وَلَقَدۡ ءَاتَيۡنَا لُقۡمَٰنَ ٱلۡحِكۡمَةَ أَنِ ٱشۡكُرۡ لِلَّهِۚ وَمَن يَشۡكُرۡ فَإِنَّمَا يَشۡكُرُ لِنَفۡسِهِۦۖ وَمَن كَفَرَ فَإِنَّ ٱللَّهَ غَنِيٌّ حَمِيدٌ
Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmat kepada Luqman, yaitu: “Bersyukurlah kepada Allah. Dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.”
 
 
Membaca Surat Luqman saat sedang mengandung merupakan sebuah candu. Ingin lagi dan lagi membacanya, menghafalkannya. Setiap ayat yang terkandung di dalamnya merupakan jalan untuk bermuhasabah, sebuah jalan untuk mendidik anak.
 
وَإِذۡ قَالَ لُقۡمَٰنُ لِٱبۡنِهِۦ وَهُوَ يَعِظُهُۥ يَٰبُنَيَّ لَا تُشۡرِكۡ بِٱللَّهِۖ إِنَّ ٱلشِّرۡكَ لَظُلۡمٌ عَظِيمٌ
Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.”
Pikiranku seketika berkelana, seistimewa apakah Luqman sehingga namanya Allah abadikan dalam Al-Qur’an? Rupanya aku menemukan jawabannya. Setiap nasihat yang Luqman berikan pada anaknya merupakan cerminan kebersihan hatinya dan ketundukan yang utuh pada Tuhannya.
Mari membaca surat ini, mari menghafalkannya. Supaya diri yang sering alpa ini mengingat terus nasihat terbaik untuk selalu bersyukur pada-Nya dan tidak menyekutukan-Nya.

You might also enjoy:

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *