Tertohok.
 
Pada tiap kata yang Nati sampaikan dalam kulwap mingguan KIMI ini, sungguh sangat menyentuh sisi egoisme dan sok tahu selama ini. Ternyata tauhid itu belum sepenuhnya mengakar dalam diri. Segala sesuatu ditakar dengan logika, lupa ada Allah Yang Maha Segala. Sehingga saat jatuh terjerembap, diri ini sering alpa pada Tuhannya. Ah, mengapa aku terlalu asyik masyuk dengan kesedihan?
 
Akhirnya aku mengerti, bahwa tujuan sebenarnya hidup adalah hidup bertuhan. Itulah nilai yang Nati Sajidah sampaikan pada kami. Nati yang merupakan seorang penulis buku, editor majalah dan scholarship hunter ini mengajak kami untuk memperbaharui tujuan hidup, untuk kemudian melukisnya. Kekayaan pengalaman yang ia dapat telah membuatnya matang dalam menyikapi kehidupan. Sehingga Allah memberi jalan baginya untuk berbagi, baik itu melalui pendidikan, komunitas, media sosial atau buku. 
 
Buku karya Nati Sajidah

Mengapa terasa sukar untuk menyandarkan diri pada-Nya saat resah melanda? Bukankah justru itu memudahkan?

Deg! Kalimat dalam buku Crayon untuk Pelangi Sabarmu itu membuat dadaku bergetar. Iya, mengapa logikaku seakan terbalik selama ini. Bukankah terasa mudah jika kita percaya bahwa Allah yang mengurus makhluknya? Mengapa dibuat sukar? Rupanya aku terlalu senang menyusahkan diri sendiri dengan pikiran liar yang kumainkan sendiri. 

Crayon untuk Pelangi Sabarmu ini dipenuhi ajaran Ahad yang tinggi. Sehingga aku seakan diingatkan kembali bahwa segala resah yang menyesakkan dada terjadi karena aku tidak hidup bertuhan. Aku terlalu mengedepankan logika dan kemampuan diri sendiri. Tapi apakah itu menenangkan hatiku?

Tentu tidak. Salah, keliru. Aku terlalu menuhankan akal, bukan menuhankan Tuhan. Nas akal amat lemah dan sempit, sehingga saat kita hanya mengandalkan prediksi akal, iman kita jadi kerontang, tak punya tujuan hidup. Salah, keliru. 

 
 

Aku harus bebenah. Ah, kita semua. Hijrah tak hanya perwujudan fisik seperti berhijab. Namun juga hijrah hati, jiwa dan akal. Hijrah sebenar-benarnya hijrah untuk hidup bertuhan, menyerahkan semua pada-Nya dan mempelajari ilmu-Nya. Lalu, bagaimana cara untuk bisa hidup bertuhan?

Seringkali kita mendengar himbauan agar hidup sesuai dengan Al-Qur’an dan Sunnah. Hal itu tentu saja benar. Namun ada satu hal yang terlewat dan celakanya ini sangat signifikan, yakni tentang bagaimana cara kembali ke Al-Qur’an dan Sunnah yang sesuai dengan Al-Qur’an dan Sunnah.

Ternyata, caranya tidak hanya cukup dengan menghafal Al-Qur’an dan terjemahannya saja. Perlu cukup ilmu untuk mengetahui petunjuk dari ayat Al-Qur’an dan Hadits Nabi. Misalnya pada Hadits Nabi, kita perlu tahu asbabul wurud-nya, kepada siapa Nabi bersabda demikian, bagaimana istinabtul ahkam-nya dan sebagainya. Ya, ada banyak sekali yang harus dikuasai.

Contohya adalah saat Nati kuliah di jurusan Tafsir dan Hadits. Ia dibuat terhenyak saat mengetahui bahwa untuk mampu mengerti maksud ayat Al-Qur’an, sedikitnya ada 70 cabang ilmu yang harus dikuasai. Jika seperti ini, sulit bukan agar kita bisa mendapat petunjuk hidup dari Al-Qur’an dan Sunnah?

Sebelum menjawab itu, ingatkah kita bahwa Allah mewahyukan Al-Qur’an kepada Nabi Muhammad dengan perantaraan Jibril?

Aha! Kalau begitu, kita pun perlu perantara untuk memahami kalam Allah. Ya, inilah jalan pintasnya. Sang perantara itu adalah guru. Sebab kewajiban untuk menguasai ilmu agama (pengambilan hukum dari wahyu) tidak dibebankan kepada seluruh muslimin. Lantas, guru seperti apa yang seharusnya kita berguru kepadanya?

Guru yang silsilah keilmuannya sampai kepada Kanjeng Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam.

Coba bayangkan saat kita sedang sakit, tentu kita akan datang kepada ahli yang mampu mengobati yakni dokter. Kita akan memilih dokter terbaik untuk diri sendiri, dimulai dengan mencari tahu dokter ini lulusan mana, praktek dimana dan testimoni pasien lain. Padahal ini untuk urusan duniawi, untuk urusan kesehatan jasad. Untuk urusan kesehatan ruhani, seharusnya kita melakukan hal yang sama. Kita harus seserius itu mencari guru yang tepat untuk akhirat kita. Guru yang belajar agamanya benar-benar dari ahlinya.

Sebagai seorang awam, tentu kita akan bertanya : Bagaimana cara mencari guru yang tepat sesuai dengan kaidah di atas?

1. Usaha

Dalam analogi sakit tadi, kita akan berusaha mencari tahu dokter terbaik untuk mengobati penyakit kita. Kita rela mengantri dan membayar panjang hanya untuk konsultasi dengannya. Hal yang sama seharusnya kita lakukan dalam mencari guru hidup. Sebab nanti yang akan dimintai pertanggungjawaban adalah ruh kita, bukan jasad. Ingatlah, kesehatan ruh kita sangat bergantung pada bagaimana kita merawatnya dalam bimbingan agama.
 
2. Cari tahu latar belakang pendidikan guru
Dalam proses usaha tersebut, poin utama yang harus kita pegang adalah latar belakang pendidikan guru. Apakah beliau berguru atau otodidak? Sebab sebuah riwayat mengatakan, “Barangsiapa yang belajar tanpa guru, maka gurunya adalah syaitan”. Cari tahu pula perihal silsilah keilmuan sang guru, apakah sampai kepada Nabi Muhammad?
Nati sendiri berguru kepada guru lulusan dari Ponpes Cipasung yang mana silsilah keilmuannya sampai pada Nabi Muhammad. Pada saat menulis buku Crayon Untuk Pelangi Sabarmu, Nati meminta arahan dan bimbingan Sang Guru untuk memverifikasi, apakah Nati sudah melakukan apa yang tertulis sehingga layak dibaca orang lain? Maka dengan izin Allah, banyak sekali yang merasa terbantu dengan buku ini. Nati meyakini bahwa hal ini terjadi karena bimbingan Sang Guru, yang mana hatinya selalu terpaut kepada Allah.

 

3. Jangan hanya belajar agama dari buku atau artikel

Apa yg terjadi jika kita membaca sendiri? Bukankah seringnya kita mengambil kesimpulan sendiri?

Kembali ke analogi sakit tadi. Kita seringkali mencari artikel kesehatan baik di buku maupun dunia maya. Namun pasti di ujung artikel itu selalu disebutkan agar kita mengkonsultasikan langsung kepada dokter. Mestinya untuk urusan agama dan akhirat, kita memandang lebih serius. Jika memang gemar membaca, sebaiknya kita mendiskusikan isi buku tersebut dengan Sang Guru agar tetap terkontol.

Mengaji di Youtube tentu saja boleh. Namun kita harus mencari tahu latar belakang pendidikannya apakah berguru atau otodidak. Tidak mau bukan kita mengontrol kesehatan kepada dokter yang belajarnya otodidak? Jika ustadz itu pernah pesantren, cari tahu pesantrennya dan silsilah keilmuannya.

4. Cari guru di majelis ilmu, bukan hanya di Youtube
“Jumat yg lalu, saya ikut tadarusan pengajian ibu-ibu di Masjid Pesantren. Masing-masing dapat jatah dua ayat Al-Quran. Tiba giliran Ibu Tini. Beliau membaca ayat pertama dengan lancar. Pada ayat kedua, tiba-tiba kepalanya merunduk, tangannya gemetar dan tak lama kemudian beliau terkulai di atas Al-Quran. Beliau wafat saat membaca AlQuran. Masya Allah… Bu Tini ini rumahnya paling jauh dari Pesantren, tapi selalu tercepat datang ke Masjid. Karena beliau yakin, belajar di Pesantren bukan hanya mendapatkan ilmu, tapi juga BERKAH. Sampai beliau meninggal dalam kondisi yg luar biasa indah… diliputi keberkahan…”

Kisah penuh keberkahan yang Nati sampaikan tadi merupakan impian setiap muslim. Keberkahan ini, tidak bisa didapat jika kita hanya belajar agama dari Youtube. Sebab gurunya tidak tahu kita sedang berguru. Selain itu kita tidak mendapatkan pahala dalam setiap langkah menuju majelis ilmu, padahal setiap langkahnya dibukakan pintu surga. Tak juga kita dapatkan pahala berkumpul di majelis ilmu yang dinaungi dan didoakan malaikat.

Setiap usaha yg dikerahkan untuk berguru langsung sangatlah bernilai besar. Berkah ilmu, berkah berguru, berkah tempat ilmu.

Bergurulah, sebab hidup ini perlu ilmu. 
Bergurulah, supaya kita dibimbing, diawasi, diberikan arahan.
Bergurulah, supaya ada yang menilai kita dengan objektif.
Bergurulah, supaya ada yang menyemangati.
Bergurulah, supaya kita mampu mengenal Tuhan.
Bergurulah, supaya kita tidak payah dalam mencari ilmu agama.
 

Masya Allah, aku ingin memiliki private guru, bukan hanya dengan mendengar kajian di masjid atau Youtube. Maka dengan segera kukatakan niat ini pada suamiku. Ya Rabbi, mudahkanlah pencarian guru untuk keluarga kami.

Sebagai penutup, Nati menyampaikan pesan indah dari gurunya,
Hidup ini adalah seni menyikapi takdir Allah. Sikapi dengan sebaik-baik sikap, dan sikap terbaik adalah Husnuzhon.

 

Masya Allah, seperti yang Nati sampaikan, semoga kita bisa terus belajar dengan cara belajar yang benar. Semoga Allah ridho kepada kita.

Teman, yuk kita lukis tujuan hidup kita, untuk bisa selamat menapak bumi ini, untuk pada akhirnya pulang dan kembali pada-Nya.


***
Source                             : Kulwap KIMI @ibumudaindonesia
Photo credit                   : @natisa_23
 
 

You might also enjoy:

21 Comments

  1. Banyak hal yang setuju banget mbak. Kadang orang cuma baca-baca buku udah berani berpendapat. Menurut aku, mengikuti kajian rutin adalah hal yang paling baik dalam menuntut ilmu apapun. Apalagi ilmu agama. Harus bertemu langsung dengan yang ahli dan sudah berpengalaman

  2. Masya allah, Mbak Tini meninggal khusnul Khotimah. Meninggal saat mengaji. Ya Allah, luar biasa. Semoga kita kelak jika meninggal dalam keadaan yang khusnul Khotimah juga.

  3. Aku suka deh pesan untuk mencari guru di majelis ilmu. Kadang kita suka lupa kalau menafsirkan apa yang dipelajari sendiri dari google atau youtube akan terbatas sama hal itu saja dan tak bisa berdiskusi, seperti menelan mentah-mentah ilmunya. Padahal perlu dikaji juga, dan di majelis ilmu bisa lebih terbuka lagi.

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *