Sore itu, saya pulang dalam keadaan hati penuh bahagia. Seorang bidan senior tempat saya memeriksakan kehamilan menyatakan bahwa saya dan janin dalam keadaan sehat. Detak jantung bayi, tekanan darah dan Hb saya normal. Tidak perlu ada hal yang dikhawatirkan, begitu katanya. Selepas pemeriksaan, seperti biasa beliau memberikan selembar asam folat dan zat besi yang harus saya minum setiap hari.

Saya tersenyum lagi. Jika saya dan bayi sehat, itu berarti kami dalam keadaan cukup nutrisi. Pola makan yang saya jaga, pikiran yang jauh dari stres, juga konsumsi suplemen tambahan seperti tablet zat besi telah memberi sumbangsih besar pada kabar baik ini. Sampai adik bayi lahir dan seterusnya, jangan kasih kendor dalam pemenuhan nutrisi baik khususnya Fe atau zat besi.

Pernah mendengar ucapan bahwa ibu hamil harus makan dua kali lebih banyak karena harus memberi makan bayi di kandungan?

Sebenarnya ungkapan yang tepat adalah ibu hamil perlu asupan zat besi lebih banyak dari biasanya dari 18 mg per hari (batasan normal Fe untuk wanita dewasa) menjadi 27 mg per hari. Hal ini diperlukan agar kebutuhan ibu dan pertumbuhan bayi dapat terpenuhi, juga mencegah defisiensi zat besi yang berakibat fatal bagi ibu dan bayi. Selain beresiko anemia, resiko cacat pada janin dan kejadian stunting pun bisa terjadi bila ibu kekurangan zat besi selama kehamilan.

Oleh karena itu, dokter maupun bidan selalu memberikan suplemen zat besi pada ibu hamil baik dengan meresepkan atau diberikan secara cuma-cuma saat kontrol kehamilan. Upaya ini dilakukan demi terpenuhinya kebutuhan nutrisi ibu sehingga bayi yang dilahirkan berstatus cukup nutrisi dan bisa tumbuh dengan baik.

Prevalensi Anemia Pada Ibu Hamil Paling Tinggi

Anemia atau sering disebut sebagai kurang darah merupakan suatu kondisi dimana kadar hemoglobin lebih rendah dibanding keadaan normal. Kondisi ini diakibatkan karena tubuh kekurangan zat besi (Fe) sehingga tubuh tidak dapat memproduksi hemoglobin (protein di sel darah merah) yang berperan dalam membawa O2 ke seluruh jaringan dan organ di dalam tubuh.

Tubuh tidak dapat memproduksi zat besi sendiri maka nutrisi makanan dari luar menjadi sumber utama asupan gizi. Kebutuhan zat besi harian setiap orang berbeda-beda, tergantung usia dan jenis kelamin. Wanita dewasa membutuhkan asupan zat besi sebesar 18 miligram per hari, sedangkan pria dewasa sekitar 8 miligram per hari.

Pengetahuan ihwal pentingnya Fe agaknya belum dipahami dengan baik oleh sebagaian masyarakat. Hal ini terlihat dari prevalesi anemia yang masih tinggi pada semua lintas usia. Merujuk pada data Riskesdas 2013, prevalensi anemia pada wanita masih tinggi dan bahkan kejadian anemia pada ibu hamil menduduki urutan teratas.

Kekurangan zat besi pada ibu hamil sangat sering terjadi. Menurut data dari WHO, lebih dari 40% ibu hamil mengalami kekurangan zat besi. Tingginya prevalensi anemia pada ibu hamil adalah kejadian yang patut diperhatikan oleh berbagai pihak. Pasalnya, ibu hamil yang kekurangan zat besi akan melahirkan anak yang juga defisiensi zat besi. Pada kelanjutannya, anak akan tumbuh tidak sesuai dengan standar perkembangan terlebih jika asupan nutrisi yang dikonsumsi tidak diperhatikan oleh orang tuanya. Hal ini akan mengakibatkan anak tak hanya anemia, namun juga stunting dan kehilangan daya konsentrasi dalam belajar.

Masih merujuk pada data di atas, tingginya prevalensi anemia pada ibu hamil selaras dengan kejadian anemia pada bayi dan anak. Kedua prevalensi pada generasi emas ini masih tinggi, yakni di atas 25 persen. Nilai ini tentunya sangat mengkhawatirkan mengingat bayi dan balita seharusnya mendapat nutrisi yang cukup untuk menunjang perkembangannya.

Bukannya menurun, prevalensi anemia pada ibu hamil meningkat setiap tahunnya. Padahal sudah lazim bagi ibu hamil di Indonesia untuk ‘banyak makan’ karena ada janin yang harus diberi makan. Namun jika dilihat lebih dalam lagi, konsumsi makanan ibu hamil di Indonesia lebih mengedepankan kuantitas dibanding kualitas sehingga 1 dari 3 ibu hamil di Indonesia masih terkena anemia.

Data Riskesdas tersebut mencerminkan bahwa kehamilan merupakan sumber utama unggulnya generasi lanjutan. Maka itu, pemberian asupan nutrisi yang baik pada tahap ini akan bisa menghasilkan generasi yang unggul, sehat dan cerdas.

Seberapa Bahaya Dampak Kekurangan Zat Besi?

Mari memulai dampak anemia sejak masa kehamilan. Di tahap ini, defisiensi besi mengakibatkan infeksi, pre-eklamsia, gangguan pertumbuhan janin, gangguan fungsi jantung, kelahiran prematur, dan pendarahan pasca persalinan. Jika tidak ditangani dengan baik, bayi yang lahir akan tumbuh terhambat dan resiko stunting bisa terjadi. Di masa kanak-kanak, gejala anemia yang rentan terjadi adalah rewel, lemas, pusing, tidak nafsu makan, gangguan konsentrasi, gangguan pertumbuhan, cenderung mengantuk dan tidak aktif bergerak. Selain itu, dampak jangka panjang anemia adalah daya tahan tubuh menurun, rentan terhadap infeksi, kinerja menurun begitupun dengan prestasi dan kebugaran.

Maka itu penting bagi orang tua untuk memeriksakan Hb anaknya bila mengalami gejala seperti di atas. Bisa jadi bukan karena anak tidak cerdas dan aktif, barangkali sebab asupan nutrisi yang diberikan tidak optimal.

Penyebab Anemia Masih Tinggi di Indonesia

Menurut Dr. dr. Diana Sunardi, M.Gizi, Sp.GK., penyebab anemia defisiensi besi dilatarbelakangi oleh tiga faktor, yakni faktor demografi, sosial, dan asupan makan. Di Indonesia, masalah pada asupan makanan terjadi karena konsumsi masih didominasi pangan nabati, kurangnya asupan energi dan protein, serta defisit energi, protein dan mikronutrien.

Zat besi heme yang terdapat pada daging (unsur hewani) merupakan jenis zat besi yang mudah diserap tubuh. Sayangnya, konsumsi protein hewani di Indonesia masih kurang. Sedangkan zat besi non heme yang terdapat dalam protein nabati harus melalui proses yang panjang, diubah ke dalam beberapa bentuk, baru bisa diserap oleh tubuh. Meski lambat, proses pemecahan zat besi non heme bisa dipromosikan dengan konsumsi Asam Askorbat atau Vit. C. Tetapi, zat besi non heme ini akan dihambat oleh serat, fitat, tanin, polifenol, kalsium dan zinc.

Kompleksitas penyerapan zat besi dalam tubuh menjadi isu yang tak banyak masyarakat paham. Konsumsi tempe, tahu, kacang-kacangan dan sumber nabati lainnya, tidak akan optimal jika tidak ditunjang dengan konsumsi paprika, brokoli, jambu biji sebagai sumber vitamin C. Selain itu, masih banyak ditemukan cara pengolahan nabati yang dicampur dengan bahan pangan kalsium, yang alih-alih menambah gizi, malah menghambat penyerapan zat besi dalam tubuh.

Jika sedemikian rumitnya cara kerja absorpsi zat besi dalam tubuh, juga kurangnya edukasi kepada masyarakat tentang pentingnya zat besi, lantas bagaimana cara efektif untuk mengkonsumsi zat besi?

Penanganan Anemia Secara Holistik

Upaya penanganan anemia dan isu gizi lainnya tidak bisa dilakukan di satu sisi. Selain konsumsi diet seimbang, aktif bergerak, dan manajamen stres, peran pemerintah dan stakeholder terkait pun diperlukan. Upaya tersebut seperti konseling gizi, kampanye hidup sehat, pemberian makanan tambahan terfortifikasi, pemberian suplemen dan pemantauan pertumbuhan.

Upaya penanganan anemia secara holistik dimulai dengan pemantauan kesehatan wanita sebab dari ibu akan lahir generasi baru. Sehat atau tidaknya generasi yang lahir, ditentukan sejak dalam kandungan bahkan sejak si ibu mempersiapkan kehamilan. Upaya ini dilanjutkan dengan promosi ASI eksklusif pada ibu menyusui, pemantauan tumbuh kembang balita dan anak di posyandu atau pusat kesehatan lainnya, pemantauan tumbuh kembang usia remaja hingga lansia.

Pemerintah, dalam hal ini Dinkes dan Diknas, telah mencanangkan ragam program dalam mengatasi gizi buruk. Namun upaya pemerintah ini tidak bisa berjalan sendiri tanpa bantuan dari stakeholder lain yang memiliki inovasi dalam teknologi pangan dalam menghasilkan makanan, susu, kue yang terfortifikasi (pengayaan mikronutrien pada makanan).

Untuk itulah Danone Indonesia hadir dalam mendukung upaya pencegahan status gizi buruk di Indonesia dengan menghadirkan alternatif makanan dan minuman yang lebih sehat, edukasi tentang gizi dan kesehatan pada masyarakat, juga menginspirasi kebiasaan baik dengan mempromosikan hidup sehat.

Danone Indonesia: Terdepan dalam Inovasi Makanan

Indonesia merupakan salah satu negara yang mengalami beban permasalahan nutrisi tiga rangkap, yakni gizi kurang, obesitas, dan defisiensi mikronutrian. Komitmen Danone Indonesia dalam meningkatkan kepedulian akan masalah gizi di Indonesia telah melahirkan beragam produk makanan dan minuman yang lebih sehat, juga melahirkan gerakan Nutrisi Untuk Bangsa yang melibatkan seluruh elemen bangsa untuk berkerja sama memerangi permasalahan gizi di tanah air.

Danone mengerti bahwa tidak semua anak Indonesia beruntung dapat lahir dan tumbuh di lingkungan yang sehat. Namun percaya bahwa ada satu kesempatan di dalam hidup seorang anak yang dapat diperbaiki status gizinya dengan intervensi nutrisi berupa susu pertumbuhan di 1000 Hari Pertama Kehidupan. Selain itu, Danone pun percaya bahwa wanita memegang peranan penting dalam memutus rantai anemia. Melalui pemberian nutrisi sejak pra hamil, kehamilan, dan menyusui, diharapkan akan lahir generasi sehat, cerdas, dan unggul.

Mengusung moto Better Products + Better Habits = Better Choices telah menjadikan Danone Indonesia tak hanya terdepan dalam inovasi dan revolusi makanan, namun juga memberi dampak positif dengan menciptakan berbagai kemitraan berkelanjutan untuk membantu Indonesia mengatasi permasalahan nutrisi, seperti:

  1. Isi Piringku : mempromosikan konsumsi gizi seimbang dan gaya hidup sehat pada anak usia 4-6 tahun melaui guru dan orang tua.
  2. Amir (Ayo Minum Air) : program kolaboratif yang bertujuan untuk meningkatkan kebiasaan minum 7-8 gelas per hari bagi anak sekolah.
  3. Warung Anak Sehat : memberdayakan ibu kantin untuk mengelola kantin sehat di sekolah.
  4. Aksi Cegah Stunting : bersama FKUI dan Kementerian, Danone berhasil menurunkan angka stunting sebesar 4,3% dalam 6 bulan dengan melakukan upaya perbaikan sistem rujukan, penguatan fasilitas kesehatan dan memprioritaskan intervensi gizi.

Tak hanya itu, Danone Indonesia memiliki program edukasi untuk masyarakat yaitu:

  1. Gesid (Generasi Sehat Indonesia). Program ini bertujuan untuk membangun pemahaman dan kesadaran remaja tentang kesehatan dan gizi remaja, pentingnya 1000 hari pertama kehidupan, dan pembentukan karakter. Program ini telah menjangkau 2000 siswa di 5 SMP dan 5 SMA.
  2. Taman Pintar. Danon telah mendukung 4 fasilitas pendidikan kesehatan dan gizi di Taman Pintar Yogyakarta.
  3. Duta 1000 Pelangi. Program ini membekali pengetahuan tentang gizi seimbang dan pentingnya 1000 hari pertama kehidupan kepada karyawan dengan menjadikan karyawan tersebut sebagai duta.

Keseluruh upaya Danone dalam inovasi pangan dan program sosial merupakan komitmen Danon dalam membantu Indonesia mengurangi angka anemia, juga stunting pada umumnya. Melalui seluruh sumbangsih baik yang telah dilakukan, semoga Danone Indonesia terus selalu menjadi yang terdepan dalam mengkampanyekan hidup sehat dan giat selalu dalam menyuarakan dampak positif di masyarakat.

Catatan akhir untuk wanita Indonesia. Persiapkan dirimu dengan nutrisi terbaik untuk dirimu, bekali pengetahuan akan nutrisi untuk tumbuh kembang anak, yang dengan itu nanti akan lahir bibit unggul yang sehat dan cerdas.

***

Artikel ini diikutsertakan dalam Kompetisi Menulis Artikel Blog bersama Danone dan Nutrisi Untuk Bangsa. Gambar diambil dari Shutterstock dan Google (logo program Danone), infografis diolah oleh Zahra Rabbiradlia.

You might also enjoy:

10 Comments

  1. Anemia defisiensi besi bisa terjadi pada siapa saja, termasuk pada anak-anak dan kondisi ini tidak boleh disepelekan begitu saja. Anemia bisa menyebabkan anak mengalami gejala merasa lelah, lemas, hingga sesak napas.

    Duh, edukasi semacam ini kudu nyampe ke semua ortu ya.
    Supaya generasi Indonesia sehaaattt dan merdeka dari anemia!

  2. Strees juga dapat mempengaruhi kadar hemoglobin dalam darah ya, Bun.

    kalau stress datang, rasa malas makan yang bergizi atau bernutrisi naik ya. Lebih memilih makanan fast food yang less zat besi dan nutrisi baik ya.

  3. Bahaya juga ya ternyata jika kekurangan zat besi, terlebih jika terjadi ketika ibu hamil dapat mengakibatkan infeksi, pre-eklamsia, gangguan pertumbuhan janin, gangguan fungsi jantung, kelahiran prematur, dan pendarahan pasca persalinan. Kendala aku juga anemia nih mam, jadi lebih bijak mengantisipasi mengenai hal ini agar belajar mengubah pola hidup sehat lagi.

  4. Waktu hamil saya pernah mengalami gejala anemia, mudah lelah dan pusing. Untungnya dokter sigap dan memberi resep sampe lahiran. Alhamdulillah anak lahir selamat dan sehat

  5. Saya sampai sekarang rutin konsumsi tablet suplemen zat besi juga Mbak. Terlebih lagi karena pengalaman saat hamil kedua, jelang lahiran ternyata asupan zat besi kurang dan HB saya sedikit di bawah normal. Memang berpengaruh ke pasca lahiran, saya harus transfusi darah 1 kantong dan tangan sempat tremor.

  6. heme iron dan non heme iron penting selalu dicukupi disetiap keseharian makanan. tentunya dilakukan variasi aja,,biar gak bosen

  7. Betul sekali, perempuan yang sehat akan melahirkan generasi yang sehat juga, makanya penting sekali tuh sadar tentang pentingnya kecukupan nutrisi terutama zat besi biar gak anemia

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *