“Aku gak cantik lagi, kasian suamiku. Kulitku kusam berjerawat, tidak langsing, tidak putih, tidak menarik. Aku juga hanya diam saja di rumah, tidak bekerja atau berorganisasi. Aku tidak biasa mengurus rumah tangga sepanjang waktu, ah, masakanku juga payah. Aku rindu traveling, nyetir mobil sendirian kemanapun aku mau, beli skincare sesuka hati, dandan minimalis keluar rumah, pake wedges, ngendarain motor semau aku. Sekarang aku merasa gak berguna. Zahra, kenapa aku jadi orang yang tidak percaya diri seperti ini?”

***
Ā 
Mrs. Overthinking, itulah namaku di tahun 2017. Seharusnya aku bisa bahagia di tahun ini sebab aku menikah dengan lelaki yang aku cintai. Tapi ternyata pernikahan itu tak hanya menyoal finding your Mr. Darcy, tapi juga tentang embrace your imperfections.


Saat masih single dulu, aku tidak tahu sama sekali apa itu insecure. Semua hal yang terjadi di hidupku berjalan dengan baik dan aku tak mengenal rasa tidak percaya diri. Ya, aku sedangĀ on fireĀ saat itu sehingga hampir semua hal yang kuinginkan bisa tercapai.

Setelah menikah, kudapati ternyata diriku banyak kekurangannya. Tentang fisik, kemampuan mengurus rumah tangga, manajemen emosi dan waktu. Belum lagi dengan adanya larangan dari suami supaya aku tidak melakukan ini dan itu. Semuanya seakan berpadu sehingga menyebabkan aku merasa tidak mampu menjadi istri yang baik untuk suamiku.

Celakanya, pikiran negatif itu membuatku semakin terjerembap. Aku menjadi sosok yang berbeda dibanding saat single dulu : wajah kusam, sorot mata yang tidak bersinar, moody, mudah tersinggung, tidak percaya diri, merasa rendah diri dan tidak berguna.

Aku tahu bahwa ada yang salah dari diriku, tapi aku tidak tahu cara untuk memperbaikinya. Upaya perbaikan ibadah dan berpikiran positif sudah dilakukan, tapi nampaknya aku butuh bala bantuan. Iya, aku tidak bisa seorang diri menghadapi diriku yang rumit ini.

Maka akhirnya kuceritakan setiap detail kondisiku kepada Shantiara, sahabatku. Salah satu solusi yang ia tawarkan adalah supaya aku gabung di Komunitas Ibu Muda Indonesia (KIMI) yang mana dulu Ira pernah mengajakku. Saat itu aku menolaknya, namun untuk ajakannya yang kedua ini aku mengiyakan. Aku pikir tidak ada salahnya juga gabung di komunitas ini, meski jujur aku tidak memiliki ekspektasi apapun.

KIMI membuka tahun 2018 dengan tagline ‘Menuju Glowing 2018’. Sebab untuk menjadi glowing bukan hanya menyoal skincare yang kamu pakai, tapi juga apa yang ada di dalam dirimu.

Setiap perserta diminta untuk mengirimkan foto (untuk di buku rapot KIMI) dan menuliskan impian yang ingin dicapai di tahun 2018. Jujur saja aku tidak ingat semua mimpi yang aku tuliskan kecuali rumah berhasil terjual dan kuliah lagi. Poin rumah berhasil, tapi tidak dengan impian untuk bisa kuliah di luar negeri. Hm, di sini terlihat kalau aku ternyata banyak magernya. Oiya kalau tidak salah aku menulis mimpi lebih dari yang diminta oleh KIMI. Hm, di sini terlihat sekali kalau aku serakah.

Siap bergabung di KIMI, berarti siap juga digosok, ditampar, disayat dan bertahan. Di awal gabung, jujur saja aku merasa kurang sreg dengan cara kerja KIMI. Kenapa kalau menasihati orangĀ straight to the point a.k.a sangar banget sih? Kenapa juga grup ini jadi tempat muntahan emosi dari para bebo yang lagi curhat?

Aku sampaikan kegelisahan ini ke Ira dan ia hanya bilang : Bertahan ya, Jah!

Keanehanku pada KIMI bertahan cukup lama yakni 6 bulan. Artinya, aku harus melalui 6 KIMI challenge untuk pada akhirnya bisa mengerti cara kerja KIMI dan merasakan perubahan besar yang dibuat KIMI padaku. Lihat, lama sekali ya?

Semua proses yang diberi KIMI itu tidaklah instan. Dan justru ketidak-instan-an itulah yang membuat perubahan dalam diriku itu nyata adanya.

Janganlah mengira setelah bergabung di KIMI kita bisa selamanya bertahan di sana. Sebab setiap bulannya ada KIMI Challenge yang sukses membuat bebo yang tidak siap melakukan prosesnya, gugur dari medan perang. Di celeng (sebutan bebo untuk challenge) awal, aku nyaris saja gugur. Di situlah aku sedang diproses untuk mengenal diriku yang ternyata senang sekali menyalahkan orang lain, mager, suka menunda, tidak tepat waktu dan bermental korban.

Januari – Beberes
Celeng dimulai dengan menyortir mana barang yang diperlukan dan mana yang tidak. Di sini aku berproses untuk melepaskan hal yang tidak lagi penting dalam hidupku. Prosesnya sungguh membuatku pening karena selama ini aku senang sekali menyimpan barang yang tidak aku butuhkan. Namun aneh sekali saat melepaskannya, timbul perasaan tidak rela.Ā Ah mungkin nanti perlu adalah kalimat yang seringkali mampir di benakku.

Februari – Start From Your Smile
Memasuki bulan Februari artinya due date kelahiran anakku semakin dekat. Aku mempersiapkan segalanya namun cenderung abai pada celeng KIMI yaitu periksa ke dokter gigi. Seharusnya celeng ini lebih mudah aku lakukan sebelum anakku lahir, tapi aku menundanya hingga molor sampai Februari pergi. Di celeng ini aku hampir menyerah, sebab aku nyaris tidak bisa pergi ke dokter gigi. Selain karena bayiku baru saja lahir, tidak ada siapapun yang bisa mengantarku sebab saat itu hanya ada aku dan mertuaku di rumah. Namun karena ada tekad untuk memperjuangkannya, akhirnya aku bisa pergi ke dokter gigi dengan berbagai drama. Lihat, aku ini orangnya suka menunda ya?

Maret – Hati Gembira Adalah Obat

Di bulan Maret ini aku menyelesaikan dua celeng : pergi ke dokter gigi (syukurlah bupon memberi waktu untukku lulus celeng bulan Februari) dan mengulas buku Hati yang Gembira Adalah Obat karya Sophie Navita. Buku itu tidak terlalu tebal dan aku enjoy sekali membacanya karena terasa begitu personal. Aku seperti merefresh pola pikir saat membaca ini dan aku sangat menyukainya. Celeng bulan ini membuatku semakin mengerti bahwa aku punya ketertarikan yang besar pada buku.

April – Push Awareness

Celeng bulan ini menuntunku untuk mencari tahu seminar atau workshop mana yang memang aku butuhkan. Oleh karena baru saja menjadi ibu, seminar bertemakan parenting adalah yang kutuju. Alhamdulillah aku dimudahkan untuk mencari tahu informasi itu dan hadir dengan sepenuhnya di sana. Sehingga saat kembali ke rumah, bekal ilmu sungguh menanti untuk dipraktekan.

Mei – Belajar Cukup
Di celeng ini aku diminta kembali untuk menyortir barang yang tidak lagi dipakai, namun fokus di kamar mandi dan dapur. Menurutku celeng ini memerlukan pola komunikasi yang baik dengan anggota rumah lain. Sebab saat itu aku tinggal di dua rumah yakni rumah orang tuaku dan mertuaku. Untuk itulah di celeng ini aku belum bisa dengan leluasa menyortir barang yang ada.
Juni – Prasangka Baik
Inilah tahap dimana pada akhirnya aku cinta pada KIMI. Celeng ini memintaku untuk meet up atau video callĀ dengan anggota KIMI yang belum pernah kukenal sebelumnya. Di sini aku berproses untuk menanggalkan rasa malu berkenalan dengan orang baru dan ternyata saat melewatinya aku sangat bangga dengan diriku.
Juli, Agustus Ā – Innerchild
Di bulan Juli para bebo diminta untuk meet up lagi dengan bebo KIMI lainnya dan alhamdulillah saat itu aku bisa bertemu dengan banyak bebo termasuk dengan bupon dan Teh Beb. Hua, senang sekali rasanya! šŸ™‚
Dari semua celeng KIMI, inilah celeng yang paling berkesan untukku.Ā Jadilah apa yang kamu citakan dulu, itulah maksud dari celeng ini. Saat itu aku dipaksa mengingat masa lalu pahit saat harus melewati celeng ini. Akhirnya aku tahu bahwa cita-citaku bukan menjadi dokter atau guru, tapi untuk menjadi mahasiswa ITB. Mengingat momen itu dadaku bergetar dan air mata sulit sekali untuk diberhentikan. Iya, aku mau jadi mahasiswa ITB, dan melalui celeng ini aku berhasil mewujudkannya meski hanya 2 jam. Sebuah pengalaman berharga yang mengubah diriku untuk mampu berdamai dengan diri.
September – Do What You Love
Bulan ini tidak ada celeng, para bebo diminta untuk melakukan hal yang disukai. Di bulan ini aku mulai menata impianku kembali dengan mulai membuat antologi dan optimasi blog. Meski begitu hal tidak berjalan dengan baik di bulan ini. Tapi tak mengapa itu adalah proses untukku belajar dalam hidup.
Oktober – Belajar Mendengarkan
Meski terlihat simpel, celeng ini ternyata sulit sekali. Aku jadi semakin mengerti jika aku ini lebih sering berbicara daripada mendengar. Untuk melewati celeng ini, aku bertekad untuk mendengar sepenuhnya saat berbicara dengan suami dan adik bungsuku. Meski kadang berhasil dan tidak (tapi aku akan terus belajar untuk mendengarkan), ada progres baik yang dalam hubunganku dengan suami.
November – Thanks to Me
Inilah akhir dari semua challenge yang KIMI tawarkan. Terima kasih, Zahra, atas semua upayamu untuk merubah dirimu menjadi lebih baik. Terima kasih untuk mau bergerak, menata hidup, berani dan bertahan. Aku tahu, kamu baru saja memulai hidupmu. Maka teruslah maju, gerak, konsisten, sebab mimpi sendang menunggu untuk kamu jemput.
Alhamdulillah sudah dua belas purnama bersama KIMI. Menuju glowing 2018 itu terasa. Pola pikirku berubah ke arah yang baik, ada lebih banyak senyum di wajahku, less drama dengan suami dan wajahku tampak lebih cerah. Alhamdulillah tak henti rasa syukur dipertemukan dengan KIMI.KIMI, hal yang tak kuhiraukan di awal, ternyata mampu membawa perubahan besar dalam diriku. Semoga Allah berkahi setiap insan yang berperan dalam perwujudan kelompok ini. Dan terima kasih bupon, Teh Beb dan bebo KIMI lainnya atas satu tahun penuh gosokan ini. Aku mau terus berproses bersama kalian di KIMI, untuk semakin kenal dan mencintai diri sendiri, juga melakukan suatu hal bukan karena pengakuan orang lain.

Bismillah untuk 2019 yang lebih bersinar šŸ™‚

You might also enjoy:

7 Comments

  1. I feel the same, Zahra :")

    Udah lama follow KIMI dan cukup bikin penasaran, ditambah baca postingan2 Zahra dan temen2 lain yang ikutan. Sempet galau ikutan atau engga kalau nanti buka pendaftaran lagi šŸ˜€ Perlu diyakinkan lagi hehe

  2. halo, salam kenal, ijah.. begitukah panggilannya?
    kayaknya istri saya perlu diajak tuh gabung KIMI... udah 5 tahun menikah masih aja tuh sering sama saya. klo buat para suami ada gak komunitas nya?

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *