Siapa sangka, di usiaku yang ke-30 tahun, akhirnya aku bisa berfoto dengan novel karyaku sendiri!

Bagi sebagian orang, pencapaianku ini terbilang biasa saja. Sudah banyak orang yang berhasil menulis buku, bahkan di usia yang terbilang sangat muda. Namun bagiku, pencapaian ini adalah buah dari perjalanan panjang merelai segala penundaan, kesempurnaan, juga egoisme yang ada dalam diriku sendiri.

Sedikit kutahu, justru di titik terendahku itu, aku menemukan kekuatan untuk mewujudkan mimpi yang telah ada sejak kecil. Adalah karena penyakit botulisme yang kuderita setahun lalu, aku sampai di titik keberanian untuk menulis buku perdanaku.

Teman-teman, let me present to you, Metamorfosa Botulisme.

Cerita di Balik Metamorfosa Botulisme

Semua bermula ketika satu per satu kemampuan ototku berkurang. Itulah masa yang begitu kelam bagiku, titik nadirku. Aku tak mampu beraktivitas normal, menelan, tersenyum, mengernyitkan dahi, menggerakkan anggota wajah, bahkan bernafas. Aku nyaris seperti mayat hidup.

Berselang waktu kemudian, setelah dua kali salah diagnosa, dokter akhirnya menemukan penyakit yang kuderita. Botulisme, itulah namanya. Sebuah penyakit langka yang menyerang saraf dan otot ini terbilang langka. Aku bahkan menjadi satu-satunya pasien botulisme di Jepang pada tahun 2020.

Tiga puluh satu hari lamanya aku dirawat di Rumah Sakit Rosai di Yokohama. Selama itu, aku seperti masuk ke dalam dimensi yang rasanya seperti ada di akhir masa hidupku. Di ketidakberdayaan itu, aku mengingat seluruh dosa-dosaku, juga mimpi-mimpiku yang tertunda. Ingin sekali rasanya aku hidup normal kembali, namun saat itu pintaku pada Tuhan hanyalah agar Dia ridha padaku.

Ketika pada akhirnya Allah selamatkan aku dari masa kritis, aku mulai berjanji pada diriku sendiri untuk merangkai beberapa mimpiku yang tertunda. Menulis buku, itulah salah satunya.

Kalian tahu, selama dirawat sebulan ini, aku dan keluargaku dilimpahi kasih sayang yang tak terbatas dari rekan-rekan sesama perantau di Jepang. Ada yang merawat bayiku, ada yang menjaga balitaku, ada yang mengirimi makanan, memberikan hadiah, memberikan support materil yang sangat melimpah, dan lainnya.

Aku harus menulis buku tentang kisah ini. Sebagai bukti syukur telah selamat dari penyakit mematikan bernama botulisme, juga rasa terima kasih kepada mereka yang memiliki hati begitu tulus dalam membantu kami.

Tentu saja niat terbitnya buku ini jauh dari riya’, lebih kepada untuk tasyakur bini’mah atas tangan-tangan kebaikan yang aku dan dan sekeluarga terima. Aku pun berharap bahwa dengan terabadikannya kisah ini, keberkahan senantiasa melimpahi mereka yang telah begitu baik memberi nafas baru di kehidupanku. Segala waktu, tenaga, pikiranku yang terkuras demi lahirnya karya ini, juga semoga bermetamorfosa menjadi kebaikan bagi mereka.

Restu Suami

Terpaparnya diriku akibat racun botulinum yang mematikan itu, tak lepas dari lemahnya fisik dan mentalku saat itu. Aku memang sedang dalam kondisi yang tidak fit, pikiranku pun tak karuan akibat beban mental yang kualami.

Pernikahan dengan suami yang seringkali tidak mulus, interaksiku dengan keluarga yang kurang harmonis, perceraian kedua orang tua, juga dinamika menjadi ibu rumah tangga telah benar-benar membuatku rapuh. Aku merasa harus tetap kuat, namun rupanya ketika bakteri itu menyerang tubuhku, pertahananku lemah juga.

Oleh karena kisah sakit ini amat berhubungan dengan lika-liku pernikahanku, aku merasa perlu menyisipkan kisah cinta kami di dalam novel ini. Ada bagian dimana aku dan suami bersitegang, ada pula yang berbahagia. Aku perlu meminta izin dan restu suami untuk membagikan kisah ini. Untungnya, suami berkenan dan proses penggubahan buku ini terasa amat lancar.

Proses Kreatif Metamorfosa Botulisme

Sebenarnya ide awal menulis buku ini lahir ketika aku masih di rumah sakit. Saat itu aku berjanji untuk menulis buku jika Allah memberiku nafas kehidupan kembali. Maka, aku meminta suami untuk membawakan buku catatan dan pulpen supaya aku bisa menulis diary, meski saat itu pandanganku masih buram dan tanganku masih lemah. Aku pikir, daripada diam termenung di rumah sakit, lebih baik aku menyibukkan diri dengan yang aku suka, meski masih dalam batas alakadarnya.

Lahirnya buku ini terbilang cepat. Proses gubah secara intens dilakukan selama 4 bulan, dari mulai merapikan catatan diary selama di rumah sakit, riset, juga editing. Semuanya dilakukan dengan amat menyenangkan. Waktu pun terasa luang, sebab sejak itu anak-anakku sudah masuk hoikuen sehingga aku memiliki banyak waktu untuk menulis.

Oh ya, aku ingin bercerita sedikit tentang riset penyakit ini. Aku dibuat tercengang-cengang dengan cerita tentang botulisme ini, dari mulai tingginya angka kematian, rencana penggunaan racunnya sebagai senjata biologi di Perang Dunia, sampai botulinum yang digunakan di dunia kecantikan. Kalian penasaran? Tenang, aku pun menyelipkan fakta-fakta ini di buku Metamorfosa Botulisme. Kalian bisa baca juga ikhtisar jurnal terkait kasus botulisme di Jepang yang bisa dihitung jari dalam buku ini.

Setelah naskah selesai, aku berpikir untuk menerbitkan buku ini dengan segera. Aku tidak bisa memilih penerbit mayor karena waktu seleksinya memakan waktu 6 bulan – 1 tahun. Maka, aku memilih penerbit indie, dan pilihanku jatuh ke Ellunar Publisher. Sungguh, bekerjasama dengan Ellunar itu sangat menyenangkan. Aku amat puas dengan pelayanan mereka, dari jasa editing, layout, cover design, pengiriman, hingga penjualan. Aku rasa Ellunar sangat cocok bagi teman-teman yang baru akan menerbitkan buku indie.

Kado Indah di Usia 30 Tahun

Mengapa aku ingin buku ini terbit lebih cepat?

Alasannya, aku ingin Metamorfosa Botulisme lahir di bulan November, yakni bulan kelahiranku 🙂

Benar saja, awal rencana buku ini terbit tanggal 23 November 2021 (hari dimana diriku tepat berusia 30 tahun) dan mulai dikirimkan ke pembaca di Indonesia dua hari setelahnya. Maka itu, buku Metamorfosa Botulisme baru bisa aku terima di Jepang pada bulan Desember.

Namun, Allah selalu punya cara untuk menyenangkan hamba-Nya.

Metamorfosa Botulisme lahir lebih cepat, di awal bulan November. Maka itu, proses pengiriman ke Jepang pun bisa lebih cepat, dan bisa aku terima sebelum tanggal 23 November. Maka itu, pada akhirnya tepat di hari ulang tahunku, aku bisa berfoto dengan bukuku sendiri. Masya Allah.

Ini adalah mimpiku sejak lama. Menulis buku. Perlu waktu yang sangat panjang untuk aku sampai ke tahap ini. Perlu sakit dulu, mengalami ragam pedih yang rasanya menyesakkan. Bagi sebagian orang pencapaianku ini biasa saja. Tapi bagiku, ini luar biasa dan aku berterima kasih pada diriku.

Kata Orang Tentang Metamorfosa Botulisme

Selang sebulan sejak terbitnya buku Metamorfosa Botulisme, banyak teman-teman yang semakin merasa tahu betapa ganasnya penyakit langka ini. Namun, banyak juga di antara mereka yang gemas akan perilaku suamiku yang kujadikan sebagai cerita konflik di buku ini.

Tenang, bukankah sebuah novel memang harus memiliki konflik? Bukankah hidup juga selalu diselingi dengan problema?

Lagi pula, izin suami sudah kukantongi. Maka tujuan dari dituliskannya ketegangan kami pun untuk diambil kebaikannya bagi banyak orang.

Alhamdulillah, bagi mereka yang sudah menuntaskan buku ini, mereka merasa kisah pernikahanku begitu relate dengan mereka.

Pada akhirnya, buku ini tidak menyogal kisah aku dan botulisme, namun jauh dari itu. Buku ini mengisahkan tentang pernikahan, mimpi, juga keberkahan yang ada di titik terendah.

Alhamdulillah atas segala respon baik akan hadirnya buku ini. Sebagai penulis, aku merasa buku ini jauh dari sempurna. Masih banyak typo, layout yang kurang tepat, ide gagasan yang belum sempurna. Namun, selayaknya bagaimana hidup ini, buku ini memang sudah digariskan untuk terbit sesuai dengan target yang sudah kutancapkan.

Dimana Beli Metamorfosa Botulisme?

Untuk teman-teman di Indonesia, Metamorfosa Botulisme bisa dibeli di Ellunar Publisher dengan no WA 0896 8530 9651.

Untuk di Jepang, update hingga 22 Desember 2021, stok buku Metamorfosa Botulisme sudah habis :’ Namun, teman-teman dapat membacanya di beberapa reading points berikut:

  • Forum Lingkar Pena Jepang @FLPJepang
  • IPMI Jepang @ipmijepang
  • PPIP Jepang
  • Sekolah Republik Indonesia Tokyo

Sebagai penutup, saya ingin menyematkan tagline Metamorfosa Botulisme

“Titik balikmu, bisa jadi ada di titik terendahmu.”

Akhir kata, terima kasih kepada teman-teman yang sudah membaca blogpost ini dan juga buku Metamorfosa Botulisme. Semoga ada kebaikan yang bisa diambil dari keduanya 🙂

Salam,

You might also enjoy:

14 Comments

  1. hi mba zahra, selamat untuk peluncuran bukunya yah, turut senang dengan hadirnya buku yang terinspirasi dari pengalaman mba zahra pribadi, semoga semakin banyak orang yang teredukasi tentang penyakit botulisme, aku pun baru tahu dari membaca tulisan mba zahra ini.

  2. Keren sekali mbaa, congrats ya akhirnya bisa nerbitin buku sendiri ❤ dari sini aku jd tau apa itu botulisme. Behind story nya aja sangat berkesan saat dibaca. Jadi penasaran untuk baca bukunya .

  3. Perkenankan aku mengucapkan 2 selamat. Selamat atas kemanangannya melawan penyakit langka dan terbitnya novel Mba! Sungguh suatu pengalaman yg berharga, menyentuh hati, dan gak semua orang bisa melewatinya seperti Mba. Semoga senantiasa diberkahi kesehatan dan bukunya laris manis. ya

  4. Luar biasa nih, Zahra sudah mampu melewati masa-masa terkelam yaaa kalau boleh dibilang gitu.
    Jadi pengin ikutan baca nih buku Metamorfosa Botulisme-nya. Semoga teringat untuk segera pesan melalui nomor WA yang disebutkan di atas.

  5. Barakallahu fiik, kak Zahra dengan bayi barunya “Metamorfosa Botulisme”
    Semoga menjadi doa dan keberkahan dalam menjejak literasi yang kekal. MashaAllah~
    Perjuangan yang panjang untuk bisa memetik hikmah yaa.. Tabarakallahu.

  6. Alhamdulillah barokallah sudah berhasil berjuang melawan Botulisme. Aku saja baru tau nama penyakit ini setelah membaca artikel ini. Selamat juga karena berhasil menulis buku. Semoga menambah kebahagiaan. Yang masih jadi pertanyaan, bagaimana bisa kena racun Botulisme? Apakah dari makanan atau dari yang lain?

Leave A Comment

Your email address will not be published.