Pantai Tangsi
Gili Trawangan, Gili Air, Gili Meno adalah gili yang namanya sudah mahsyur. Ketiga gili tersebut terletak di Lombok Barat, wilayah yang paling sering dikunjungi wisatawan oleh karena ibukota Lombok terdapat di kawasan tersebut. Akses menuju wisata di Lombok Barat, termasuk di dalamnya ketiga gili tersebut, terbilang mudah. Selain itu, sarana untuk wisatawan sudah terbangun dengan baik.

Namun, sudah familiar kah kalian dengan nama Gili Sunut, Gili Kambing dan Gili Maringkik?

Ketiga gili tersebut terletak di kawasan Lombok Timur dan belum banyak dijamah oleh wisatawan. Untuk menuju ke gili-gili tersebut, kita perlu menuju Tanjung Luar untuk selanjutnya menaiki perahu untuk menjelajahi setiap gili. Tanjung Luar sendiri terkenal dengan pasar ikannya. Saya begitu tergoda dengan segarnya ikan laut yang baru saja ditangkap oleh nelayan. Namun seruan untuk menjelajahi pulau kecil seakan menahan sejenak bagi saya untuk membelinya.

Di perjalanan menuju gili-gili, kami melihat jermal yang dikelilingi oleh camar. Indah sekali rasanya bisa melihat camar bersahutan dari dekat. Pak Hadi, pemandu kami saat itu berkata bahwa kawasan ini sering dijadikan tempat untuk menangkap hiu. Setengah kaget saat mendengar Pak Hadi mengucap itu. Rupanya masih banyak nelayan yang belum mengindahkan seruan dari para aktivis lingkungan.

Jalan menuju Gili Maringkik dari Gili Kambing
Perahu semakin melaju dan sayup-sayup terdengar lantunan ayat suci Al-Qur’an dari gili di seberang sana. Itulah Gili Maringkik, yang saat mata kami tertuju padanya, terlihat deretan rumah dan tersembul di antaranya menara masjid. Di pulau kecil itu, terdapat sekolah dimulai dari TK hingga SMP. Sehingga untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang tinggi, anak-anak Maringkik harus angkat kaki dari pulau ini setiap harinya. Hal ini mengingatkan saya akan cerita anak-anak di Gili Sudak yang bahkan sedari SD sudah harus menyeberang pulau demi menuntut ilmu.
Jalan menuju Gili Maringkik sejatinya bisa kami tempuh dengan berjalan kaki. Jika air sedang surut, timbunan pasir bisa dijadikan pijakan untuk melangkah. Namun saat kami ke sana, air sedang pasang sehingga timbunan pasir tertutup air laut. Hanya deretan tiang listrik saja yang terlihat, yang menandakan bahwa benar ada jejak jalan yang tersembunyi di bawahnya. Inilah kali pertama saya melihat tiang listrik di tengah laut.
Perahu yang kami tumpangi akhirnya merapat di gili tak berpenghuni bernama Gili Sunut. Menurut Pak Hadi, dulunya terdapat pemukiman di pulau kecil ini. Namun karena akses dari dan menuju ke gili ini jauh, maka pemerintah memindahkan penduduk ke pulau Lombok. Hal menarik yang terdapat di gili ini adalah terdapat bangunan peninggalan Jepang. Apakah gerangan keistimewaan pulau ini sehingga menarik hati para tentara Jepang untuk membangun penjagaan di pulau kecil ini?

Perahu segera beranjak menuju pulau lainnya. Segera kami tiba di Pantai Tangsi atau lebih sering dikenal dengan Pantai Pink. Hatiku bersorak gembira. Bagaimana tidak? Pink merupakan warna favoritku, sehingga berkunjung ke pantai ini merupakan hal yang sangat menyenangkan.

Terumbu karang berwarna merah adalah penyebab pasir di pantai ini berwarna pink. Pantai ini masih sepi dari jamahan wisatawan, sebab saya hanya melihat beberapa orang turis asing baru saja tiba di pantai ini dengan menggunakan motor. Ya, akses menuju pantai ini bisa juga melalui darat dari pulau Lombok. Pantai pink ini begitu damai, sebuah keadaan hening yang menyenangkan. Namun sayang kami tak sempat melihat biota laut di dalamnya sebab hujan turun dengan segera.
Rasa haus untuk melihat biota laut di timur Lombok ini segera terpuaskan saat kami mampir sejenak di Teluk Semangkok. Masya Allah, sajian terumbu karang dengan beragam biota lautnya teramat sangat indah. Bahkan cerminan keindahan tersebut telah terlihat dengan jelas dari atas perahu.
“Masih ada 1 spot lagi untuk snorkeling. Ayo kita menuju Gili Petelu!”
Pak Hadi menyeru kami untuk segera naik ke atas perahu untuk menuju Gili Petelu. Benar saja, nemo dan terumbu karang di sini aduhai indahnya, bahkan dari tepi pantai sekalipun.
Suguhan keindahan bawah laut yang ditawarkan Lombok Timur sangatlah melegakan. Sore telah tiba dan saatnya kami untuk beranjak pulang. Namun sebelum kami sampai di Pulau Lombok, kami mampir sejenak di Gili Pasir untuk menikmati indahnya sunset di pulau tak berpenghuni ini.
Gili Pasir
Keindahan Gili Pasir nampak jelas dari undakan pasir yang seirama. Untung saja air laut sedang surut sehingga kami bisa menjejakan kaki di pulau yang seakan menjadi hantu saat air sedang pasang. Sore itu, bias lembayung senja semakin menambah nuansa hipnotis yang ditawarkan alam. Aduhai, indah nian. Beruntungnya saya lahir di bumi pertiwi yang indah ini.

Hari beranjak malam dan tiba saatnya kami untuk kembali pulang. Hari yang penuh dengan petualangan ini teramat sangat mengesankan. Duhai Lombok, kau selalu punya cara untuk membuatku terpikat. Semoga masih ada kesempatan lain untuk saya bertamu padamu lagi. Insya Allah 🙂

***
Tulisan ini merupakan catatan perjalanan Travel Writers Gathering 2015 bersama Badan Promosi Pariwisata Daerah Nusa Tenggara Barat. Tulisan lain terdapat dalam tags ‘TW Gathering 2015’.

You might also enjoy:

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *