negeri. Sayang restu belum dikantongi, terpaksa mimpi ini harus disimpan dalam hati.

Bertahun-tahun kemudian, seorang lelaki dari masa lalu hadir kembali menawarkan hati yang dulu pernah ia tawarkan. Ia menjanjikan bahwa dirinya takkan menjadi penghalang bagi saya untuk meraih mimpi sekolah keluar negeri. Saya terpesona. Bayangan menghidupkan mimpi bersamanya terpampang nyata. Saya menerimanya dan kami pun menikah.

“Ada beasiswa Chevening dan Stipendium dalam waktu dekat, sayang. Aku mau apply ya.”

Suami mengangguk. Ia lalu memberikan nasihat dan dukungan berupa materi untuk saya kursus IELTS, bimbingan kuliah keluar negeri, dan persiapan berkas apply magister dan beasiswa. Saya begitu bersemangat mempersiapkan diri meski berjauhan dengan suami dan sedang hamil muda. Perjuangan yang berat ini terasa menyengangkan karena saya bahagia dapat meniti mimpi yang sudah tertunda lama.

“Sayang, persyaratan administrasi Chevening-ku ditolak. Belum rezeki.”

Jauh di ujung sana, suami menghibur diri saya yang baru saja mengalami kegagalan. Tak mengapa, begitu katanya. Ia menyemangati bahwa kegagalan adalah media belajar dan juga jalan pembuktian apakah saya sungguh-sungguh memperjuangkan mimpi atau tidak.

Atas dasar keyakinan, saya tetap belajar IELTS di bawah bimbingan kursus dan belajar menulis essay dengan baik sampai akhirnya anak pertama saya lahir. Untuk sementara waktu, saya harus fokus merawat bayi saya tanpa kehadiran suami. Setahun kemudian, saya mulai giat lagi mencari beasiswa dan memutuskan untuk daftar Stipendium Hungaricum. Sebelum submit application, saya melakukan tes IELTS di British Council. Alhamdulillah saya cukup percaya diri dengan nilai tes IELTS perdana yang saya lakukan.

Sayang, usaha meraih beasiswa untuk yang kedua kalinya ini pun gagal.

“Tidak apa, insyaallah ada jalan lain yang lebih baik. Bagaimana kalau mama sama Ibrahim ikut Baba ke Jepang?”

Saya melengkungkan senyum penuh kebahagiaan. Tentu saja saya mau! Dengan ini, kami tak lagi berjauhan. Saya pun bisa meraih pelajaran berharga selama di Jepang dan melanjutkan perjuangan meraih beasiswa ke Eropa di negeri matahari terbit ini.

1.5 Tahun di Jepang, Belajar IELTS Sendiri

Setahun pertama di Jepang, taihen desu ne…

Masa adaptasi tinggal di Jepang, dilanjutkan dengan hamil dan membesarkan dua anak sangatlah menyita waktu dan tenaga. Tanpa bantuan keluarga, saya dan suami berjuang bersama untuk merawat dan mendidik kedua buah hati kami. Saya pun harus belajar nihongo sebagai bekal komunikasi dengan warga Jepang. Apa kabar perjuanganku meraih beasiswa? Ada, ia menunggu waktu yang tepat untuk kuperjuangkan kembali.

Ketika anak kedua genap berusia 6 bulan, saya merasa siap untuk melanjutkan perjuangan ini. Namun sayang, saya terpaksa dilarikan ke rumah sakit dan harus dirawat selama 31 hari karena penyakit langka bernama Botulisme. Penyakit itu merenggut penglihatan, tenaga, dan kemampuan menelan saya untuk sementara waktu. Alhamdulillah, Gusti Allah menakdirkan saya untuk sehat seperti sedia kala. Meski begitu, waktu recovery harus saya jalani dengan perlahan. Saya boleh beraktivitas normal asal tidak berlebihan.

Dirawat selama sebulan penuh di salah satu rumah sakit di Jepang tidak pernah saya pikirkan sebelumnya. Kabut yang semula menutup seluruh mimpi akibat kelumpuhan otot yang saya derita, perlahan menyibakkan sinar matahari yang membawa keyakinan yang tinggi akan mimpi yang siap diraih.

Tidak ada kata nanti, yang ada mulai saat ini. Selepas sakit, saya berazam untuk melanjutkan mimpi yang tertunda yakni kuliah ke Eropa dengan beasiswa.

Bisa jadi waktu saya tinggal sedikit. Jangan sampai menyesal kemudian karena melalaikan mimpi yang telah terpasung dalam hati begitu lamanya.

Maka saya, memulainya dengan belajar IELTS lagi.

Membiasakan diri belajar mandiri setelah lama vakum tidaklah mudah, terlebih ini IELTS. Masa sertifikat IELTS yang hanya berlaku dua tahun menjadikan saya harus mengulang tes IELTS bila ingin mendaftar beasiswa tahun depan. Kali ini, saya belajar tidak dengan bimbingan guru dan hanya melalui media elektronik di sela-sela mengurus satu balita dan satu bayi.

Sungguh, ini tidak mudah.

Meski pernah kursus dan tes IELTS dengan hasil yang baik, tetap saja saya kebingungan. Kecepatan dalam menjawab soal menurun, kemampuan listening saya menukik ke bawah, keterampilan reading dan writing dipertanyakan, terlalu banyak berpikir saat speaking, dan banyak sekali materi yang lupa. Jika saya melalui ini sendiri tanpa bimbingan guru, bagaimana saya bisa cepat menguasai IELTS?

Perlu ada yang menemani saya dalam belajar, yakni bimbingan guru dan teman yang menyemangati. Meski saat ini saya tinggal di luar negeri, tidak dalam lingkungan akademik, dan juga sedang fokus mengurus keluarga, saya yakin solusi dari kendala yang saya alami ini pasti ada.

Saya yakin itu.

Akhirnya, Solusi Itu Adalah Belajar IELTS Secara Online!

Rutinitas mengurus rumah tangga seharian penuh akan terasa membosankan bila tidak diiringi upaya upgrade diri. Untuk itu saya mengikuti beragam kegiatan yang diampu oleh beberapa komunitas baik di Indonesia maupun di Jepang. Oleh karena sedang pandemi, keeseluruh kegiatan komunitas itu dilakukan secara online. Lalu saya berpikir, bagaimana jika belajar IELTS pun dilakukan secara online?

Ide cemerlang itu membawa saya pada informasi belajar bahasa inggris online di Lister.co.id!

Bersama Lister, saya bisa belajar IELTS dengan fleksibel. Selain bisa mendapat bimbingan dari tutor yang hebat, saya pun bisa menjaring pertemanan dengan sesama pejuang beasiswa. Kapanpun, dimanapun, Lister bisa menyesuaikan waktu dengan rutinitas harian saya. Selain itu, jenis kelas yang ditawarkan pun beragam sesuai dengan kemampuan biaya dan interaksi yang diinginkan, yakni one-on-one, kelas semi private dan group class.

Lister menawarkan materi pendidikan berstandar internasional yang disesuaikan. Dukungan penuh berupa layanan konsultasi 24 jam dan komunitas pendukung dimiliki oleh Lister. Tak hanya itu, seluruh tutor Lister telah tersertifikasi dan dibekali pelatihan intensif, baik itu tutor native, foreign, atau local.

Uniknya, one stop learning platform ini tak hanya menyediakan fasilitas kursus untuk bahasa inggris akademik, namun juga untuk korporasi, bisnis, dan pemerintah. Ini dia yang saya rasa menjadi pembeda dibanding platform belajar lainnya. (Geser infografis di bawah ini untuk informasi lengkapnya)

Lihat, program yang ditawarkan Lister sangat lengkap bukan?

Oleh sebab saya fokus di IELTS, saya melihat keseriusan Lister dalam membimbing anak didiknya. Hal ini terbukti dengan jaminan band 7.5 untuk tes IELTS. Tentunya rasa percaya diri ini muncul dari keberhasilan alumnus Lister yang berhasil memperoleh nilai baik dan kuliah di luar negeri.

Program IELTS yang ada di Lister ini sangat lengkap dari mulai short course, 1 on 1, group class, dan semi private. Pilihan yang beragam ini memudahkan saya untuk memilih mana yang sesuai kapasitas materi dan waktu. Selain itu, Lister pun menyediakan test preparation program sehingga saya tahu sudah sejauh mana saya siap mengikuti tes IELTS.

Tak cukup sampai di situ, Lister pun menawarkan bimbingan study abroad yang memudahkan siswa untuk mengetahui bagaimana menyusun essay yang baik, serta persyaratan berkas ke universita dengan sharing bersama tutor awardee beasiswa. (Geser untuk melihat sebagian dari tutor Lister).

Cara belajar di Lister ini sangat mudah. Setelah selesai proses pendaftaran, kita akan diminta mengerjakan placement test untuk mengetahui kelas yang sesuai. Setelah itu lakukan pembayaran melalui channel pembayaran digital dan mulai belajar melalui video conference apps. Uniknya, kelas online yang berlangsung akan langsung direkam ke dalam sistem sehingga siswa bisa mengulang pembelajaran kapanpun.

Belajar bersama Lister merupakan solusi bagi ibu rumah tangga saya yang terkendala akses belajar secara tatap muka. Bersama dengan tutor handal dan pertemanan baik, saya yakin semangat melanjutkan mimpi kuliah ke luar negeri semakin terpelihara. Tak hanya bisa belajar IELTS, di Lister pun saya bisa dibimbing terkait cara meraih beasiswa dan kampus impian.

Alhamdulillah. Kini saya tenang sebab menemukan platform belajar yang tepat. Jika Anda mengalami kendala seperti saya, jangan ragu untuk belajar di Lister ya!

***

Artikel ini diikutsertakan dalam Lister Review Blog Competition

You might also enjoy:

14 Comments

  1. Subhanallah, ternyata dampak botulisme bisa sampai dirawat sebulan, tapi Alhamdulillah pas di Jepang ya mba jadi penanganan lebih cepat, hehe.. baru ini dengar Lister, lumayan ya ada 1 on 1 nya juga.. jadi lebih eksklusif…

  2. Aku punya cita2 sama juga kakkk, pngen lanjut sekolah di luar negeri juga. Saat ini lg bener2 nyiapin semuanya sedihnya lagi ada corona deh jadi tertunda persiapanya huhu smg bisa segera terealisasikan ✨

  3. Zaman sekarang mah, mau di mana aja, bahkan ketika kita punya keterbatasan, belajar bisa dilakukan. Belajar apa pun, secara online. Duh jadi kepengen belajar juga deh di Lister.

  4. Baru pertama saya dengar tentang lister ini. Bisa jadi solusi juga buat aku nih yang sulit keluar rumah karena ngga ada yang jaga anak-anak. Btw semoga mimpinya bisa segera diwujudkan ya mba.

  5. Saat ini yang perlu dipelajari menjadi lebih mudah karena bisa dilakukan dengan online.
    Semoga rejeki bersekolah kembali di luar negeri, kak.
    Bersama Liester, mencoba mencari peluang sekolah terbaik.

  6. Semoga impian untuk bisa kuliah di Eropa dengan beasiswa segera bisa tercapai. Penting banget ya penguatan kemampuan berbahasa Inggris untuk bisa lolos mendapatkan beasiswa. Go gooo Zahra.

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *