Saya terheran-heran akan ini. Jepang dikenal sebagai negara yang bersih, tertata, dan bebas sampah. Padahal selama 2 tahun tinggal di negara ini, tak banyak tong sampah yang saya temukan termasuk di sepanjang trotoar dan sebagian besar taman bermain. Saya hanya akan menemukannya di taman nasional, minimarket, pusat pemerintahan dan pusat turis. Bahkan jika saya harus mengganti popok bayi atau pembalut, seringkali saya tidak menemukan tong sampah untuk membuangnya. Lalu, mengapa negara ini sangat bersih jika warganya saja tidak difasilitasi tong sampah yang banyak oleh negara?

***

Sebuah kisah pilu masih kita ingat hingga kini. Bencana longsor sampah di TPA Leuwigajah tak hanya menjadi luka bagi warga Jawa Barat, namun bagi keseluruhan masyarakat Indonesia. Hujan deras dan terpicunya gas metana dalam timbunan sampah telah menyebabkan ledakan dahsyat yang mengubur desa-desa di sekitarnya. Sungguh menyedihkan. Peristiwa enam belas tahun lalu itu menjadi cerminan dari buruknya tata kelola sampah di Indonesia. Kinerja pemerintah dipertanyakan, kepatuhan masyarakat pun diragukan.

Agaknya masyarakat Indonesia sudah terbiasa dengan lingkungan yang penuh sampah. Marilah kita akui bersama bahwa di hampir setiap sudut di negara ini, pasti ada sampah yang dibuang sembarangan. Sampah-sampah itu bahkan mungkin sudah berusia tahunan, hingga sering kita temukan sampah plastik yang tertimbun di dalam tanah. Kita pun sudah mafhum akan bau busuk dari TPA, tong sampah di tempat publik, dan truk sampah, juga sungai yang tercemari sampah plastik dan peralatan rumah tangga seperti kasur, sofa, TV, dan lainnya.

Angka pencapaian daur ulang sampah yang sangat jauh di bawah jumlah sampah yang tertumpuk di TPA dan illegal dumpling sangatlah memalukan. Sampah yang menumpuk di TPA bisa menyebabkan ledakan dan longsor yang pada akhirnya menimbulkan sampah baru dari rusaknya rumah-rumah warga. Pun begitu dengan sampai yang tercecer di lingkungan. Manakala curah hujan tinggi, sampah-sampah itu akan menyumbat aliran air dan mengakibatkan banjir. Maka musibah baru terjadi. Ribuan rumah akan tergenang banjir dan akhirnya menghasilkan sampah baru.

Kita tidak bisa berdiam diri dan membiarkan efek gunung es ini terjadi begitu saja.

Dimulai dari Diri Sendiri, Mari Hidup Lebih Bijak

Suatu hari saya pernah membaca artikel NASA yang merilis animasi kondisi sampah di lautan dunia. Dalam tayangan tersebut terlihat sampah terbawa arus hingga tertumpuk dan membuat pulau sampah raksasa. Data NASA menunjukkan bahwa ada sekitar 8 juta ton sampah yang sebagian besar adalah plastik dan berakhir di lautan. Bahkan World Economic Forum (WEF) memprediksi jumlah plastik di lautan akan lebih banyak dibanding ikan pada tahun 2050 mendatang.

Saya bergidik saat membaca artikel tersebut. Tak perlu menyalahkan yang lain, saya pun berkontribusi dalam pencemaran lingkungan ini. Jumlah samplah plastik yang saya buang masih banyak, pun begitu dengan sampah dapur. Jika tidak mau turut serta dalam pencemaran lingkungan, saya harus bebenah diri.

Untung saja 3.5 tahun lalu saya menemukan kisah inspiratif dari Lauren Singer yang hanya menghasilkan satu toples sampah selama 4 tahun. Gaya hidup minim sampah itu dinamakan zero waste. Sejak itulah saya belajar banyak untuk mengurangi sampah organik dengan selalu menghabiskan makan (termasuk sisa makanan anak), mengubah minyak jelantah menjadi sabun, kulit jeruk menjadi pembersih semprot serbaguna, membuat mol buah untuk pencuci serbaguna, dan lerak untuk mencuci baju dan piring.

Sejak saat itu pula saya mulai meminimalisir sampah anorganik dengan meninggalkan pembalut sekali pakai dan beralih ke pembalut kain, menggunakan clodi untuk bayi (saya baru bisa memakaikan clodi di rumah, jika bepergian agak jauh saya masih bergantung pada pospak), memakai tas khusus berbelanja, tidak minum dengan sedotan, selalu membawa botol minuman, menolak keresek saat jajan di warung/kaki lima, membeli baju secondhand, menerapkan prinsip slow fashion, membeli peralatan elektronik dan perkakas rumah tangga di recycle shop.

Perubahan kecil yang saya lakukan ini, semoga saja memberi pengaruh pada bumi. Namun kemudian saya menyadari bahwa sedikit orang yang melakukan zero waste ini akan tidak memberi pengaruh signifikan jika peraturan pengolahan sampah berskala nasional tidak diindahkan. Padahal sampah adalah urusan bersama dan fatal jika diacuhkan. Peran pemerintah sangat vital dalam membuat kebijakan, sedang masyarakat perlu memiliki kesadaran akan pentingnya hidup minim sampah dan cara membuang sampah yang benar.

Meneladani Jepang Bijak Mengelola Sampah

Selama 2 tahun tinggal di Jepang, saya menyadari ada tali pengikat yang erat antara pemerintah selaku pembuat peraturan pengelolaan sampah dengan masyarakatnya. Budaya patuh dan rasa malu yang tinggi, itulah tali pengikatnya.

Kesadaran yang tinggi ini telah mewujudkan lingkungan yang amat asri. Padahal tidak mudah menemukan tong sampah di taman, fasilitas publik dan jalanan. Masyarakat Jepang memiliki konsep mochikaeru yang berarti sampah dibawa pulang ke rumah masing-masing. Pernah suatu ketika saat ada pemeriksaan kesehatan rutin anak di rumah sakit dan balai kota, saya harus membawa pulang kembali pospak yang harus diganti saat pemeriksaan. Lalu bila ada pertemuan organisasi atau tamasya di taman, semua orang harus membawa sampah dan dibuang di rumah masing-masing.

Saya kemudian mengetahui alasan mengapa tong sampah di Jepang sedikit. Rupanya ini adalah salah satu langkah untuk mencegah kriminalitas, semisal ada orang yang menyimpan bom atau benda terlarang di dalam tong sampah. Selain itu untuk mencegah tercecernya sampah akibat hewan liar yang mencari makan di tong sampah, misalnya seperti gagak.

Secara otomatis, saya yang asing di negeri ini mengikuti budaya mereka. Rasa malu bila tidak patuh itu sangat kuat.

Lalu apa sajakah upaya Jepang mengelola sampah?

Trus sampah di Jepang unik

Tak bau dan kotor, itulah gambaran truk sampah di Jepang. Uniknya, banyak truk sampah di Jepang dihias dengan karakter anime, lukisan alam, dan colorful. Setiap truk dilengkapi dengan audio dan beberapa ada yang memasang lagu. Gambaran truk sampah yang menyenangkan ini membuat warganya senang membuang sampah.

Kategori dan jadwal membuang sampah

Setiap daerah memiliki regulasi sampah yang berbeda. Persamaannya, sampah harus dipilah dengan baik dan dikumpulkan sesuai dengan hari yang ditentukan. Di kawasan tempat saya tinggal, sampah terbakar dikumpulkan pada hari senin dan jumat, sedang plastik, botol, kertas, dan lainnya pada hari lain.

Sampah di Jepang terbagi menjadi 4 jenis, yaitu :

  • Moeru gomi (sampah yang dapat dibakar) misalnya : kertas, kertas pembungkus makanan, tissue, sisa makanan, dan sampah dapur.
  • Moenai gomi (sampah yang tidak dapat dibakar) misalnya : potongan logam (sendok; garpu; dsb), periuk rusak, plastik, kaca, kaleng, dan botol.
  • Sodai Gomi (sampah besar) misalnya : perabot rumah tangga, barang elektronik rumah tangga, sepeda.
  • Shigen gomi (sampah yang bisa didaur ulang) misalnya : kaleng bekas, botol bekas, koran bekas.

Uniknya, ada biaya khusus untuk membuang benda rusak ukuran besar (sodai gomi ) seperti televisi, AC, mesin cuci, lemari es, dan lainnya. Misalnya di Shibuya, membuang sebuah kursi memakan biaya sebesar 400 yen (sekitar Rp.45.000,-) dan 2.000 yen (sekitar Rp.230.000,-) untuk sofa. Cara membayarnya melalui kantor pos atau kombini (minimarket) dan nantinya kita akan diberi stiker yang harus ditempelkan di sampah tersebut sebagai bukti telah membayar biaya pembuangannya. Maka untuk menyiasati agar tidak bayar biaya pembuangan sampah, lebih baik barang tersebut dilungsurkan kepada teman yang membutuhkan (semisal orang yang baru memulai hidup di Jepang). Ini pun salah satu langkah zero waste lho 🙂

Jujur saja, awalnya saya merasa kebingungan dengan kategori sampah yang banyak. Saya perlu mempelajari jenis sampah yang terbakar dan tidak. Untunglah setiap produk yang dijual di pasaran mencantumkan logo yang mengindikasikan bahan/jenis kemasan.

Sejak mempelajari logo-logo tersebut, memilah jenis sampah terasa menyenangkan. Di titik ini saya melihat upaya pemerintah Jepang dalam memupuk rasa tanggung jawab masyarakatnya terhadap sampah sangat besar. Pemisahan kategori sampah sejak awal ini pun memudahkan pemerintah dalam mengelolanya. Satu hal penting yang harus dicermati pula bahwa budaya membuang sampah pada tempatnya dipelajari secara khusus sejak dini di sekolah. Hal ini dibuktikan dengan bersihnya lingkungan sekolah dan seringnya siswa Jepang membawa kantong sampah kecil yang dikaitkan di tasnya.

Semoga suatu saat nanti Indonesia bisa secemerlang Jepang dalam menangani sampah, ya!

You might also enjoy:

23 Comments

  1. waste management memang penting yaaa mba dan aku setuju kalau kita bisa banget belajar dari Jepang dalam hal penanganan sampah dan bagaimana mengatasi masalah yang timbul

  2. Jujur sih, aku belum benar-benar meninggalkan penggunaan plastik. Jadi sedikit ya tetap produksi sampah. Namun aku berusaha buat buang sampah pada tempatnya juga mengurangi misal dengan pakai kantong belanja sendiri

  3. Zahraaaa, apa kabaaarrr mommy cantiikk?
    Semoga senantiasa sehaaatt sekeluarga ya

    Aduhai, aku sukaakk banget baca artikel ini.
    Sangat mencerahkan, menambah wawasan dan super detail!

    Memang, dibutuhkan tali pengikat yang erat antara pemerintah selaku pembuat peraturan pengelolaan sampah dengan masyarakatnya.
    Budaya patuh dan rasa malu yang tinggi, itulah tali pengikatnya.
    Kesadaran yang tinggi ini telah mewujudkan lingkungan yang amat asri, ya.

  4. Jepang memang teladan banget soal sampah nih. Salut sama pemerintah dan juga warganya yang udah punya budaya malu jika tidak mengelola sampah dengan baik dan bertanggung jawab. Semoga di Indonesia juga lekas berkurang jumlah produksi sampahnya, Mbak.

  5. Ya Allah.. kapan indonesia bisa kayak jepang ya mbaaa.. jangankan dibagi jadi 6 kategori sampah.. dibagi jadi 2 kategori sampah organik dan nonorganik aja indonesia gak disiplin.. asal2 aja buang sampah.. huhu..
    salut sama warga jepang yg punya disiplin tinggi

  6. Hebat banget itu bisa hanya membuang 1 toples sampah selama 4 tahun, keren sekali! Masih berusaha zero waste walau terasa sulit banget yah, tapi minimal dimulai dari diri sendiri dulu aja yaaah

    Keren banget emang di Jepang, pemerintah bener2 mendukung yaah

  7. Jepang memang keren dan juara disiplinnya, mau ga mau tinggal di sana jadi menyesuaikan ya Ijah. Noted banget berawal dari diri sendiri, yang kadang butuh kesadaran memilah milahnya. HAl kecil menghabiskann makanan dalam piring atao mengurangi minuman botol kemasan plastik.

  8. Makasih sharingnya Mba, saya butuh banget sering baca tentang tulisan gini, agar semangat selalu memilah sampah.

    Saya biasanya semangat, sayangnya masih on off nih, yang lebih parah, udahlah sampah dipilah, ujunv-ujungnha dibuang ke sampah lagi

    Harus pintar zero waste kayak Jepang deh 🙂

  9. Urusan sampah, Jepang memang teladan ya. Jauh banget deh dari kita dalam hal mengelola sampahnya. Tapi kalo memang niat yang kuat dari semua elemen masyarakat, kita juga kayaknya bisa. Hhuhu, kapan ya kita bisa kayak Jepang? Hehehehe.

  10. Truk sampah di Jepang aja dibuat lucu dan menarik ya. Emang jepqng salah satu negara yg banyak banget ngasih contoh nilai2 kehidupan yg bagus banget kita tiru ya. Termasuk soal mengelola sampah ya

  11. kalau di jepang, memang layak jadi panutan soalnya selokan mereka aja jernih bangeet sampai banyak bebek yang bisa berenang asyik wkwk.. itu soalnya banyak masyarakat sana yang sangat sadar akan kebersihan lingkungan

  12. Teman saya pernah tinggal di Jepang, dia cerita kalau selokan di sana airnya jernih banget, sama sekali tidak ada bau. Kalau mau buang minyak jelantah nggak boleh di tempat cuci piring tapi mesti dipisah terlebih dahulu, baru wadahnya dicuci. Pantesan aja negara Jepang bersih banget, btw suka banget nih sama truk sampah yang bergambar anime, bersih, dan lucu banget

  13. Iyaah…
    Di Jepang itu kesadaran akan sampah bener-bener yaah.. Bahkan di gang-gang kecil, tidak ada plastik yang terbuang secara gak sengaja atau gimanaaa…
    Kok bisa yaa..?

    Kini saatnya kita pun bisa, pasti.
    Melalui program baik Waste4Change. Edukasi yang benar terhadap anak-anak dan lingkungan terkecil dahulu.

  14. Di Jepang pengelolaan sampahnya udah bagus banget ya mba. Semoga di Indonesia juga perlahan masyarakatnya mulai disiplin soal urusan sampah ini.

  15. Salut ya sama pemerintah Jepang, serius menangani sampahnya dan ini diikuti oleh semua warganya yang disiplin membuang sampah dengan memilah dulu sebelum dibuang. angkat jempol semuanya deh

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *