Betapa terkejutnya aku ketika menoleh ke belakang. Rupanya, diriku saat ini amat jauh berbeda dengan dulu. Tak usah terlalu jauh, 10 tahun saja. Dari segi mindset dan cara menyikapi keadaan, sungguh amat kentara.
Aku pernah mendengar bahwa ada bagian otak manusia yang akan berkembang semakin bertambahnya usia. Bagian otak ini berperan penting dalam regulasi emosi, berpikir kritis, juga pengambilan keputusan. Nama bagian otak ini adalah prefrontal cortex. Kematangan biologis yang berkelindan dengan pengalaman dan pengetahuan yang di dapat selama bertahun-tahun, menjadikan manusia di atas 30 tahun menjadi lebih bijak dan kata-katanya bernas.
(Disclamer dulu… Perubahan otak manusia memang berkembang setiap waktu. Namun kemampuan untuk berpikir kritis dan menyikapi hal-hal dengan bijak itu perlu dilatih dengan menempuh pendidikan dan kegigihan menghadapi ujian hidup.)
Bagiku, perubahan ini kentara sekali. Maka, inilah 5 Beautiful Mindset Yang Kudapat di Usia 35 Tahun:

Pertama: Cara Menyikapi Tantangan Hidup
Dulu ketika di usia 20-an, aku mudah sekali tersinggung. Goncangan terbesar hadir di awal pernikahanku. Kala itu, aku sungguh tak siap menerima kritik dari suami, pun begitu dengan omongan dari keluarganya. Seperti iritasi, aku menjaga jarak dari mereka. Cara pandang dan budaya yang berbeda, membuatku merasa tidak diterima.
Padahal, mungkin itu karena aku belum mengerti. Setelah Allah mengujiku dengan sakit botulisme di usia 29 tahun, consciousness itu akhirnya datang. Aku jadi mengerti bahwa hidup bukan hanya tentang untuk dipahami, tetapi juga tentang bagaimana agar aku bisa memahami orang lain.
Pelan-pelan, kupoles lagi hati ini. Ikut kajian, membaca buku motivasi, menonton podcast tentang nilai-nilai kehidupan, dan menuangkan segala gundah gulana dalam tulisan bernas. Kucoba untuk memahami cara berpikir mereka, serta mengulik-ulik kebaikannya. Aku jadi mengerti bahwa sebenarnya tidak ada yang salah di sini, hanya berbeda saja dalam menyikapi persoalan.
Sampai akhirnya, kabar baik itu datang. Salah satu mimpiku terwujud, dan itu menjadi kebanggaan bagi mertuaku. Beliau mengatakan kepada siapapun yang beliau temui, bahwa mantunya akan pergi ke Amerika. Teringat dengan jelas, sebelum aku pergi ke Amerika, papa mertuaku mengatakan kebanggaannya padaku. Papa, aku bahkan belum terbang ke Amerika…. Namun papa sudah membuatku terbang sebegitunya…
Di titik itulah, aku merasa dicintai oleh mertuaku. Segala prasangka dan perihku, luluh seluluh-luluhnya…
Kemudian, hadir pula peluang bisnis yang membuatku semakin percaya diri. Lewat jalur itu, alhamdulillah aku bisa memberikan lebih banyak untuk keluargaku.
Proses yang amat panjang. Bertahun-tahun. Sungguh, aku sangat bersyukur telah mengupayakan energi positif hadir dalam kehidupanku. Bahwa benar ketika kita berpihak pada kebaikan, kebaikan itu akan berpihak kembali pada kita.
Kedua: Cara Pandang Terhadap Uang
Sekarang, aku melihat uang bukan hanya sebagai alat pembayaran, tapi juga alat untuk menghasilkan uang.
Saat single dulu, setiap punya uang, aku selalu mendahulukan kepentingan primer dan sekunder, baik untuk diriku maupun keluarga. Ketika punya uang agak banyak pun, orang tuaku menginginkanku membeli rumah KPR. Jadinya, seringkali uang tabunganku nol. Aku hanya mengandalkan simpanan Jamsostek (namanya belum BPJS Ketenagakerjaan waktu itu) sebagai bentuk tabungan.
Ya, bisa dibilang aku tak berupaya untuk menabung.
Ketika menikah, aku sangat kaget bahwa ternyata suamiku punya cara yang ekstrem dalam menabung. Ia rela menekan keinginannya demi menabung. Kehidupan keluarga kami di awal-awal pernikahan pun betul-betul di bawah standar. Kami makan seadanya, jarang main, dan sering memakai barang secondhand. Aku tidak masalah tentang itu, tetapi ketika irit itu adalah untuk pendidikan anak-anak juga, aku mulai protes.
Dengan segala kegelisahan dan kekesalan pada cara suami dalam mengelola uang ini, pada akhirnya aku menemukan maksud baiknya. Bahwa dengan gaya hidup yang sederhana ini, suamiku dapat membeli 2 rumah cash, punya aset saham, melanjutkan kuliah S1, Ners dan S2 di Jepang dengan biaya sendiri. Selain itu, aku pun diberikan modal yang besar untuk usaha jastip. Semua itu kami lalui tanpa punya utang sepeser pun.
Jadi ternyata, uang yang dikelola dengan baik itu, bisa menghasilkan uang lagi.
Aku jadi mengerti bahwa uang yang disimpan dalam bentuk saham dapat memberikan dividen atau keuntungan yang besar, pun begitu untuk uang yang digunakkan untuk usaha yang mana dapat memberikan laba yang tak kalah besar juga.
Sejak mengerti cara mengelola finansial yang baik, aku pun mulai menata hidup dengan menggunakan uangku untuk:
- Diversifikasi investasi (Saham, ETF, Emas, Obligasi, dan Reksadana)
- Investasi leher ke atas dengan mengikuti kursus (SGB VA, Growth Loop, TEFL Academy, ALVA Public Speaking, Kelas Tahfidz)
- Belanja hanya untuk kebutuhan, bukan gaya hidup
- Upgrade skill mendidik agar anak les di rumah bersama ibunya.
- Ketika membeli barang yang diinginkan, barang itu harus menghasilkan uang lagi.
Dengan memiliki mindset finansial seperti itu, aku tak lagi melihat uang sebagai sumber kebahagiaan, tapi hanya sebagai alat untuk mengembangkan diriku lahir dan batin, juga menjadi sebenar-benarnya madrasatul ula untuk anak-anakku.
Di titik inilah aku semakin mengerti bahwa mengikuti cara hidup suami akan membawa banyak kebaikan dan bahwa uang yang diletakkan hanya di tangan (bukan di hati) akan membawa kita menuju akhirat yang indah. Inshaallah.
Ketiga: Punya Mindset Tak Acuh Pada FOMO
Sebenarnya, Fear of Missing Out (FOMO) adalah mindset yang masih kuperjuangkan. Namun untungnya, FOMO atau perasaan takut ketinggalan yang menjangkitiku bukan terkait fashion brand, skincare, cosmetic, atau gadget. FOMO yang kurasakan adalah terkait pendidikan anak-anak.
Lihat anak Ibu A sekolah atau les di tempat bagus, aku jadi mau. Anak Ibu B ikut lomba olimpiade dan bahasa Inggrisnya sudah sangat fasih, aku jadi minder. Lihat hafalan Quran anak ibu B sudah banyak, aku jadi merasa tak becus, dan lain sebagainya.
Punya kecemburuan ke hal yang baik itu sebenarnya baik karena dapat membuat kita termotivasi. Namun akan berbahaya kalau kita tak punya prinsip dan tujuan. Jadinya kita mengikut arah dan trend saja.
Di titik ini, suami berperan kembali. Beliau mengingatkan kembali bahwa langkah-langkah kami itu sudah on track yang mengarah pada tujuan keluarga ini. Membandingkan atau comparing hanya akan mematikan upaya yang tengah dijalani. Kata beliau, “Kalau jadi FOMO, yang harusnya jalan kita itu ke kanan, bisa jadi tiba-tiba belok ke kiri karena ikut tren. Nah, itu jadi malah tidak baik.”
Di titik itu akhirnya aku sadar bahwa sebenarnya yang kami lakukan saat ini adalah cukup.
Toh hidup bukan tentang perlombaan, apalagi jika yang diperlombakan itu adalah anak kita. Hidup sejatinya adalah tentang menjadi hamba Allah yang bertakwa.
Keempat: Punya Mindset Membangun Manusia
Di usia 20-an, mindset-ku hanya berpusat pada dariku dan untukku. Aku selalu ingin tampil terbaik, tak mengindahkan yang lain. Ketika punya anak pun, aku hanya ingin mendidik anakku saja dan buat mereka cemerlang di banding anak lain. Namun ternyata, aku salah besar.
Perubahan mindset ini bermula sejak di Yokohama (5 tahun lalu). Namun semangatnya baru meledak-ledak ketika pindah ke Osaka. Aku baru sadar bahwa di Osaka, perkembangan islam di sini masih ketinggalan jauh dibanding Kanto (Tokyo, Yokohama, Saitama, dsb). Di titik inilah, dengan dorongan dari suami, semangat untuk dakwah itu muncul.
Kami mulai membangun TPA untuk anak-anak di sekitar wilayah kami, membandung pengajian ibu-ibu setiap minggu, sampai membangun komunitas. Aku pun dipercaya untuk menjadi murabbi. Meski kegiatan di luar jadi lebih banyak, tapi ternyata itu tak mengurangi waktu bagiku mendidik anak-anak di rumah.
Malahan, interaksiku dengan Al-Quran jadi semakin sering, menjadi lebih sering membaca buku agama, mendengar ceramah dan podcast islam lebih sering, kemampuan public speaking semakin terasah, dan belajar cara menjadi guru bagi anak-anak.
Lihat, sibuk di luar ternyata membuatku bertumbuh sebegitunya.
Bagi anak-anak pun, mereka punya teman belajar agama setiap Jumat malam. Sambil mengaji, bernyanyi lagu islam, belajar tajwid, bermain… semoga itu menjadi core memory bagi mereka. Bahwa saat mereka kecil, setiap Jumat malam, mereka mengaji di TPA yang ada di lingkungan rumah mereka. Padahal, saat itu mereka tinggal di negara minoritas muslim.
Aku jadi sadar bahwa ternyata… mendidik lingkungan itu ternyata dapat membawa imbas baik bagi diriku dan pendidikan di rumah.
Kelima: Punya Cita Menjadi Penghafal Al-Quran
Di usia ke-35 ini, alhamdulillah, Allah hadirkan cita-cita menjadi hafizah dalam hatiku.
Mungkin ada yang mengatakan bahwa ini terlambat. Tapi aku tak mau menganggap ini terlambat. Sebab sejatinya tak ada waktu terlambat untuk menghafal Al-Quran. Sebab sebenarnya… Apa yang kita cari di kehidupan ini? Uang yang banyak? Bisa keliling dunia? Tumpukan aset dimana-mana? Bisa mewariskan harta yang banyak untuk anak?
Semua itu, semu.
Hal yang patut kita perjuangkan juga adalah bekal akhirat. Allah sudah berikan banyak sarana dan amalan untuk kita menuju akhirat. Namun, ada satu hal yang jangan sampai luput kita upayakan sebab ia akan menemani kita sejak di alam barzah. Ia adalah sahabat kita, Al-Quran.
Di alam barzakh nanti, diriwayatkan bahwa Al-Quran akan menemani kita. Maka itu, seringlah berinteraksi dengan Al-Quran. Dan cara terbaik memperbanyak interaksi bersama Al-Quran adalah dengan membaca dan menghafalkannya.
“Bacalah Al-Qur’an, karena sesungguhnya ia akan datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafaat bagi para pembacanya.” (HR. Muslim no. 804)
Alhamdulillah Allah hadirkan pemahaman itu di usia ke-35 tahun ini. Jujur saja, aku tak memiliki target berapa lama dalam menghafal Al-Quran. Namun, aku ingin benar-benar hadir setiap harinya untuk murajaah dan ziyadah. Aku sangat ingin menikmati momen ini. Bilamana hafalanku belum rampung di akhir hidupku, semoga kelak Allah catat diriku wafat dalam keadaan sedang menghafal Al-Quran. Aamiin.
Beautiful Mindset: Hadiah Terindah di Usia 35 Tahun
Rasanya cukup. Tak mau minta apapun lagi.
Tak perlu bunga dari suami, atau hadiah dari keluarga dan teman-teman.
Punya mindset ini adalah sebenar-benarnya hadiah yang Allah berikan padaku.
Di depan sana, akan banyak ujiannya. Semoga tulisan ini dapat mengembalikanku kembali, pada hadiah yang Allah berikan padaku ini. Inshaallah…
Osaka, 31 Oktober 2026