Apes

Meski hanya menghabiskan waktu 1 hari 1 malam di Desa Sembalun, aku begitu terkesan dengan suasana alam desa ini. Bayangan saja, malam itu bintang seakan berjarak begitu dekat. Bintang-bintang itu berkelip dengan jenaka, seolah menggodaku untuk terus memandanginya. Pagi harinya, pemandangan yang pertama kulihat saat keluar penginapan adalah Gunung Rinjani yang berdiri begitu kokoh. Udara yang kuhirup sejuk sekali, dan embun seakan melingkupiku dengan kelembutannya yang sangat. Ah, aku rindu Sembalun.

Aku rindu pada masakan khas Sembalun. Masakan yang bahan-bahannya diambil langsung dari tanah Sembalun yang subur. Dengan hanya berbahan sederhana, putri Sembalun mampu menyulap bahan-bahan itu menjadi masakan yang memanjakan lidah. Ah, aku rindu Sembalun. Rindu pada semua yang ada pada Sembalun.
Aku meminta resep Banteng Ngangaq, Apes dan Kelak Batih kepada Ibunda Mas Riyal. Aku mencatat dalam notes di handphone-ku setiap detail resepnya. Bila ada hal yang terlewatkan, aku sampai berkirim pesan kepada Mas Riyal untuk mengirimkan kembali resep-resep itu. Tujuannya supaya masakanku setidaknya mendekati nikmatnya masakan Ibunda Mas Riyal.
Setelah Banteng Ngangaq, aku meminta resep Apes. Apes ini sekilas seperti otak-otak, namun ternyata isinya adalah campuran kepiting dan kelapa yang dibungkus daun pisang. Aroma kepiting dicampur daun pisang yang begitu menggoda. Sudah terbayang rasa nikmatnya dan aku sungguh tak sabar untuk menyantapnya.
APES
Khas Sembalun
Bahan :
– satu buah kelapa (agak muda)
– 10 kepiting kali (air tawar)
Bumbu :
– cabe 10 buah
– bawang putih 9 siung ukuran besar
– bawang merah 8 siung ukuran sedang
– laos 5 gram
– daun jeruk purut 6 lembar
Cara :
– bumbu digiling sampai halus
– campurkan dengan kelapa yang sudah diparut, aduh hingga rata
– bungkus dengan daun pisang secara memanjang dan pipih
– panggang hingga 15 menit atau sampai daun pisang menjadi kehitaman
– apes siap disajikan
Kelak Batih

Kelak Batih serupa seperti sayur kacang merah, hanya saja ada tambahan daun di dalamnya. Bahan utama Kelak Batih adalah buncis dan daun balung adang. Lho, katanya sayur kacang merah tapi kenapa bahannya buncis?

Tenang. Jadi Sembalun itu, buncis bukanlah jenis sayur berwarna hijau dengan batang panjang. Buncis adalah sebutan lokal untuk kacang merah. Jadi kalau ke Sembalun, jangan kaget ya kalau buncis itu adalah kacang merah 😊. Sedangkan daun balung adang adalah sebutan lokal untuk daun ubi kayu.
KELAK BATIH
Khas Sembalun
Bahan :
– 1/4 kg buncis (kacang merah) kering
– 20 lembar daun balung adang (bisa juga menggunakan daun singkong)
Bumbu :
– cabe 5 buah
– bawang merah 9 siung ukuran sedang
– bawang putih 8 siung ukuran sedang
– tomat 4 buah
– terasi 20 gram
– gula merah 10 gram
Cara :
– buncis dimasak selama 15 menit kemudian airnya ditambah secukupnya, tunggu hingga mendidih
– bumbu digiling dan masukan ke dalam air
– setelah buncis empuk, masukan daun balung adang
– kelak batih siap disajikan
Resepnya mudah dipelajari, bukan? Namun sekali lagi, beda koki biasanya beda rasa. Tapi semoga paduan bahan dalam resep ini bisa senikmat kelak batih yang aku rasakan di Sembalun.
Tak ada oleh-oleh yang kubawa dari Sembalun selain resep masakan Sembalun tersebut. Sebab dengan begitu, aku tetap dapat menikmati nikmatnya masakan khas Sembalun, meski aku sedang berada jauh dari desa permai di kaki Gunung Rinjani ini.
***
Tulisan ini merupakan catatan perjalanan Travel Writers Gathering 2015 bersama Badan Promosi Pariwisata Daerah Nusa Tenggara Barat. Tulisan lain terdapat dalam tags ‘TW Gathering 2015’.

You might also enjoy:

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *