Barangkali di antara teman-teman ada yang bertanya (pede banget :p), kenapa sebulan ini aku menulis tentang perenungan? Jawabannya karena aku butuh pengingat untuk menjalani hidup. Dengan menulis, aku bisa lebih memahami maksud nasihat kehidupan. Harapannya agar aku terus semangat dalam menjalani hidup, sebesar apapun halangan dan rintangan yang menghadang.
Aku berkali-kali menulis tentang ‘hidup hari ini’. Dan postingan ini membahas itu lagi, Carpe Diem : menggenggam hari ini. Mengapa aku melulu bahas ini? Sebab aku masih kesulitan untuk merayakan hari dalam setiap detiknya. Seringnya aku mengeluh dan tidak mau melakukan hal yang seharusnya kulakukan.
Aku selalu merasa bahwa hal yang kulakukan sekarang adalah penyebab dari kekecewaan dalam hidupku. Meski benar bahwa aku tidak menyukai ‘sesuatu’ ini, tapi aku tetap tidak boleh menyalahkan ‘sesuatu’ yang aku pilih sendiri. Aku harus ingat apa-apa saja yang kudapat dari ‘sesuatu’ ini, sebab nyatanya aku belum bisa melepasnya. Aku terus mempertahankan. Karena ada ketakutan saat melepasnya, aku akan jatuh ke antah berantah, ke situasi dan nasib yang lebih buruk dari yang kubayangkan.

Lucu ya. Aku lebih suka menjalani hidup yang penuh kekecewaan ketimbang mengambil resiko menjalani hidup yang belum pasti.

Jika memang aku kecewa, seharusnya aku berupaya untuk mencari bidang yang sesuai dengan passion-ku. Nyatanya hingga sekarang upaya itu belum maksimal. Aku melulu terpuruk dalam kekecewaan.
Aku harus bangkit dan memandang hal yang sedang aku kerjakan sebagai hal baik, seperti yang dulu aku lihat. Kata orang, formula ajaib untuk hidup bahagia adalah bersyukur dan hidup hari ini. Nikmati setiap detik yang kita lalui, mau itu sedih ataupun senang. Senyum dan nikmati saja. Mudah? Berdasarkan pengalamanku sih tidak. Aku seringkali kalah terhadap kekecewaan. Tapi bukan berarti aku tidak bisa mengalahkan kekecewaan.
Pada saat aku menyerah pada hidup, aku seringkali menangis. Kemudian yang ada dipikiranku selanjutnya adalah pembiaran rasa sedihku ini sehingga orang-orang akan simpati terhadapku. Nyatanya? Aku malah semakin terpuruk dan tak ada simpati-simpati itu. Pikiran negatif seperti ini adalah pengganggu terbesar dalam hidup.
Aku harus melihat lebih luas lagi. Hampir semua orang sukses mengalami fase kritis dalam hidupnya, juga fase kekecewaan terbesar dalam hidupnya. Mereka mampu melewati itu, maka aku pun bisa.
Kekecewaan hadir akibat rasa syukur yang kurang. Wahai hati, ingatlah kembali. Bahwa apa yang sedang kita miliki dan jalani adalah yang terbaik. Kalau saja kita tahu bagaimana Allah berencana pada hidup kita, hati kita akan luluh demi melihat kecintaan-Nya.
Bersyukur dan bersyukur. Carpe diem. Melakukan hal yang disukai. Hal-hal ini harus tetap kulakukan. Berdoa dan terus berdoa semoga setiap detik yang kita lalui berharga, bernilai ibadah di mata-Nya.

You might also enjoy:

9 Comments

  1. Ijaah semangat yaa... aku bisa mersakan gimana kecewanya jika harus mengerjakan sesuatu yang tidak dicintai. Mumpung masih muda sebaiknya Ijaah sambil cari2 pekerjaan baru saja. Kalau sudah diterima baru out dari pekerjaan lama. Fighting 😉

  2. Sama Zahra, aq jg suka merasa gitu,,,kadang dalam pikiran "andaikan waktu kan berputar kembali, ku kan perbaiki kesalahan2 yg telah diperbuat/memutuskan yg tidak seharusnya...
    Keep spirit dan always bersyukur dan berdoa

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *