Tak kusangka, justru di usia 32 tahun ini, jalanku untuk menjadi Ibu Back To School terbuka lebar. Sebuah kesempatan yang kuinginkan sejak lama, sejak usiaku masih remaja.

Dulu, aku punya mimpi untuk bisa kuliah di perguruan tinggi favorit selepas lulus SMF. Namun karena izin orang tua tak kukantongi, aku harus bekerja sebagai product consultant di perusahaan farmasi. Dengan terpaksa, aku mengubur mimpi itu sementara, dan memilih untuk kuliah di Universitas Terbuka sembari bekerja.

Mimpi ‘Ibu Back To School’ yang Tertunda

Meski memang akhirnya aku lulus sarjana, hatiku selalu pedih ketika melihat teman-temanku bisa lulus dari UI atau ITB. Bahkan aku selalu menangis ketika masuk ke kawasan UI atau ITB ketika menghadiri kajian di sana. Ya, kuliah tatap muka di PT favorit, belajar dari dosen terbaik, berteman dengan teman-teman yang pintar, berjejaring di organisasi kemahasiswaan, dan mendapat peluang ke luar negeri lewat prestasi pendidikan adalah sebenar-benarnya impianku.

2018 ketika pura-pura jadi mahasiswa ITB 🙂

Meski tak berhasil kuliah di PT favorit karena kondisi keluarga, aku tetap berharap bahwa suatu saat nanti akan datang waktu baik untuk memperjuangkan mimpiku kuliah di luar negeri.

Akhirnya, waktu baik itu datang.

Suamiku, lelaki yang kucintai sejak aku masih duduk di bangku SMP itu, mengizinkanku untuk sekolah tinggi. Maka sejak 8 tahun lalu, dari pre-wedding hingga anak pertamaku berusia 1 tahun, aku mulai mempersiapan diri untuk kuliah di luar negeri. Aku membidik dua beasiswa saat itu: Chevening dan Stipendium Hungaricum, belajar IELTS di tempat bimbel di Bandung, dan ikut kelas persiapan beasiswa.

Namun sayang, aku gagal meraih dua beasiswa itu.

Sempat merasa down, tentu saja, karena sudah keluar jutaan rupiah untuk persiapan kuliah di luar negeri. Namun, aku mengubah mindset-ku. Ada banyak sekali pelajaran yang kuambil dari kegagalan ini. Salah satunya adalah pentingnya membuat strategi yang tepat, terlebih ketika statusku sudah menjadi ibu. Di sisi lain, aku menguatkan iman bahwa semua sudah digariskan Allah SWT. Sebagai hamba, aku hanya perlu manut saja.

Benar saja, akhirnya aku tahu mengapa aku gagal ke Inggris atau Hungaria. Rupanya, Allah menakdirkanku untuk ikut suami tinggal di Jepang. Masyallah!

Tinggal di Jepang dan Menunda Proses Kuliah

Sejak pertengahan 2019, aku resmi menjadi diaspora di Jepang. Pada tahun yang sama, akupun mengandung anak kedua. Adaptasi tinggal di LN itu cukup berat di tiga bulan pertama, terlebih aku pun harus sabar dan menahan pilu di lika-liku pasutri muda yang mudah sekali cekcok.

Ya, tahun 2019-2020 adalah masa-masa yang berat untukku, sehingga tak terpikir untuk memperjuangkan mimpiku lagi. Selain dua hal di atas, problem pasca perceraian orang tua dan terbakarnya rumah keluarga ibu pun menjadi pukulan yang berat bagiku.

Namun, masalah-masalah itu diselesaikan dengan manis oleh musibah terbesar yang terjadi pada hidupku: sakit Botulisme.

Botulisme, penyakit langka yang nyaris merenggut nyawaku itu, dengan ajaib menutup seluruh masalah hidupku. Aku mampu melihat dari kaca mata yang berbeda, bahwa seluruh pilu itu adalah cara Allah sayang padaku.

Sakit ini, membawaku pada pengalaman luar biasa. Ketika aku merasakan dengan lekat cinta Allah dan Baginda Nabi padaku. Rasanya aku ingin menerima seluruh cinta-Nya dengan sebaik-baik penghambaanku pada-Nya. Dan aku, tak mau lagi menyia-nyiakan hidup yang telah Allah karuniakan padaku.

Berupaya Memulai, Tetapi Jeda Kembali

Dengan tangan yang lemah dan pandanganku yang masih kabur karena sakit botulisme, kutuliskan mimpi-mimpi yang kan kuperjuangkan lagi bilamana Allah izinkanku sembuh kembali. Beberapa hal itu adalah mencintai keluarga (suami, anak-anak, orang tua dan mertua) lebih baik lagi, menerbitkan buku solo, dan kembali memperjuangkan mimpi kuliah lagi (ibu back to school) di luar negeri.

Alhamdulillah. Pasca dinyatakan sembuh, satu per satu mimpi itu terwujud. Relasiku dengan suami semakin membaik. Kami seperti menemukan titik temu dari perbedaan cara pandang dalam berbagai hal. Proses yang tidak instan dan tak selalu mulus, tetapi kami tahu bahwa kami sama-sama bertumbuh.

Aku pun berhasil menerbitkan buku solo perdana, yakni Metamorfosa Botulisme. Bagiku, proses kreatif buku ini adalah bentuk syukurku pada Allah yang memberkahi kehidupan baru padaku.

Selain itu, aku menyeriusi langkah untuk ibu back to school lagi sejak tahun 2021. Dimulai dengan kursus IELTS (lagi) di Lister gratis karena berhasil jadi pemenang lomba blog Lister.

Namun, langkahku harus terhenti karena ada hal lain yang harus dipersiapkan, seperti harus bekerja part-time untuk syarat kedua anakku masuk hoikuen, berkontribusi di berbagai komunitas di Jepang, dan serius ikut lomba blog untuk menambah penghasilan. Sepanjang tahun 2022, aku mengalami proses kehamilan anak ketiga yang cukup berat, dan resmi menjadi ibu beranak tiga di penghujungnya.

Lihat. Panjang, ya, perjalanan untuk memperjuangkan mimpi seorang ibu :’

Amerika Membangkitkan Semangat ‘Ibu Back To School’

Meski belum menemukan momentum yang tepat, aku tetap menjaga mimpi itu. Sampai akhirnya, pada awal tahun 2023, aku menemukan informasi lomba Bright Future Competition (BFC) dari Sampoerna University yang berhadiah jalan-jalan ke Amerika selama 2 minggu. Tanpa berpikir, aku mengikuti lomba itu.

Entah darimana kekuatan itu lahir. Nyaris setiap dini hari, selepas menyusui bayiku, aku melakukan riset dan menulis dua artikel kreatif untuk lomba BFC. Aku begitu bersemangat dan ingin mempersembahkan yang terbaik. Hasilnya, aku dinyatakan sebagai salah satu pemenang yang berhak pergi ke Amerika.

Ibu Back To School

Selama 2 minggu di Amerika, kuhabiskan 5 hari waktuku dengan mengunjungi Universitas Arizona. Di titik inilah, keinginanku untuk kuliah S2 di luar negeri semakin menggebu. Aku dapat merasakan langsung vibes kuliah di luar negeri dengan melihat fasilitas dan mempelajari kurikulum di Amerika.

Selain itu, aku bertemu dengan Nabila Ghaida, partner blogger yang juga juara lomba BFC, yang bercita-cita kuliah bisnis di Amerika. Ia bahkan sudah menyeriusi ini dengan banyak bertanya pada Pak George, CEO Sampoerna Foundation, yang merupakan lulusan Chicago Booth School of Business. Aku jadi tertular banyak oleh semangat Nabila 🙂

Di Amerika pun aku bertemu adik-adik SMA yang semuanya bercita-cita kuliah S1 di luar negeri. Belum lagi dengan perjumpaanku dengan mahasiswa Indonesia yang kuliah di Universitas Arizona. Masyaallah, semangatku semakin menggebu!

Perjalanan Panjang Menuju Awal ‘Ibu Back To School’

Melihat keleidoskop perjalananku menuju impian, tiada kata lain selain berterima kasih sudah berupaya memperjuangkannya, selalu. Meski segala tantangan seperti menghadang perjuangan ini, tetapi diri ini masih dan selalu bertahan.

Oleh karenanya, saat ini, aku mulai meniti lagi perjalanan menuju ‘Ibu Back To School’.

Tidak mudah, tentu saja. Sebab pada mula perjalanan ini banyak sekali hal yang harus diubah, dipelajari, dan dilakukan. Namun, bukan berarti aku tak bisa melaluinya.

Aku hanya perlu menyiapkan segalanya lebih kuat dan besar. Doa dan tekad adalah utamanya. Juga bertanya lebih banyak ke dalam diri, mencari mentor dan teman seperjuangan, belajar IELTS dan essay, juga menciptakan support system.

Aku adalah seorang ibu dan istri yang ingin terus belajar.

Mimpiku ini adalah juga upayaku untuk terus belajar.

Ini baru awal. Perjalananku masih panjang.

Namun aku yakin, aku akan sampai ke sana 🙂

Bismillah…

You might also enjoy:

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *