Siapa yang tahu, ternyata Allah menakdirkanku kembali hidup di Jepang. Negara yang dulu kuimpikan sejak lama, yang pernah kuupayakan lewat jalur beasiswa dan kompetisi blog, yang gambarnya menghiasi wallpaper Chrome-ku.
Gegap gempita dada ini, ketika suami memutuskan untuk membawa kami kembali ke Jepang, setelah 10 bulan tinggal di Indonesia. Bukan berarti tidak betah, hanya saja bekal suami belum cukup untuk melanjutkan kehidupan di Indonesia, sesuai dengan standar yang beliau inginkan. Dan ya… Saya pun berpikir begitu.
Untuk masalah sekolah, misalnya. Di Jepang, anak-anak bisa mendapatkan hak pendidikan gratis di sekolah negeri. Di Indonesia juga gratis, tetapi secara kualitas membuat gigit jari. Banyak sekali hal yang membuatku gusar: tentang jam pembelajaran singkat, anak dan wali murid yang berkata kasar, dan lainnya. Sebenarnya ini bisa disiasati dengan memindahkan anak ke sekolah swasta yang punya value yang sama dengan kami. Namun ya itu tadi, suami punya pemikiran lain.
Begitu pun dengan kondisi rumah yang riuh, karena letaknya di pinggir jalan. Juga sulitnya mengakses transportasi umum. Minimnya ruang terbuka untuk anak-anak bermain. Sebenarnya, kami bisa menyiasatinya dengan mencari rumah yang sesuai dengan value kami. Namun, itu pun tidak mudah bukan?
Terkait rumah ini, suamiku pernah mengatakan, “Kita punya 2 rumah: satu di Bandung, satu di Depok. Namun keduanya itu sebenarnya tidak sesuai dengan keinginan Baba.”
Aku bisa memaklumi itu karena memang rumah impian suamiku adalah rumah dengan kebun yang luas, jauh dari hiruk pikuk jalanan, dan berada di lingkungan yang asri. Dalam artian bahwa selain kawasan rumah itu aman dan nyaman, tetangganya pun memiliki pola pikir maju dan berkembang. Bukan yang sering nongkrong sambil menghisap rokok, misalnya. Namun pertetanggaan yang bersinergi satu sama lain untuk menciptakan sesuatu.
Karena hal-hal itu tidak kami dapatkan di Indonesia, akhirnya kami kembali ke Jepang.

1 Tahun di Osaka: Fokus pada Amal Jama’i
Osaka adalah tujuan kami. Kota baru, perfektur baru, dengan logat bahasa serta perangai yang berbeda dengan Yokohama.
Waktu tempuh Osaka-Tokyo itu seperti Bandung-Yogyakarta. Alhasil, aksennya pun berbeda. Namun itu tak masalah, sebab kami tinggal di kawasan penduduk Indonesia, yang berarti kami tak sendiri dan kami punya peluang untuk membuat sesuatu secara berjamaah.
Alhamdulillah, atas izin Allah yang telah menganugerahkan semangat dalam dada ini, saya dan suami dapat berkolaborasi dengan teman-teman di Nanko untuk membuat kegiatan bermanfaat, yaitu TPA Nanko dan Komunitas Muslim Suminoe Osaka, yang sebenarnya diinginkan sejak lama oleh warga. Namun karena tak ada penggerak, ide itu tak kunjung terlaksana.
Barangkali itulah alasan Allah menghadirkan kami di sini. Pengalaman suami berorganisasi di Kanto, juga saya yang tergabung dalam banyak kelompok pengajian, dapat menyumbang ide dan pergerakan bagi teman-teman di sini. Kami berdua membuat blue print yang akhirnya digerakkan oleh teman-teman di sini. Mashaallah… Sebuah kolaborasi yang sangat indah dan menghangatkan hati. Semoga Allah mudahkan dan kuatkan kami dalam kegiatan jamaah ini.
1 Tahun di Osaka: Mimpiku Kembali ke Mula
Dalam postingan ini, aku mengatakan bahwa mimpiku adalah menjadi ALT di Jepang dan ekskalasi skill dari VA ke Online Course Manager (OCM). Dan ya… aku mengambil sertifikasi untuk menjadi ALT di TEFL Academy, OCM di Growth Loop, juga kelas public speaking di Alva Training. Ya, banyak sekali kelas yang aku ambil dan itu semua sangat bermanfaat untuk mengasah keterampilanku.
Namun dalam perjalanannya, aku tersandung.
Sejak dinyatakan lulus TEFL di bulan Januari 2026, aku mulai mencari peluang sebagai ALT di Osaka lewat 2 dispatch company, yaitu Heart Corporation dan Borderlink. Tahapan wawancara sudah kulewati bersama Heart dan aku dinyatakan lolos ke tahapan selanjutnya yaitu online training. Namun karena lokasi sekolah yang jauh (waktu tempuh 1 jam lebih dari rumah), waktu kerja 9-5 meski itu paruh waktu, dan harus berpindah lokasi sekolah dalam satu hari itu, membuatku jadi ragu untuk melanjutkan.
Aku tak punya SIM, lokasi jauh, anak-anak tak terurus, dan fisikku lelah. Itulah sandungannya. Alhasil, kutolak penerimaan itu dan kuhentikan juga proses pencarian kerja menjadi ALT setelah tahu bahwa sekolah yang bekerja sama dengan Borderlink letaknya jauh dari rumahku.
Jadi, kugunakan sertifikasi TEFL ini untuk membuka les Zippy English di rumah. Ada anak TK dan SD yang les di sini. Meski akhirnya kuhentikan les itu karena mengambil privasi keluarga. Alhasil, saat ini aku menjadi guru Bahasa Inggris untuk anak-anakku sendiri. Alhamdulillah.
Terkait OCM, sebenarnya sejak kuartal I 2026, aku mulai merasa profesi ini tidak cocok untuk ibu 3 anak tanpa ART sepertiku. Bekerja sama dengan klien overseas yang mana time zone-nya ada di belakang Jepang, membuatku seringkali baru bekerja ketika anak-anakku pulang sekolah. Jadi, pekerjaan ini tidak selaras dengan kondisiku sekarang. Maka itu, aku berniat untuk menghentikan profesi ini.
Gaung bersambut. Pada Mei 2026, Notsosin menghubungiku kembali untuk menjadi travel mate Jepang. Kali ini, suamiku mengizinkan. Alhamdulillah aku seperti mendapatkan kebahagiaanku kembali dalam bekerja. Meski lelah dan ada beberapa tantangan, tetapi aku sangat menikmati profesi sebagai personal shopper ini.
Oleh karena sudah bekerja di Notsosin, kuhentikan profesiku sebagai VA. Kukirimkan pesan pengunduran diri kepada Farah Shareef, yang kemudian diterima dengan baik olehnya. Alhamdulillah.
Ada dorongan untuk coba melamar sebagai baito di Jepang ini untuk tambahan uang sebesar 7-8 man setiap bulannya. Namun setelah dipikir-pikir, pekerjaanku di Notsosin akan bersinggungan dengan baito dan energiku sebagai penggerak rumah tangga akan terkuras habis. Akhirnya, entah bagaimana ceritanya, cita-cita lamaku hadir kembali.
Aku ingin menulis buku kembali.
Entah karena aku sudah menemukan safe place-ku, atau karena suasana hatiku yang berubah… sungguh aku tak tahu. Namun, dorongan ini membawaku ingin lebih banyak membaca buku dan menyentuh blog seperti sekarang ini.
Aku selalu merasa bahwa jalanku memutar. Mengapa ketertarikanku kerap berubah-ubah? Apakah karena saat itu aku belum aman secara finansial, sehingga mencari opportunity lain?
Aku sungguh tak tahu.
Namun satu hal yang pasti, semua skill yang kupelajari itu takkan sia-sia. Mereka telah membawaku sejauh ini: kemampuan public speaking-ku dan teaching skill-ku membaik, aku pun jadi mengerti operasional digital marketing.
Ya, saat ini aku sedang kembali ke cita di permulaanku, yakni menjadi penulis baik itu di buku, blog, dan media sosial, serta menjadi guru bagi anak-anakku.
Terkait kuliah, aku cerita lain kali ya. Satu per satu kuurai benang ini, agar cita-citaku dapat membawaku menjadi hamba Allah yang bermanfaat dan kuat baik secara personal maupun materi. Sebab aku yakin bahwa menjadi muslim yang kuat karakter dan finansialnya akan lebih powerful dalam dakwah.
Untuk kalian yang membaca postingan ini, semoga Allah kuatkan kita selalu dalam upaya pencarian jati diri, ya.
Ganbatte kudasai!
–Osaka, 30 Agustus 2026–