Mata ini masih saja enggan terpejam, padahal hari ini lelah luar biasa. Rupanya diri ini masih dibayang-bayangi keindahan Lombok selatan siang tadi. Mana bisa aku lupa, pantai-pantai itu teramat sangat indah. Maha karya Allah selalu sempurna. Bayangkan saja, pasir pantai putih nan halus, batu karang kokoh sempurna dan buih-buih ombak menari-nari memikat hati. Dan lihatlah gradasi warna air laut itu. Hijau, biru muda dan biru tua, indah tak terkira! Aku rasa bidikan lensa kamera canggih manapun takkan mampu menyaingi apa yang kulihat dengan lensa mataku. Sempurna luar biasa.

Hari ini adalah hari terakhir Lombok Trip bersama Muslimah Backpacker. How time flies… Esok masing-masing dari kami harus terbang dari BIL Praya (bandara baru menggantikan bandara selaparang) menuju kotanya masing-masing. Itu artinya, kami akan berpisah. Maka, perjalanan hari ini harus ditutup dengan sesuatu yang berbeda dan berkesan. Kami putuskan untuk menikmati sunset di pantai Senggigi, pantai barat pulau Lombok. Butuh waktu sekitar 2 jam lebih berkendara dari Lombok Selatan ke Lombok Barat. Maka tidur di mobil adalah pilihan yang tepat untuk melepas lelah. Namun bagiku itu sulit.

Senang sekali rasanya bisa kembali ke pulau ini. Rasanya lebih puas karena bisa menjelajahi Lombok dari berbagai sisi. Empat bulan yang lalu, hanya Lombok Barat yang kukunjungi. Maka tak ayal memoriku akan suasana Lobar masih terekam jelas. Dua jam berlalu, akhirnya kami memasuki kawasan Lobar. Kulihat banyak papan bertuliskan Batu Layar. Dan kulihat lagi toko pusat kaos Lombok itu, Gandrung. Teringat, aku dan rekan sejawat rempong belanja di toko itu. Bukan rempong karena banyak belanja, tapi karena diburu waktu untuk agenda papakan selanjutnya. Et dah!


Perjalanan menuju pantai Senggigi tidak begitu lancar. Rasa gelisah tetiba menghampiri, ini kan weekend pasti banyak orang yang menuju Senggigi. Bagaimana kalau tidak sempat lihat sunset? Pak Aji, supir minibus yang rupawan hati, berusaha menenangkan kami. Pak Aji bilang mungkin ada arak-arakan pernikahan karena biasanya weekend tidak semacet ini. Dan itu memang benar adanya.

Pak Aji melambatkan laju mobil, akhirnya kami tiba di salah satu sunset spot Senggigi. Mataku lelah, kuputuskan untuk tidak narsis lagi saat langkah pertama berpijak di pasir Senggigi. Rasa salut menyapa kala melihat kawan-kawan masih semangat berfoto. Ah sudahlah, aku hanya ingin melihat bola merah raksasa itu terbenam dan menikmati keadaan sekitar. Itu saja.

Senggigi tidak seindah 3 pantai siang tadi. Pasir Senggigi hitam, ombaknya besar dan banyak sampah berserakan dimana-mana. Hal ini lumrah terjadi di pantai-pantai yang ramai dikunjungi pelancong. Hey ada yang menarik. Kulihat ada sejumlah orang berpakaian seperti orang Bali sedang mempersiapkan sesuatu. Hindu sepertinya. Tentu saja ada tanya dalam hati, apa ya yang akan mereka lakukan? Maka kuputuskan untuk berbincang dengan kawan-kawan Muslimah Backpacker (MB). Rupanya, mereka hendak melakukan upacara penyembahan di kala matahari terbenam nanti. Mmm menarik!

Sayup-sayup kudengar salah satu kawan berseru memintaku bergabung dengan yang lain. Formasi telah dibentuk, mereka saling bergandengan tangan membentuk garis lurus di tepi pantai. Ayo kita bikin foto siluet, katanya riang. Siluet? Kubalas seruan mereka dengan senyuman dan menghampiri mereka dengan setengah berlari. Begitu cepatnya tawa dan semangat itu menyebar. Nampaknya, lelah telah menguap ke langit dan berganti hujan semangat. Aku siap narsis lagi, aku mau difoto lagi. Hehe…

Tawa menghiasi kami senja ini, ah betapa beruntungnya aku dapat berkelana bersama mereka. Mereka datang dari berbagai daerah di Indonesia. Ada yang berprofesi sebagai penulis, karyawan, mahasiswa, pengusaha, guru dan ibu rumah tangga. Menikmati senja penuh canda bersama mereka membuat hati ini diliputi rasa bahagia dan… romantis. Ha!

Matahari perlahan turun dan kunikmati itu setiap detik. Entah siapa yang memulai, tembang lagu ‘Kemesraan’ mengiringi tenggelamnya sang surya senja ini. Kemesraan ini janganlah cepat berlalu… Kemesraan ini ingin kukenang selalu… Sempurna sudah lagu ini menggambarkan situasi hati. Tetiba hatiku diliputi rasa rindu. Ya rindu, pada sosok imajiner yang bahkan nama dan asalnya pun aku tak tahu. Rindu, kala menyadari bahwa dia belum jua datang menjemputku. Rindu pada sosok yang tercipta untukku. Rindu, aku ingin dia ada disampingku saat ini. Berdua menikmati senja dan membicarakan apa saja. Lalu terucaplah kata indah itu, Aku ingin seperti matahari, bersinar dan setia pada siang. Aku ingin seperti matahari, hanya meredup kala senja tiba. Tetaplah bersamaku, jadi teman hidupku, selamanya sampai senja menyapa kita.

Senyum simpul terlukis indah di wajahku. Potret indah masa depan yang kukarang sendiri. Abstrak. Spontan aku geli dan menggelengkan kepala, lamunan ijah ada-ada aja. Ah biar saja, akan kubuat lamunan ini menjadi doa yang menjuntai indah serupa tangga ke langit.

Senggigi, ini kali kedua kita bersua. Jika kau masih ingat, Juni lalu kuhabiskan waktu 5 hari bersamamu. Namun karena agenda papakan yang menggunung, aku tak sempat menikmati indah senja yang kau punya. Beruntungnya aku bisa kembali mengunjungimu di penghujung tahun 2013, kesempatan untuk lebih mengenalmu terbuka lebar. Aih, satu jam saja kita melepas rindu, rasanya aku semakin mengenalmu. Cuma 1 jam? Iya. Kontras ya. Aku semakin belajar bahwa keakraban dalam pertemanan tidak dihitung dari berapa lama kita berteman, namun dari kualitas pertemanan itu sendiri. Sedap!

Surya tenggelam sempurna, langit tampak menghitam dan romantisme seketika meluap. Saatnya kami pamit pulang, mengenang indah kebersamaan ini di hati masing-masing. Ah selalu begitu ya, ada pertemuan ada perpisahan.

Senggigi, sampai jumpa lagi ya…

~ Zahra Rabbiradlia ~

You might also enjoy:

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *