Salju tidak turun di Yokohama tahun ini. Musim dingin pun cenderung lebih hangat dari tahun-tahun sebelumnya. Memang lebih nyaman terasa untuk makhluk tropis seperti saya. Beda dengan musim panas sebelumnya yang kadar panasnya luar biasa mencekam sehingga pemerintah Jepang perlu memberi peringatan untuk terus menyalakan AC selama puncak musim panas. Sungguh tidak main-main cuaca akhir-akhir ini.

Agaknya kita semua mafhum penyebab cuaca ekstrim yang sedang melanda bumi ini. Penggunaan emisi gas berlebihan, kebakaran hutan, terlalu banyak sampah plastik, penggunaan senyawa kimia berlebihan, penebangan pohon, dan lain sebagainya. Itu semua memberi sumbangsih besar pada kenaikan suhu bumi yang merusak selimut atmosfer atau yang sering disebut sebagai efek rumah kaca. Celakanya, praktek perusakan lingkungan itu semakin masif meski menuai banyak kontra. Mereka berdalih bahwa kekayaan alam berupa pohon adalah untuk kesehatan manusia, yang tentu saja itu benar, hanya saja tata kelola yang keliru menyebabkan fungsi hutan sebagai penopang kehidupan yang ada di bumi menjadi hancur dan mengakibatkan kerusakan lingkungan yang lebih besar.

Selama pasokan permintaan terhadap hasil hutan berupa kayu tinggi, selama itu pula perilaku penebangan pohon dan perluasan lahan semakin gencar dilakukan. Sawit, misalnya. Tak hanya menyoal kebutuhan perut, hasil turunan dari apapun yang diambil dari sawit bisa digunakan untuk semua jenis kebutuhan manusia seperti biodiesel, produk kesehatan, dan bahkan kecantikan. Satu untuk semua, sawit telah menjadi primadona di sebagian besar produk yang ada di bumi ini. Meski sejatinya memang membawa banyak manfaat, namun apalah artinya jika tata kelola sawit yang masih buruk dapat menyebabkan banyak makhluk kehilangan habitatnya?

Perlu ada tindakan masif dan segera, demi bumi yang lebih baik. Tanpa lingkungan yang bersih dan sehat, segala jenis produk kesehatan maupun kecantikan yang kita konsumsi menjadi nihil adanya. Bukankah itu percuma?

Benarkah kita sayang bumi?

Sebagai seorang wanita, saya tidak mampu melepaskan diri dari kebutuhan pangan untuk memasak, pemakaian produk sanitasi dan kecantikan sebab itu semua adalah kebutuhan dasar bagi manusia. Saya tidak bisa keluar rumah tanpa tabir surya dan kosmetik, pun tak bisa tidur nyenyak tanpa olesan krim di wajah. Saya memerlukan disinfektan untuk membersihkan rumah dan sabun untuk mandi, juga minyak dan mentega untuk membuat aneka cemilan seperti gorengan, cookies, dan cokelat.

Bisa jadi saya memang tidak membakar hutan, menebang pohon, atau membakar sampah. Namun bagaimana dengan penggunaan senyawa kimia dan alami dalam produk-produk yang saya pakai? Apakah saya tahu bahan dasar dalam produk itu tidak turut andil dalam merusak lingkungan?

Sayangnya, saya tidak tahu.

Ketidaktahuan ini terjadi pada sebagian besar penduduk bumi. Misalnya saat pemerintah Hawaii melarang penggunaan chemical sunscreen pada wisatawan, banyak pihak yang menganggap aturan itu terlalu berlebihan. Mereka berdalih bahwa Oxybenzone dan Octinoxate yang terdapat dalam tabir surya berbasis kimia ini mampu melindungi kulit dengan baik karena water resistant dan menyerap lebih cepat, serta mencegah kanker kulit. Produsen pun geram karena kesulitan mencari bahan untuk tabir surya di atas SPF 50 jika tanpa kedua senyawa kimia tersebut.

Padahal, bahaya yang terjadi pada lingkungan akan jauh lebih besar. C.A. Downs dalam penelitiannya yang dilakukan pada tahun 2015 menyebutkan Oxybenzone dan Octinoxate dapat mengakibatkan kerusakan genetik pada karang dan organisme laut lainnya. Bila keduanya larut dalam air laut, ketahanan karang akan menurun sehingga kehadiran karang baru akan terhambat. Hal ini pun dapat meningkatkan temperatur air yang mengakibatkan terumbu karang tampak memutih. Masih dari penelitian yang sama, diperkirakan sekitar 14.000 ton lotion tabir surya tertinggal di terumbu karang yang ada di seluruh dunia.

Alih-alih demi kesehatan, chemical sunscreen malah menimbulkan kerusakan ekosistem laut!

Maka itu pengetahuan terkait kandungan dalam setiap produk yang digunakan wajib dipelajari. Bagi wanita, hal paling penting yang harus dipahami adalah mana produk kecantikan yang ramah lingkungan dan mana yang tidak. Kembali lagi, bukankah segala upaya menjadi cantik lestari itu akan sia-sia jika tanpa penghidupan alam yang asri?

Cantik lestari dimulai dengan cek kandungan produk skincare-mu.

Oxybenzone dan Octinoxate rupanya tidak sendiri. Ada banyak sekali senyawa kimia lain yang mengancam bumi. Celakanya, zat-zat tersebut ada di sebagian besar produk kecantikan yang ada di pasaran. Sebut saja exfoliating microbeads, triclosan, silicon, paraben, BHA, dan lainnya yang terkandung dalam setiap peralatan mandi, lotion, krim wajah, kosmetik, hair spray, parfum, deodoran, hingga hand sanitizer.

Jika sedemikian banyaknya produk skincare yang mengandung senyawa kimia tidak ramah lingkungan, tak heran banyak ekosistem yang terancam. Hal ini menjadi perhatian penuh dari pihak-pihak yang cinta lingkungan. Maka itulah lahir produk-produk kecantikan yang mengusung konsep vegan atau menggunakan bahan dari tumbuhan.

Namun seiring berjalannya waktu, vegan saja tidaklah cukup. Penggunaan minyak nabati non-sustainable atau tidak tersertifikasi Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) masih terkandung di banyak produk skincare natural. Celakanya, seperti yang dilansir oleh bbc.com, minyak sawit tidak rupanya memiliki sertifikasi resmi untuk produk berkelanjutan seperti kopi atau teh. Selain itu label minyak sawit berkelanjutan jarang sampai ke produk kosmetik. Lalu mengapa ini perlu menjadi perhatian? Bukankah minyak sawit juga baik untuk kecantikan?

Sawit untuk kecantikan, ibarat dua sisi mata uang.

Permintaan kelapa sawit dari industri kecantikan terus meningkat. Hal ini disebabkan karena produk turunan minyak sawit yang berbentuk lemak ester dan lemak amina digunakan secara luas dalam kosmetik sebagai emulsifier, pelumas, dan bahan aktif kosmetik yang kaya manfaat. Minyak sawit olein merah mempunyai kandungan provitamin A 15 kali lebih besar dibandingkan wortel, dan memiliki kandungan vitamin E yang sangat besar yang ada di alam. Produk turunan minyak sawit yang berbentuk lemak ester dan lemak amina digunakan secara luas dalam kosmetik sebagai emulsifier, pelumas, dan bahan aktif kosmetik.

Melalui proses oleochemical, minyak kelapa sawit memiliki produk turunan berupa natrium lauril sulfat atau sodium lauril sulfat (SLS) yang terdapat pada pasta gigi dan sampo. SLS merupakan surfaktan yang berfungsi sebagai pembersih dan penghasil busa. Selain itu minyak sawit juga menghasilkan gliserin yang terdapat pada sabun yang berfungsi menjaga kelembaban tubuh kita. Untuk formulasi kosmetik, turunan minyak sawit yang sering digunakan adalah metalik stearat yang terdapat dalam produk makeup seperti eyeliner, eyeshadow, maskara, lipstik, blusher, bedak wajah dan foundation. Senyawa ini juga digunakan dalam parfum, deodoran, serta produk perawatan rambut dan kulit.

Minyak sawit masif diolah ke berbagai produk kecantikan, namun sayang sebagian besar produk tersebut tidak menggunakan sustainable palm oil (tersertifikasi Roundtable on Sustainable Palm Oil – RSPO). Selain itu mafhum kita ketahui bahwa perkebunan kelapa sawit konvensional dibangun dari pembalakan dan alih fungsi hutan yang menyumbang jejak karbon yang besar karena proses pembakaran dan hilangnya pepohonan sebagai penyerap karbon. Hewan hutan pun kian tergusur ketika habitatnya berkurang. Belum lagi dengan isu butuh atau ekosistem sekitar yang kerap melekat.

Jika permintaan tinggi, produksi sawit untuk kecantikan akan terus berlanjut. Lantas apakah upaya terbaiknya adalah mengurangi komoditi sawit? Hal ini sungguh menjadi dilema. Misalnya, upaya menggantikan lahan sawit dengan sumber minyak nabati lainnya pun bukanlah pilihan yang tepat. Menggantikan sawit dengan kacang kedele atau minyak biji bunga matahari berarti akan lebih banyak menggunakan lahan, bisa sampai sembilan kali lebih luas dari yang dibutuhkan kelapa sawit. Kemungkinan besar langkah ini menyebabkan pemindahan kehilangan keanekaragaman yang bukan lagi orangutan, namun beruang misalnya. Jika kelapa sawit tidak ada, dunia tetap akan menghadapi permintaan minyak tumbuhan yang sama.

Lalu harus bagaimana?

Lestarikan cantikmu dengan sustainable beauty.

Sawit harus ada, namun dengan tata kelola yang baik. Jika sawit benar-benar hilang, permintaan minyak nabati akan beralih pada jenis tumbuhan lain yang membutuhkan lahan besar. Pergunakan sawit dengan sewajarnya, dan berhenti untuk memasuki ranah pembuatan produk kecantikan. Biarkan produk hutan lain dibudidaya dengan lebih masif, misalnya menggunakan bahan HHBK (Hasil Hutan Bukan Kayu) yang tidak perlu penebangan pohon dan alih fungsi hutan.

Sustainable beauty menjadi jawaban dari permasalahan ada sebab menggunakan bahan alami non kayu sebagai bahan dasar pembuatan skincare product. Madu, contohnya. Selain bisa menghasilkan madu, lebah membantu penyerbukan bunga. Petani harus menciptakan lingkungan yang ramah bagi lebah yakni dengan penanaman tumbuhan berbunga.

Komoditas lain yang bisa digunakan adalah kayu manis, kopi, sea salt, tea tree, rose water, sandalwood, grapeseed oil, coconut oil, dan masih banyak lain. Budidaya ini telah banyak dikembangkan di banyak kabupaten di Indonesia yang tergabung dalam Kabupaten Lestari yang tersebar di banyak wilayah di Sumatera, sebagian Kalimantan dan Sulawesi.

Kabupaten lestari telah menghadirkan banyak produk lokal yang mengusung konsep sustainable beauty atau cantik lestari sebab membawa banyak manfaat tak hanya bagi konsumen dan lingkungan, namun juga produsen. Bayangkan, dari budidaya madu saja, banyak pihak yang diuntungkan yakni petani madu, penjual bibit bunga, produsen madu, pemerintah kabupaten, dan lainnya. Keuntungan yang nyata ini selanjutnya dikenal dengan prinsip Ekonomi Lestari yang menawarkan model pembangunan yang menjaga lingkungan, penyejahterakan masyarakat dengan budidaya produk turunan berbasis alami yang dikemas lestari.

Solusi bagi bumi nyata ada di antara kita. Bagi wanita, cermatlah dalam memilih produk kecantikan yang lestari. Mari menggunakan produk yang alami, lokal, dan diproduksi oleh produsen yang nyata terintegrasi dengan pihak-pihak yang mendukung kelestarian alam.

Cek kandungan skincare-mu, mari beralih menuju cantik lestari 🙂

***

Artikel ini diikutsertakan dalam lomba blog Lestarikan Cantikmu yang digagas oleh Kabupaten Lestari, Madani Berkelanjutan, dan Blogger Perempuan

Sumber :

  • https://madaniberkelanjutan.id/2020/01/20/dilema-komoditi-sawit
  • https://kelingkumanggroup.co.id/news/keling-kumang-dampingi-petani-lebah-madu
  • https://www.bbc.com/indonesia/media-50499890
  • https://link.springer.com/article/10.1007/s00244-015-0227-7

You might also enjoy:

6 Comments

  1. Nah benar mba. Sebagai perempuan kita harus teliti memilih produk kecantikan yang tepat. Dan juga tak menganggu kelestarian alam. Stau hal yang mungkin kadang terabaikan ya mba

  2. Bener banget, salah satu menyayangi bumi bukan sekedar membuang sampah pada tempatnya tapi juga pemilihan skincare dengan kandungan yang tepat…

  3. bener banget sih memang bumi makin parah dalam pemanasan global. yang juga berpengaruh selain skincare sebenarnya adalah peternakan, gas emisi dari peternakan juga cukup berdampak besar. smoga makin banyak cosmetic yang beralih ke bahan ramah lingkungan

  4. Pas banget tadi temanku bertanya soal scrub yg gak mengandung mikroplastik. Akupun baru aware soal.per-scrub-an ini yg ternyata mengandung mikroplastik. Gm, emang agak susah sih milah2 ingre akincare krn kdg kita kurang paham akan hal ini.

  5. Banyak bahan alami dari Indonesia yang berkualitas untuk kecantikan ya hanya belum dikelola dengan baik, sebaiknya jangan terlalu bergantung pada sawit ya Zahra

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *