Awal Agustus 2026.

Kala itu, ketakutan sedang tertanak dalam jiwaku. Suami yang kukenal gagah, kuat, dan jarang sakit, sudah 4 hari terbaring lemah di ranjang kami.

”Cuma sakit mag. Nanti juga sembuh kalau istirahat,” ujarnya. Namun, sebagai istri, aku merasa ini ganjal.

Sudah 4 hari ini, suamiku tak mau makan. Obat mag Jepang yang katanya ampuh itu pun, tak membuat gejala sakitnya reda.

Di hari ke-5, kondisinya semakin memburuk. Wajahnya pucat. Badannya menggigil hebat. Demam tinggi. Aku semakin panik dan segera meraih ponselku. Nomor 119 sudah kuketik, tetapi ia mencegahku menelepon ambulans.

”Ke klinik bawah saja. Jangan ambulans. Tapi titipkan anak-anak dulu,” katanya.

Saat itu sedang natsu yasumi atau libur musim panas di Jepang. Anak-anak kami yang berusia SD, kami masukkan ke iki-iki, semacam penitipan di sekolah yang tetap buka meski sedang libur panjang. Anak kami yang usia TK, kami titipkan di hoikuen (day care).

Aku memapahnya menuju klinik internis di dekat rumah kami. Firasatku sudah tak karuan. Kondisi seperti ini, tidak mungkin cukup hanya diobati di klinik. Benar saja, ketika kami sampai di klinik, perawat yang mengukur tensi dan suhu tubuh suami terlihat panik.

Suhu tubuh 40,5 derajat dengan tensi hanya 80/60. Perawat segera memprioritaskan kami untuk masuk ke ruang dokter.

”Melihat kondisi Anda, segera panggil ambulans!”

Tak ada prolog atau basa-basi, dokter memerintahkan kami kembali ke rumah, menelepon ambulans, dan mengemas barang.

Sembari memapahnya, kutatap wajah suami yang kian pucat. Seakan mengetahui isi hatiku, ia berkata, “Iya. Baba mau ke rumah sakit. Mama nanti telepon ambulans, ya.”

Di tengah kekalutan itu, aku sedikit merasa lega.

Melaju dengan Ambulans, Menuju ke Rumah Sakit

Sesampainya di rumah, aku segera menelepon ambulans. Dengan bahasa Jepangku yang ala kadarnya, kusampaikan kondisi suami dan alamat rumah kami. Ketika ada hal yang tak bisa kumengerti, suami turut menjelaskan.

Meski kondisi suami sudah sangat lemah, beliau tidak mau petugas ambulans menjemput ke rumah kami di lantai 11. Titik temu akhirnya diputuskan di lantai 1. “Supaya mereka tidak repot,” katanya. Aku tertegun. Di kondisi selemah ini, suamiku masih memikirkan orang lain.

Di perjalanan menuju lantai 1, kondisinya kian memburuk. Pegangan tangan yang ia sangga ke tubuhku, perlahan kian melemah. Aku panik. Dan tepat ketika lift mendarat di lantai 1, suamiku ambruk.

Aku berteriak meminta tolong pada petugas ambulans yang sudah siaga di depan lift. Dengan segera, mereka membaringkan suami di brankar dan membawanya ke ambulans.

Ketika memasuki badan ambulans, bayangan sephia seketika berkelabat di benakku. Adalah aku, enam tahun lalu, yang terbaring di brankar itu. Suamiku, dengan kepanikannya, menemaniku menuju rumah sakit.

Erangan suara ambulans yang memekakkan telinga kala itu, menjadi tanda bahwa aku akan baik-baik saja. Dan kali ini, dalam kondisi kami yang bertukar peran, aku pun berharap yang sama.

”ここに名前と住所を書いてください,” ujar petugas ambulans. Dengan segera, kutuliskan semua informasi yang diperlukan. Petugas nampak sibuk mempersiapkan segala hal, termasuk mencari rumah sakit terdekat yang bisa menangani kondisi suamiku.

Dalam hitungan kurang dari 5 menit, ambulans telah melaju. Tak butuh waktu lama, kami sampai di rumah sakit. Dokter IGD lantas mengambil alih tanggung jawab dengan melakukan pemeriksaan anamnesis, rontgen, dan CT scan.

Sekitar setengah jam kemudian, dokter mendatangi kami berdua. ”Diagnosis Anda adalah apendisitis akut. Dari hasil CT scan, jelas terlihat bahwa radang sudah membesar dan harus dilakukan operasi pengangkatan segera.”

Bergeming. Kami berdua saling bertatapan. Jadi, yang selama ini kami kira mag itu, rupanya sakit usus buntu?

”Apakah bisa dengan diberikan antibiotik saja?” Tanya suamiku.

Dokter menggeleng. Satu-satunya cara untuk sembuh adalah operasi.

”Apakah boleh saya minta pendapat dokter spesialis dulu?”

”Boleh. Namun hemat saya, Anda tetap harus dioperasi. Jika tidak, Anda akan mengalami kondisi darurat,” ujarnya.

Selepas dokter pergi, aku segera mengambil ponselku untuk berselancar. Apendisitis akut adalah kata kunci yang kuketik di mesin pencari. ”Dari semua sumber, operasi memang cara terbaik, Ba,” ujarku. Namun, suamiku masih belum setuju. Ia tetap ingin mencari second opinion.

Selang beberapa menit, dokter memasuki ruangan kembali dengan membawa informasi baru: transfer rumah sakit. Entah apa pasal perpindahan ini, aku tak bertanya terlalu banyak. Apa mungkin karena ruang operasi penuh atau tak ada kamar rawat inap yang kosong? Aku tak tahu.

Hanya menempuh perjalanan 2 menit dengan ambulans, kami sudah sampai di rumah sakit kedua. Rupanya, jarak antara dua rumah sakit ini hanya sepelemparan batu. Rumah sakit yang kedua ini tampak lebih menjanjikan. Fasilitasnya yang lengkap dan bangunannya yang lebih luas, membuatku semakin percaya diri bahwa suamiku ada di tangan yang tepat.

Setelah menyerahkan dokumen transfer dari rumah sakit sebelumnya, suster memanggilku ke ruang pemeriksaan. Di sana, dokter spesialis mengatakan bahwa penanganan medisnya sama, yakni operasi. Namun lagi-lagi, suamiku menolak.

Ia masih keukeuh meminta opsi lain. Tentang apakah bisa diobati dengan antibiotik dulu, apakah operasinya bisa ditunda, dan lain-lain.

”Pengobatan dengan antibiotik memiliki efek yang minimal. Jika operasi tidak segera dilakukan, kemungkinan Anda akan mengalami perforasi. Jika sudah begitu, kondisinya akan menjadi fatal,” ucap dokter.

Di sisi ranjang, aku mulai gelisah. ”Benar, Ba. Tidak ada cara lain. Kalau apendiksnya pecah, bakteri bisa tersebar dan mengancam nyawa,” timpalku. Suamiku terdiam.

Aku tahu kegelisahan dalam hatinya. Bukan tentang pekerjaan dan keluarga saja, melainkan tentang agenda penting yang harus ia lakukan dalam waktu dekat. ”Justru kalau tidak dioperasi sekarang, kondisi Baba akan semakin parah dan semua agenda yang sudah direncanakan akan batal. Mau, ya, dioperasi…,” ucapku penuh harap.

Perlu waktu selama beberapa menit sampai akhirnya suamiku setuju. Mendengar itu, hatiku lega bukan main. Akhirnya…

Perawat segera mempersiapkan hal-hal untuk operasi. Cukup banyak kertas yang harus diisi, termasuk formulir kesediaan operasi.

”Ini pertama kali seumur hidup Baba ke rumah sakit dan harus langsung dioperasi,” lirihnya. Aku tersenyum dan menenangkan hatinya. “Ikhlas, ya, Ba…”

“Iya. Inshaallah… Gimana rasanya bertukar peran, Ma? Dulu mama yang dibawa ambulans dan masuk rumah sakit, sekarang Baba,” ucapnya bergurau.

Di waktu praoperasi ini, alih-alih menyiapkan mental dirinya sendiri, suami justru bergurau dan memastikan kondisi mentalku agar tetap kuat dan tenang bersama anak-anak. Ia pun memastikan kondisi finansial kami, terkait biaya rumah sakit dan kehidupan sehari-hari.

”Satu lagi. Jangan berkabar dulu ke keluarga di Indonesia. Biar Baba saja yang mengatakannya setelah kondisi Baba membaik,” ucapnya. Aku menyetujui soal itu.

Berada di titik ini, aku jadi semakin paham bahwa beban yang dipikul suami, ternyata sangatlah berat.

Bahkan di titik lemahnya pun, suami masih memikirkan hal yang lain. Tentang keluarga, pekerjaan, komunitas…

Tentang dirinya? Mungkin itu ada di prioritas terakhir.

Namun, kondisi ini mengajarkan poin penting bagi suamiku, bahwa memprioritaskan diri sendiri bukanlah egois. Justru seorang nakhoda haruslah sehat dan kuat, agar bahtera yang dikomandoinya, tetap melaju.

Menjadi Kuat Bersama Anak-Anak

Pada malam itu, anak-anak sepakat memperpanjang doa dan tilawahnya. Sulung mengirimkan Al-Waqiah. Tengah mengaji Al-Mulk. Bungsu melantunkan hafalan surat pendeknya. Semua ditutup dengan sholawat dan doa untuk kesembuhan ayah mereka.

Sebelumnya, selepas menjemput anak ketiga dari day care, aku menerima telepon dari rumah sakit. Dokter mengabarkan bahwa operasi sudah selesai dilaksanakan dan kondisi suami baik-baik saja. Katanya lagi, ukuran apendiksnya sangat besar.

Kuhela napas lega. Urusan yang menegangkan ini, nampaknya mulai mereda.

Setelah operasi, suamiku harus menjalani rawat inap selama kurang lebih 4 hari di rumah sakit. Aku memang tak bisa menunggu suamiku yang sedang operasi karena tidak ada yang menjaga anak-anak di rumah. Maka itu, selepas operasi, dokter meneleponku untuk menyampaikan kabar suami.

Tak lama setelah menerima telepon dari rumah sakit, kedua anakku yang lain, tiba di rumah. Dengan hati-hati, kukabarkan kabar ayah mereka hari ini.

”Jadi, waktu Abang pergi iki-iki, Baba dibawa ambulans?”
”Terus kenapa harus operasi, Ma?”
”Gimana cara operasi usus buntu itu, Ma?”

Baiklah, sepertinya pertanyaan-pertanyaan itu takkan habis. Alhasil, kami menghabiskan sore itu dengan membaca dan melihat berbagai video tentang usus buntu, termasuk operasi laparoskopi yang ditempuh suami.

”Jadi, sekarang di perut Baba itu ada 3 lubang, ada yang untuk memasukkan kamera, lalu alat potong, dan satu lagi untuk capitan. Insya Allah pemulihan setelah laparoskopi itu lebih cepat daripada operasi terbuka seperti yang tadi kita lihat,” kataku menutup acara nonton bersama itu.

Anak pertamaku tampak gelisah. ”Tapi… Kita kan minggu depan mau jalan-jalan, Ma. Bisa ga, Baba?”

”Kata dokter, sih, boleh. Tapi ya gimana kondisi Baba. Jadi, kalian doakan Baba terus, ya,” ucapku.

Maka di masa 4 hari rawat inap itu, anak-anak tampak lebih dewasa. Mereka mengaji dan menghafal Quran lebih rajin, sebab itulah nasihat yang diulang-ulang oleh ayahnya setiap kali video call. Mereka pun menunjukkan sikap dewasa, baik itu di rumah maupun ketika menjenguk ayahnya di rumah sakit.

Ternyata benar adanya. Kejadian menyakitkan itu selalu mendidik kita menjadi arif, bahkan untuk anak-anak sekalipun 🙂

Pelajaran Penting dari Kisah Ini

Dari kejadian menegangkan ini, aku jadi semakin paham bahwa aku sangat menyayangi dan membutuhkan suamiku. Rasanya, kejadian ini semakin menguatan ikatan kami. Selain itu, kami berdua pun jadi lebih dewasa dalam menyikapi sebuah kejadian, karena jadi lebih paham bahwa hidup ini penuh dinamika.

Dalam konteks kegawatdaruratan, sebagai diaspora di Jepang, penting sekali agar kita mengetahui kotoba dan cara berkomunikasi dengan ambulans dan rumah sakit. Meski level nihongo masih sederhana, itu tak menjadi penghalang. Saat harus menelepon ambulans dan mengurus administrasi di rumah sakit, kemampuan nihongo dasar, Google Translate dan ChatGPT jadi andalanku. Inshaallah dalam postingan selanjutnya, aku akan bercerita lebih banyak tentang ini.

Pelajaran selanjutnya adalah dana darurat itu sangat penting. Kami menghabiskan sekitar 11 man untuk biaya operasi dan rawat inap selama 4 hari. Biaya yang besar ini, sejatinya adalah hanya 30 persen dari total pengobatan, yang mana 70 persennya ditanggung pemerintah Jepang.

Atas semua kejadian ini, kami merasa lebih dewasa dan paham makna kehidupan. Alih-alih musibah, kami jadikan kisah ini sebagai hadiah terbaik di usia kami yang sudah menginjak pertengahan 30. Semoga Allah jadikan kami menjadi orang yang lebih berserah diri dan semakin bijak dalam menyikapi segala hal. Aamiin…

– Osaka, September 2026 –

You might also enjoy:

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *