Zah aku mau nanya donk. Pendapat kamu setelah baca artikel ini apa?

Aku mengerutkan kening. Link artikel yang disodorkan temanku itu membuatku setengah kaget. Artikel yang berjudul : Facing Hostility After Removing My Headscarf dari sebuah situs feminis dan pluralis Indonesia itu, mau tak mau membuatku ingin segera membacanya. Penasaran. Ingin tahu lebih jauh apa latar belakang penulis sehingga memutuskan untuk melepas jilbab.

Oke. Pertama aku ingin mengatakan bahwa situs tersebut adalah wadah aspirasi bagi wanita yang terpinggirkan secara sosial, bagi mereka yang tidak takut untuk berbeda (tidak sesuai dengan norma yang berlaku), juga bagi mereka yang melakukan hal-hal tabu. Jelas pada saat membaca artikel di website tersebut, aku harus memiliki tameng yang kuat serta memberi ruang sedikit untuk mengerti mengapa mereka menulis hal-hal semacam itu.

Kembali ke artikel tentang jilbab yang diberikan temanku. Aku harus membaca artikel tersebut secara utuh. Jangan lantas mendakwa : Ini orang kok lepas jilbab sih? Aneh! Aku harus mengerti apa yang menyebabkan keputusan ini terjadi.

Kisah dibuka dengan latar belakang keluarga. Penulis mengatakan bahwa Ia berasal dari keluarga Islami yang ketat. Setelah perceraian kedua orang tuanya 20 tahun lalu, ibu si penulis semakin religius dan mulai mengenakan jilbab serta mengikuti kajian Islam eksklusif. Hal ini membuat kehidupan keluarga si penulis menjadi sangat religius.

Penulis kemudian mengenakan jilbab. Tentu saja hal ini merupakan permintaan dari ibunya. Namun yang penulis rasakan adalah sebuah paksaan, bukan keyakinan kuat yang datang dari hati untuk berjilbab. Jika tidak menaati aturan harus berjilbab, dia akan dikucilkan dari keluarga.

Mengenakan jilbab selama 13 tahun, pada akhirnya Ia melepaskannya di tahun 2013. Reaksi dari keluarga, teman dan masyarakat jelas membuat penulis harus memiliki kesabaran ekstra. Ia dicap sebagai seorang yang liberalis dan aneh. Mengapa Ia mau bersusah payah dikucilkan orang lain dengan melepas jilbab? Penulis menyatakan bahwa Ia ingin mencari jati diri dan melakukan sesuatu karena keyakinannya.

Source : Pinterest

Itulah rangkuman cerita artikel tersebut. Pada saat selesai membacanya, aku teringat tentang kisah Marshanda (hampir semua orang tahu beritanya), juga tanteku yang memutuskan untuk melepas jilbab di usia hampir 30 tahun. Alasannya adalah karena calon suaminya tidak ingin dia berjilbab. Aku mengerutkan kening. Selain itu, pasti ada alasan lain. Kalau tidak, mengapa dia melepas jilbab begitu saja? Pasti ada alasan lain, hanya saja aku tak mengetahuinya.

Ada juga kisah salah satu karyawan HRD di perusahaan farmasi multinasional, tempat aku bekerja dulu. Pada saat sesi motivasi, Mbak tersebut memberikan cerita inspiratif (menurut dia) tentang keberanian terbesar yang pernah dia lakukan. Seperti biasanya, aku begitu antusias mendengarkan kisah sukses dari orang-orang yang sudah mapan. Namun celakanya, keberanian yang dia maksud terdengar begitu sumbang di telingaku : keberanian untuk melepas jilbab.

Ia bercerita dengan derai air mata. Berasal dari keluarga yang agamis, Ia mengenakan jilbab semenjak kuliah di salah satu perguruan tinggi islam. Pada saat bekerja, entah apa yang dia rasakan (lebih tepatnya aku lupa apa alasan dia melepas jilbab), ia memutuskan untuk tidak memakai jilbab. Malah, busana yang Ia pakai kini terlihat lebih terbuka. Aku sungguh tak menyangka bahwa Ia dulunya berjilbab.

Lantas apa yang aku jawab dari pertanyaan temanku di atas?

Dengan ilmu yang sedikit bahkan pemahaman agama yang masih sangat rendah, aku berkata padanya bahwa kita harus mengerti dulu alasan di balik keputusan mereka melepas jilbab. Dalam kasus di artikel tersebut, penulis tidak diberikan ruang oleh keluarganya untuk mengemukakan pendapat dan keinginannya. Apa-apa yang dia rasakan adalah sebuah perintah yang tidak menimbulkan keyakinan kuat pada hati : keterpaksaan.

Tugas kita bukanlah mendakwa mereka : Kamu salah! Jelas sudah, bila kita berkata demikian, mereka akan semakin menjauhi kita dan mencari ketenangan di tempat lain. Ada baiknya kita merangkul mereka dengan mendengar dan memahami mereka. Kalimat-kalimat nasihat berjilbab disampaikan nanti, insyaAllah ada waktunya. Sebab aku yakin mereka sudah tahu pasti tentang perintah berjilbab. Yang mereka butuhkan sekarang adalah telinga yang siap mendengar, juga tangan yang siap merangkul.

Memang tidak mudah untuk bersikap demikian. Lisan kita akan otomatis bertanya kenapa dan mengatakan tentang nasihat indah tentang berjilbab. Namun sayang, mereka yang memutuskan lepas jilbab tak membutuhkan itu.

Aku mencoba untuk memahami seperti ini. Siapa tahu, mereka yang memutuskan untuk melepas jilbab, sedang memberi jalan untuk keimanan benar-benar masuk ke hatinya. Sesungguhnya kita tak pernah tahu isi hati seseorang. Tugas kita adalah mendoakan mereka dan menebar rahmat, bukan mencaci maki dan mendakwa orang lain sesat. Ada cara lembut untuk mengajak mereka berbuat baik.

Inilah pendapatku. Bagaimana pendapatmu?

CMIIW ya!

~ zahra rabbiradlia ~ 

You might also enjoy:

7 Comments

  1. Baru baca tulisan ini. Setuju banget, Ijaah..

    "Sebab aku yakin mereka sudah tahu pasti tentang perintah berjilbab. Yang mereka butuhkan sekarang adalah telinga yang siap mendengar, juga tangan yang siap merangkul."

    Pastilah kalau ada teman atau orang di sekitar kita yg lepas jilbab, kita bertanya-tanya dan dalam hati ada terbesit kekecewaan. Tapi kalau kita langsung menghakimi dan menyalahkan (misalnya berniat menasihati tetapi malah dibahas di tempat umum), orang itu justru akan menjauh. Dan karena itu kita malah kehilangan kesempatan untuk mendengarkan dan menebar kebaikan.
    Thanks for sharing ya. 🙂

  2. Assalamualaikum kakak
    Dulu pas aku tk aku bejilbab karna tk itu sekolah agama maka diwajibkn bejilbab pas sd kelas 1-4 aku gk bejilbab pas 5-6 sd aku bejilbab karna ikut ikutan temen kak smpai kelas 1smp pas itu aku sadar kak hati ku belum siap untuk bejilab akumau lepas jilabab tapi takut kata nya kalo sudh bejilbab gk boleh dilepas gimana ya kak sarannya aku bingung kaka

  3. Waalaikumsalam dek.
    Dicek dulu niat untuk berjilbabnya karena apa? Apa karena manusia atau karena Allah? Sebab jika karena Allah, takkan ada rasa ragu lagi. Luruskan niat adik ya. Bismillah. Semangaat 🙂

  4. 🙂 saya bingung...orang lain yang melepas jilbabnya kenapa kita kecewa ? Dan kata-kata sebaiknya 'sebaiknya dirangkul agar kita tidak hilang kesempatan untuk mengajak berbuat kebaikan'....hmmh, tapi buat saya sepertinya justru kita yg egois dong namanya :). Ujung-ujungnya cuma mikirin apa yang bisa kita dapat dari beban moral orang lain, gak tulus dong niat merangkulnya hehe...

    Dirangkul iya, tidak perlu dijudge (pasti), no matter what their reasons... Urusan menasihati agar 'kembali' menurut saya tidak perlu lah 🙂 . Belum tentu kita lebih baik dari mereka yg lepas jilbab, moso kita trus ngerasa berhak menasihati seolah olah kita udah berhasil dapet kavling surga. Menohok ya, Sis komen saya 🙂

    Tapi ya sikap pasif agresif bersikap 'seolah' merangkul untuk kemudian diam-diam punya misi terselubung demi kepentingan diri sendiri dan diatasnamakan untuk kebaikan bersama, brutal sih namanya haha...

    "Nasihat Indah" yang digadang-gadang untuk kebaikan bersama seringnya lebih baik disimpan bagi diri sendiri. They take their own risk. Kalau mereka nya sendiri yang minta dinasihatin boleh lah, tapi ga usah merangkul pake misi terselubung juga haha....

  5. assalamualaikum kak, i really hope kakak baca ini! aku kelas 1 sma dan baru memakai kerudung itu kenaikan kelas 7 smp, akhir" ini selalu ngerasa ingin melepas kerudung tapi at the same time selalu merasa bersalah dan sedih sama diri sendiri karena gabisa nahan godaan. aku butuh banget saran dan kata" penyemangat untuk tetep memakai kerudung ku ini huu:(

    1. Halo maaf ya bukan saya bermaksud sok dakwah. Sebagai sesama muslim kita justru wajib saling mengingatkan karena itu juga diajarkan dalam agama kita (Islam) bukan. Kalau saran saya tetap istiqomah dalam berjilbab itu justru lebih bagus walaupun godaan2 sering mengganggu. Kenapa ? Karena setiap godaan2 itu adalah ujian untuk iman kita apa kokoh atau lemah. Itulah iblis selalu menggoda kita umat manusia sehingga kita terjerumus kedalam apa yg kita anggap itu nikmat tetapi kenikmatan yg secara halu menjauhkan kita dari kebenaran akidah yg justru harus kita junjung tinggi dari perintah Allah SWT dan Rasulnya. Biarkan saja kalau ada orang2 yg mencemooh karena kita berjilbab banyak orang bilang munafiklah, sok alimlah, diabaikan saja buat apa kita pikirkan cemooh orang kalau kita melakukan apa yang mulia dimata Allah SWT. Jilbab juga tidak menjadi alasan untuk menghambat sesuatu seperti berkarir, bewirausaha, bekerja dan sebagainya. Orang yang cerdas dan ingat pada kebenaran sejati khususnya jilbab, lebih mau menolak tawaran job yg melarang jilbab agar tetap istiqomah daripada mengejar duniawi tapi akidah digadaikan seperti barang murahan. Allah tidak pernah menghambat reziki khususnya kepasa mereka(muslimah yang berjilbab).

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *